Sabtu, 07 Agustus 2010

SORCERER'S APPRENTICE

Kemarin Jumat, pulang jalan sehat aku, ekay, sama icha ke Royal nonton film yang emang udah kita nantikan...SORCERER'S APPRENTICE

Sempet bingung juga maksud apprentice itu apa. Tapi akhirnya terjawab juga di filmnya.
Cerita nih ada 3 penyihir murid Merlin (Itutuh..penyihir di Legenda Arthur yang jenggotnya puanjang. Sampe-sampe di Harry Potter ada kata-kata Demi jenggot Merlin hehehe) yang namanya Balthazar (Nicholas Cage), Horvarth, sama Veronica. Mereka awalnya bersahabat. Tapi si Horvarth sakit hati gara-gara Veronica suka sama Balthazar. Akhirnya Horvarth berkhianat trus ke pihaknya Morgana (penyihir jahaaaat)yang membunuh Merlin. Lahh.. si Veronica terjebak bersama Morgana di Grimhold (semacam patung di dalam patung dari Rusia) ketika menyelamatkan Balthazar. Sebelum meninggal, Merlin nyuruh Balthazar nyari semacam penerus kekuatannya. Dan ternyata si penerus yang disebut Morgarian Utama ini ternyata adalah si Dave Stutler, cowok maniak fisika yang punya lab keren, agak cupu, tapi kuonyool puooll hikikik.
Jadi cerita berkisar tentang bagaimana usaha Balthazar dan apprenticenya (muridnya) yaitu si Dave untuk menyelamatkan Grimhold dari horvarth dan mencegah kebangkitan Morgana.
Menurutku, ini film keren kok. Gak mikir seperti harpot, dan kocaaak banget. Cocok buat film liburan nihhh.

Favoritku..

*Pas Balthazar ngasi buku Encantus ke Dave yang kuuueciill dan ternyata dibuka dan terus dibuka sampai guedeee banget bukunyaa. haha lucuu

*Pas Balthazar ngasi tau Dave foto-fotonya Morgarian, di situ ada posenya Dave yang sumpaaah bikin nguakaaakk

*Pas Dave ngajak ceweknya ke labnya trus nunjukin coils nya yang bisa ngluarin rangkaian nada yang indaaah (kayak lagu gitu)

* Tapi yang paling kuocaaaak itu yaaa ekspresinya Dave itu loooo

Ada quote keren nih..

Dave Stutler: These coils are my life. Two years I'm down here working with them and they're making their own music and it was lost on me and I was never able to appreciate it, until I met you. And I heard you talking about music on your radio show...

[sigh]

Dave Stutler: I'm sappy.

disusul lagu secret dari One Republic (enaak bangeet)

Rabu, 14 Juli 2010

Shutter Island




Sebelum liburan sekolah kemarin, aku sempat pinjem DVD dari Icha, Harry Potter 6 dan Shutter Island. Harry Potter udah aku liat sekitar seminggu yang lalu. Sekarang giliran Shutter Island. Film ini dibintangi oleh Leonardo DiCaprio, Mark Ruffalo, Ben Kingsley, Michelle Williams dan disutradarai oleh Martin Scorsese, sutradara spesialis film-film thriller. Awalnya yang bikin aku pengen nonton film ini adalah adanya duet Scorsese dan Leonardo. Tau kan, ini film keempat mereka bekerja sama setelah Gangs of New York, The Aviator, dan Inception. Dan setiap karya mereka selalu menuai sukses dan banyak penghargaan. Aku sih baru sempat nonton Gangs of New York dan Shutter Island aja.

Shutter Island bercerita tentang dua marsekal AS, Edward Daniels (Leonardo) dan Chuck (Mark Rufallo) yang menyelidiki hilangnya seorang pasien dari sebuah rumah sakit jiwa untuk penjahat di sebuah pulau di Massachusetts. Kejadiannya berlangsung pada tahun 1954. Semakin jauh mereka menyelidiki, semakin banyak misteri yang harus diungkap ditambah lagi dengan halusinasi-halusinasi dari masa lalu Edward tentang istrinya yang selalu menghantui Edward. Apa yang sebenarnya terjadi di Shutter Island? Dan bagaimana semua misteri ini dapat dipecahkan? (tonton filmnya aja)

Kalau pengen nonton film untuk liburan atau penghilang stress, jangan sekali-kali nonton film ini. yang ada malah tambah stres. Sejak awal film, sutradara seakan-akan menggiring kita dengan alur yang ditampilkan di awal film kemudian membelokkan kita ke alur yang sebenarnya di akhir film sehingga membuat kita yang nonton pasti berkata hah? maksudnya?.

Bahkan ada 2 versi ending ceritanya nih. Yang pertama, yang gila sebenarnya emang Edward, karena dia telah membunuh istrinya yang gila, yang telah membunuh ketiga anak mereka dan Edward tidak bisa menerimanya sehingga jadi gila. Lah dia sempat bebas, tapi kambuh lagi. Jadinya pihak rumah sakit Shutter Island membuat sandiwara ada pasien hilang dan menugaskan Edward untuk menyelidiki (sekalian masuk rumah sakit lagi hehe). Atau Edward adalah memang Marsekal yang ditugaskan ke Shutter Island dan di sana dia menyelidiki bahwa pulau tersebut adalah tempat percobaan biologis yang kejam sehingga dia dibuat gila dengan obat, makanan dan rokok yang disediakan di sana agar tidak membocorkan rahasia Shutter Island. Tuh kan bingung yaaa?

Tapi yang jelas, settingnya keren, dan score nya juga pas sama filmnya. Film yang cocok banget untuk penikmat film thriller psikologi yang membutuhkan tenaga ekstra untuk tau apa maksud film ini.

Ada kata-kata keren nih pas di akhir film. Sebetulnya, akhir filmnya juga gak jelas. Edward ngomong ke Chuck rekan kerjanya (menurut Edward) kalo menurut Chuck, dia itu sebenernya psikiaternya Edward. Edward ngomong :

"Menurutmu mana yang lebih baik? Hidup sebagai monster atau mati sebagai orang baik?"

Chord of Strength



Sekitar tanggal 30 Juni kemarin aku beli buku (bisa dibilang biografi) Chord of Strength-David Archuleta. Sebenarnya buku ini sudah terbit sekitar Mei atau Juni gitulah. Di web David Archuleta Indonesia juga sudah ada pre-ordernya lama sebelum terbit. Singkat cerita, aku telat daftar. Sebenarnya takut ribet juga cara pembayarannya. Eh, sekitar pertengahan Juni, di twitter DAI ada order COS lagi. Langsunglah aku daftar, dapet kode booking buku, trus transfer deh.

Buku setebal 248 halaman ini dilengkapi 15 halaman foto full color yang keren. Bukunya hardcover, dapet bonus CD, pembatas buku, sama stiker dari DAI. Isinya, gak usah ditanya. Di setiap bab, ada quotes dari tokoh-tokoh favorit David (sepertinya). Di buku ini juga ada banyak quotes dari David sendiri. Keren kan! Aku yang sudah ngikutin David sejak di audisi nyanyi Waiting for The World to Change nya John Mayer ya sangat heboh sama buku ini.

*Oiya di buku ini aku jadi tau foto-foto kecilnya David, keluarganya, dan saat-saat ketika dia di Star Search.

ini foto David pas umur 3 tahun :)


sama fans-fansnya :)
sama Lady Gaga si Poker Face :D

Selasa, 29 Juni 2010

City of Bones



Cover buku di atas adalah cover City of Bones. Novel karya Cassandra Clare yang diterbitkan pada Februari 2010 kemarin oleh Ufuk Press. Daya tarik buku setebal 660 halaman ini pada awalnya adalah karena cover yang bagus dan adanya komentar dari Stephenie Meyer, penulis Twilight. Yah, inilah yang membuatku segera membeli buku ini. Namun, sinopsis di belakang bukulah yang akhirnya memantapkan niatku membeli buku ini. Cerita fantasi, genre buku favoritku hingga saat ini.

