Sabtu, 21 Agustus 2010

Astronomi


Setiap mendengar peristiwa yang berhubungan dengan astronomi, entah mengapa sepertinya saraf ingin tahuku selalu mulai mengambil alih. Aku mulai suka dengan astronomi sejak nonton film Petualangan Sherina yang dalam salah satu scene, menampilkan observatorium Boscha lengkap dengan teleskop raksasanya dengan atap yang bisa terbuka. Hoah.

Sejak saat itu, aku mulai suka ke perpustakaan SD ku dan mencari-cari buku yang berhubungan dengan Boscha. Daaannn ketemu! Bukunya tipis, sudah menguning, dan bahkan tidak berwarna. Langsung deh aku pinjam bukunya dan membacanya sampai selesai dan mematenkan impianku "Aku pengen ke Boscha!".

Suatu hari, ketika aku kelas 4 SD, diadakan kunjungan wisata ke KRI di Tanjung Perak dan Planetarium Surabaya. Yaaah selayaknya anak SD, kunjungan kemanapun akan ditanggapi dengan sangat antusias. Dan antusiasku melambung dua kali lipat ketika belakangan aku tahu, planetarium itu bisa dikatakan museumnya astronomi. Namanya juga kunjungan wisata, jadi tetap ada tugas yang harus dikerjakan yang isinya berhubungan dengan rasi bintang. Ada kata rasi bintang Pari, Gubuk Penceng, dan Biduk yang sama sekali tidak kumengerti. Ternyata, di planetarium tidak hanya ada museum, tetapi juga ada pertunjukan yang berdurasi sekitar 10 menit di dalam ruangan bundar seperti tabung dalam keadaan gelap dan kami semua duduk melingkar di tepi ruangan. Pemandu mengajak kami agar menengok ke atas dan lap! kita seakan melihat langit, tetapi dalam jarak beribu-ribu kilometer lebih dekat. Kita dijelaskan tentang matahari, bulan, dan konstelasi bintang. Benar-benar pengalaman yang mengesankan.

Berlanjut ke kelas 5 SD, aku mulai belajar tentang pergerakan benda-benda langit, tentang gerhana, dan dari sanalah aku baru tahu adanya komet, asteroid, dan meteor. Dan yang mengenaskan, di situlah baru aku tahu kalau bintang itu sebenarnya berbentuk bulat seperti planet-planet. Lalu kenapa sejak TK diajarkan bahwa bintang itu punya 5 kaki? *sempat merasa ditipu sama guru TK*

Kemudian ketika SMP, aku mulai suka mengikuti perkembangan dunia astronomi seperti adanya hujan meteor, penerbangan yang dilakukan NASA, mulai mengenal LAPAN, dll.

Hingga SMA, kebiasaan itu terus berlanjut. Dan sebenarnya aku ingin melanjutkan ke perguruan tinggi untuk lebih mendalami. Tapi aku tahu, bahwa di perguruan tinggi, kita tidak hanya memikirkan apa yang menjadi kesukaan kita, tetapi apa yang terbaik untuk masa depan kita. Toh nantinya, banyak orang yang memiliki banyak profesi. Jadi siapa tahu nanti bisa jadi astronom amatiran hehe. Aku tahu, pengetahuanku tentang astronomi sunggguuh sangat sangat sedikit. Tetapi, tetap saja, mimpiku untuk bisa pergi ke Boscha belum surut loh. Sekarang aku juga ingin mencoba menabung barangkali bisa untuk membeli teleskop yang harganya bahkan lebih mahal dari ponselku, itupun yang resolusi dan kualitas rendah. Apa salahnya bermimpi?

Tidak ada komentar: