Minggu, 31 Juli 2011

It All End Here, Harry Potter

29 Juli 2011
AKHIRNYAAA BISA NONTON HARRY POTTER DH PART-2!!!! YANG 3D LHOO GUYS!!! CUMA 30 RIBU LHOO!!!

*oke cukup capslocknya*
 
Well, akhirnya setelah penantian lama yang seakan tak berujung, AKHIRNYAAA BISA NONTON HARRY POTTER DH PART-2!!!! YANG 3D LHOO GUYS!!! CUMA 30 RIBU LHOO!!!

*penegasan supaya lebih meyakinkan*
 
Setelah perdebatan sengit, rumor-rumor yang percaya deh nggak enak didengar, ancaman demo dimana-mana, akhirnya pemerintah bisa sedikit melupakan egonya dan akhirnya bendera putih dikibarkan. aslinya sih masalahnya cuma di postphoned, jadi kita tinggal menunggu sampai kapan penyelesaian masalah perpajakan film selesai, atau malah mereka bikin persekongkolan lagi. Terserah mereka mau ngapain, yang jelas akhirnyaaaa yaah akhirnyaaa bisa juga nonton film hollywood.
 
Setelah filmnya dipastikan masuk, disensor di LSF, dicopy, didistribusikan, jadilah hari Jumat 29 Juli 2011 sebagai release date Harry Potter DH PART-2 di Indonesia. Yuhuu seneng dong ya. Singkat cerita, beberapa anak #Brandcap nobar. Sebelumnya, karena kita takut kehabisan tiket, eccy sama anisah beli duluan tiketnya pas hari Kamis di Ciputra World. Mall yang isinya masih penuh bahan bangunan ini, terkesan kejar target jadinya karena udah buka padahal pembangunannya belum selesai lho. Bahaya! Konstruksinya juga haduuh ngeri. Yang jelas, whoaaa makasih rek udah beliin tiketnyaa emmmuaah :*. Nah, awalnya yang gembor-gembor mau nobar itu Eka sama Icha. Mereka emang freaks banget sama Harpot. Tapi tiba-tiba, pas H-1 si ekay sms AKU GAK BISA IKUT NOBAR SAMA KALIAN HARI JUMAAAT!!! . Nah looh ini pelopornya malah gak bisa hiks. Padahal kalo nonton film sama mereka berdua itu amazing. Kadang gitu ketawa-ketawa sendiri padahal ya bukan adegan lucu. heboh lah pokoknya.

Pas hari H nih, aku pas ada jadwal tes TOEFL di ITS. Berangkat pagi pake putih item dan memutuskan untuk tidak membawa baju ganti karena menurutku gak praktis. Gilak nih tesnya. Udah susah, otak kepikiran nonton harpot teruuus. Pas listening, yang tak denger malah “Harry Potter, the boy who lived” atau “Only I can live foreveeer”. Ah random lah pokoknya.

Akhirnya, jam 13.15 kita nyampe Ciputra World. Sempet heboh nunggu ainun yang tak kunjung datang. Jam 13.30 teeet, film dimulai. Pertama kali nonton 3D nih.

Filmnya selesai sekitar jam 15.30. secara keseluruhan, amazing lah filmnya. Walaupun tetep aja, meskipun satu buku jadi 2 film, masih ada bagian buku yang nggak ada. Padahal itu harusnya jadi adegan yang kereeen. walaupun ini pertama kalinya aku nonton film 3D, ehm sebenernya dulu pernah nonton 3D di wahana taman bermain sih, menurutku harpot masih kurang nih efek 3D nyaa. Cuma di beberapa bagian aja yang berasa. Dan kayaknya karena udah berkali-kali baca bukunya, trus kelamaan liat trailer dan potongan-potongan dari behind the scenenya, jadinya kok agak krik-krik ya. Gak surprise gitu. Terlepas dari itu semua, Harry Potter and The Deathly Hallows part2 is totally awesome!! Adegan yang ada Snape nya sukses bikin terharu. Keren keren keren. Sedih banget ini udah film terakhir. Mungkin butuh puluhan tahun lagi baru ada remake-nya, ya.

Terima kasih buat tante Rowling yang udah nyiptain Harry Potter. Makasih Harry Potter yang udah nemenin dan membuat indah masa kecilku.

Rabu, 27 Juli 2011

Funniest Scene in The Shark Tale Movie

Oke postingan kali ini gak jelas banget.
Jadi gini, kapan hari gitu yaah aku nonton The Shark Tale di RCTI untuk yang keberapa kali lupa aku. Tapi tiap nonton gak pernah dari awal. Ini film animasi tentang kehidupan bawah laut kayak Finding Nemo gitu. Dubbernya artis terkenal lhoo ada Will Smith sama tante Angelina Jolie. Nah pas kapan hari itu, aku liat dari awal. Surprised banget sama film ini. Kenapa?? Karena...
 
Ternyata salah satu dubbernya itu om Martin Scorsese. Tau orang ini kan? Dia itu yang bikin film aneh bin ajaib yang sering bikin migrain kalo abis nonton filmnya contohnya Shutter Island. Orang ini bisa dibilang bestfriendnya Leonardo diCaprio. Dan dia pernah menang Oscar untuk Sutradara Terbaik. Nah yang bikin heran adalah kenapa bisa seorang sutradara se-nyentrik itu jadi dubber?
 
Nah ini yang paling bikin aku shock. Di salah satu scene pembuka, ada adegan pas diceritain tentang kehidupan bawah laut sehari-harinya. Ada ikan pembersih yang lagi makan sampah, trus ada yang ikan guedee gitu jadi bus buat ikan-ikan yang lebih kecil. Ngakak deh pokonya. Nah trus diliati keadaan toko-toko yang jual makanan. Di situ ada toko SUSHI!!! Awalnya biasa aja karena aku belum mudeng maksudnya. Pas tokonya dibuka, yang jual udah siap melayani pembelinya, tapi yang ada malah sepi banget tokonya. Krik krik lah pokonya. Dari situ aku baru nyadar apa maksudnya. Habis bengong lama trus tiba-tiba nguakaaaakk!! Ya jelas aja tokonya sepi. Itu toko SUSHI!! Di LAUT!!! Yang jualan itu IKAN!! Yang dijual juga olahan IKAN!! Dan para penghuni di situ IKAN SEMUAA! *kanibal banget yaaa*. Aku tetep aja ketawa kalo inget film itu sampe sekarang.

Jumat, 15 Juli 2011

The Bartimaeus Trilogy

Akhirnya selesai melahap tiga buku Bartimaeus setelah sekitar setahun cuma jadi penghuni lemari bukuku. Tema yang diangkat tidak jauh berbeda dengan karya fiksi fantasi pada umumnya, namun ada beberapa hal yang merupakan ciri khas buku ini. Secara umum ceritanya berkisar tentang petualangan seorang penyihir muda berbakat bernama Nathaniel bersama jin budaknya, Bartimaeus serta bantuan seorang Commoner yang bernama Kitty untuk mencapai kehidupan harmonis antara manusia dan jin. Perjuangan mereka bukanlah tanpa hambatan. Mereka harus menghadapi pemberontakan para Commoner (sebutan untuk manusia nonpenyihir), konspirasi para pejabat pemerintahan, hingga pemberontakan para jin. Kalau cerita tentang penyihir pada umumnya mendapat kekuatan dari tongkat dan mantra, di buku ini diceritakan bahwa seorang penyihir harus menggambar pentacle (semacam lingkaran yang digambar di lantai, diberi lilin, dupa, dll) dan merapalkan mantra untuk memanggil jin yang diinginkan yang akan mematuhi perintahnya (nggak praktis ya). Jadi intinya ditekankan bahwa penyihir itu sebenarnya sangat bergantung oleh keberadaan jin mereka.

Intrik dan masalah dalam buku ini naik dari buku pertama hingga mencapai akhir yang indah. Buku pertama sangat menarik dan lucu. Kemudian di buku kedua, memang cenderung datar, tapi banyak plotholes cerita di buku pertama yang akhirnya jelas di buku kedua. Dan akhirnya tiba di buku ketiga, benar-benar akhir yang bagus untuk buku fiksi fantasi seperti ini. Dan tentunya melibatkan emosi yang tidak tampak di buku pertama dan kedua. Apalagi ketika menuju bab-bab terakhir. Penokohan juga digambarkan dengan apik. Membuat kita akan membenci seorang tokoh, tapi akan berbalik suka dengan tokoh tersebut pada akhirnya. Cerita dalam buku ini dibagi menjadi dua sudut pandang. Yang pertama sudut pandang orang pertama dan tebak siapa? Yaaa, Bartimaeus. Jadi Bartimaeus bercerita lewat sudut pandangnya. Nah bab-bab inilah yang akan membuat orang seyum-senyum bahkan ketawa sendiri karena gaya bicara Bartimaeus yang kocak, nyebelin, dan cenderung sombong. Sedangkan yang kedua adalah sudut pandang orang ketiga lewat apa yang terjadi pada Nathaniel dan Kitty. Sebenarnya tokoh utama buku ini adalah Bartimaeus (sesuai judulnya). Nah di setiap bab yang pakai sudut pandang Barty, selalu ada footnote yang isinya sejarah, sombongnya Barty, atau kadang malah cuma berisi humor. Hahaha pokoknya lucu deh. Menurutku ini daya tarik paling kuat dari buku ini.