Di luar negeri, sudah terbit City of Ashes dan City of Glasses. Kita tunggu saja kapan akan terbit di Indonesia.
Sinopsisnya nanti menyusul yaa :)

Kamis, 21 Januari 2010

Kena Sydrom Brisingr!






Kemaren barusan selesai aku baca buku Brisingr hasil pinjeman dari Icha. Wah walaupun bukunya tebel minta ampun, tapi sekali baca rasanya gak bisa berhenti. Brisingr adalah buku ketiga dari siklus warisan karya Christoper Paolini. Seperti buku sebelumnya, di buku ini banyak twist yang bikin ngeh ketika membacanya.

Di buku ini, eragon melanjutkan perjuangannya untuk membunuh Galbatorix bersama kaum Varden. Yang menarik dari buku ini adalah ketika eragon ke Du Weldenvarden menemui gurunya, Oromis. Disana diceritakan yang sebenarnya bahwa ayah eragon yang sebenarnya adalah Brom buka Morzan. Jadi eragon dan murtagh adalah saudara seibu tetapi beda ayah. Kemudian Oromis juga menjelaskan tentang Eldunari, jantung dari jantung yang menjadi sumber kekuatan galbatorix sehingga selama ini galbatorix tak terkalahkan. Di sini aku sudah menebak, jangan – jangan Oromis akan memberikan eldunari naga nya yang bernama glaedr kepada eragon. Dan ternyata dugaanku benar. Oromis dan naganya memutuskan untuk menampakkan diri di hadapan khalayak dan memberikan eldunarinya kepada eragon. Di buku ini juga, eragon akhirnya mendapat pedang baru yang dinamainya Brisingr.

Inheritance Cyrcle (siklus warisan) yang semula direncanakan berakhir di buku ketiga, akhirnya dilanjutkan di buku keempat yang hingga saat ini belum disebutkan apa judulnya. Kita tunggu saja.

Tapi setelah membaca buku ini, ada sebuah paragraf yang masih terngiang di kepalaku.Inilah paragrafnya:

Sambil beringsut dari posisinya, Oromis berkata, “Aku tidak bisa berpura-pura menyukainya, tapi tujuan hidup bukanlah untuk melakukan apa yang kita inginkan, tapi melakukan apa yang harus kita lakukan. Itulah yang dituntut takdir dari kita.”

Jumat, 01 Januari 2010

Finding Neverland


Pertama kali tahu film ini pas lagi nyari biodata Johnny Depp. Dan di situ diceritakan kalo om Johnny pernah maen film bareng Kate Winslet. Di sini juga ada Freedy Highmore (yg jadi charlie di film Charlie and the Chocolate Factory). Jadi di film ini ada Willy Wonka dan Charlie.
Semenjak itu aku langsung nyari sinopsisnya. Anyway, film ini juga pernah dinominasikan menjadi film terbaik Oscar.

Bersetting di London 1903, diceritakan ada seorang pengarang drama bernama Jamie Barrie. Di balik layar, dia sedang melihat bagaimana reaksi penonton dengan dramanya. Ternyata banyak orang kecewa dengan drama tersebut. Bahkan ada orang yang tidur sejak awal cerita. Barrie sebetulnya telah beristri. Namun pernikahan mereka tidak bahagia. Mereka sudah lama pisah ranjang meskipun mereka tidak pernah bertengkar. Mungkin karena Barrie selalu hidup dengan segala imajinasinya bahkan ketika sedang di rumah. 

Di salah satu scene diperlihatkan ketika Barrie dan istrinya pergi tidur di kamar yang berbeda dan bersebelahan. Ketika mereka membuka pintu, terlihat dibalik kamar istrinya adalah ruangan kamar biasa. Sedangkan di kamar Barrie terlihat seolah-olah sedang di negeri dongeng (ini salah satu scene favoritku). Karena kecewa drama yang dibuatnya tidak disukai, akhirnya ia mencari-cari ide untuk membuat drama di taman dekat rumahnya. Ketika itulah ia bertemu dengan seorang janda bernama Sylvia (Kate Winslet) sedang bermain dengan 4 orang anak lelakinya yang bernama George, Jack, Peter, dan Michael. Namun Peter agak berbeda. Ia tidak pernah ikut bermain dengan ketiga saudaranya karena masih sedih akan kepergian ayahnya.

Lama kelamaan hubungan Barrie dan Sylvia semakin dekat meskipun ditentang oleh Ibunya Sylvia. Mereka sering berlibur bersama dan memainkan sebuah drama. Di dalam drama tersebut Barrie selalu membayangkan dengan imajinasinya. Jadi kita bisa melihat bagaimana imajinasi dari Barrie tentang drama yang dimainkan bersama keluarga tersebut. Misalnya ketika sedang bermain bajak laut, Barrie membayangkan mereka sedang di kapal sungguhan di tengah laut (lucu loh apalagi yang pas Barrie berdansa dengan anjing kesayangannya). Dari beberapa pertemuan mereka itu, akhirnya Barrie menciptakan sebuah drama tentang Peter Pan di Neverland dan berjanji kepada Sylvia bahwa suatu saat dia akan menunjukkan bagaimana sebenarnya keadaan di Neverland. Sementara itu, istri Barrie merasa bahwa hubungan Barrie dengan Sylvia sudah terlalu dekat. Ia merasa bahwa pernikahan mereka sudah tidak bisa dipertahankan lagi dan akhirnya ia bersama pria lain. Suatu saat ketika Barrie dan keluarga Sylvia sedang menyaksikan drama keempat anaknya, tiba-tiba saja Sylvia mengalami batuk hebat. 

Belakangan diketahui bahwa Sylvia mengidap penyakit pernapasan yang sama dengan yang telah merenggut nyawa suaminya. Ketika pementasan Peter Pan digelar, Barrie sedang mencari-cari keberadaan Sylvia dan keempat anaknya. Namun yang datang hanyalah Peter. (Kisah Peter Pan sebenarnya diilhami dari Peter). Akhirnya ia pergi ke rumah Sylvia. Ternyata keadaan Sylvia semakin parah. Kemudian Barrie memberikan hadiah yang istimewa kepada Sylvia. Di dalam rumah tersebut, Barrie menyiapkan sebuah pertunjukan Peter Pan yang disaksikan Sylvia, Ibunya Sylvia dan keempat anaknya. Dan pada akhir pertunjukan ketika tembok dibuka, terlihatlah sebuah tempat yang benar-benar indah dengan tumbuhan berwarna warni dan peri-peri yang beterbangan. Barrie menggandeng Sylvia berdiri dan mengatakan “That is Neverland”. Betapa terharunya Sylvia (dan betapa terharunya aku melihatnya). Beberapa waktu berlalu dan diceritakan bahwa Sylvia telah meninggal.

Film ini diakhiri dengan adegan ketika Peter dan Barrie sedang berada di taman dan bercakap-cakap dengan berlinang air mata. Finding Neverland adalah film sederhana  dengan latar yang sangat mengagumkan. Di film ini bahkan idak ada ungkapan cinta sama sekali dari Barrie kepada Sylvia. Hanya ketika Sylvia telah meninggal, Barrie berkata kepada ibu Sylvia bahawa ia sangat mencintai anak dan keempat cucunya. Adegan dimana Barrie bersama Sylvia dan ketika Barrie menemani Sylvia yang sedang sakit cukup menggambarkan bahwa mereka saling mencintai. Film ini akhirnya masuk dalam jajaran film favoritku.