BETWEEN BARTIMAEUS AND HARRY POTTER
Udah gatel banget nih mau nanggepin komen-komen di forum yang membandingkan bagus mana Bartimaeus atau Harry Potter. Menurutku keduanya nggak bisa dibandingkan gitu aja karena sebenarnya sasaran mereka berbeda. Kalau Harry Potter lebih untuk anak-anak dan remaja, Bartimaeus lebih untuk young-adult. Nah kalau di Harry Potter yang baik melawan yang jahat, di Bartimaeus sulit untuk menentukan mana tokoh putih atau hitam. Jin dalam cerita ini juga diceritakan licik dan pembual. Jika Harry Potter adalah tipe orang yang aku-mau-mati-asal-orang-yang-kucintai-hidup, si Nathaniel malah dideskripsikan egois, ambisius, dan segalanya didasari oleh rasa dendam, meskipun pada akhir cerita nantinya dia akan menyadari apa sebenarnya tujuan hidupnya. Well, kalau aku disuruh milih sih, jelas bingung. Dunia Harry Potter itu mengagumkan, tapi Bartimaeus juga sangat menyihirku. I love both of them deh.

Sabtu, 02 Juli 2011

I Heart London

Kalau aku ditanya, jika kamu mendapatkan kesempatan pergi ke luar negeri, kemana kamu akan pergi? Tanpa ragu aku akan menjawab London!
Yak, London itu negeri dongeng, wilayah kekuasaan sang ratu, ibukota penyihir, kota Sherlock Holmes, tanah air para novelis terkenal, habitat Jack The Ripper, museum kastil dunia, dan tentunya pelopor sepak bola dunia (sotoy). Dan itu semua adalah hal-hal yang keren menurutku. Membuatku tertarik dengan dunia luar.

Jadi, semua berawal dari sini. Saat itu aku kelas 2 SD. Pulang sekolah pagi dong yaa gak kayak SMA. Nah pas di Indosiar ada acara anak-anak (lupa judulnya) yang menayangkan tentang kastil-kastil yang ada di Inggris. Bisa dibilang love at the first sight, karena sejak saat itu aku mulai suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan kastil. Nah semakin gede, akhirnya aku tahu tentang detektif Sherlock Holmes yang dulu kukira dia masih hidup yang akhirnya membuatku sangat mengaguminya. Cerita novel Holmes berlatar belakang di Inggris. Rumah dinasnya di jalan Baker Street nomor 221B. Awalnya aku tahu tentang Holmes dari komik Detective Conan. Di komiknya diceritakan bahwa Conan itu nama penulis cerita Sherlock Holmes (udah tahu dia cuma cerita rekaan tapi tetap saja aku mengira Holmes itu nyata). Aku pikir, menjadi detektif itu adalah profesi yang sangat keren. Dari film detektif conan juga aku akhirnya tahu tentang Jack The Ripper (JTR). Nah JTR ini pembunuh sadis yang dari London juga hahaha tapi yang ini memang asli nyata pernah terjadi di London.

Selain itu, banyak sekali novel yang menggunakan Inggris sebagai latar belakang cerita. Dan yah, kebanyakan cerita fiksi dengan penyihir sebagai tema utamanya. Hal inilah yang membuatku menyebut Inggris (London) sebagai ibukota penyihir hahaha. Yang ini tidak kalah menariknya. Sejak SMP aku mulai suka nonton Liga Inggris dan dari dulu sampai sekarang tetap menjadikan Arsenal yang bermarkas di London utara ini, sebagai klub favorit hehehe.

Terlepas dari itu semua, yang benar-benar membuatku terpesona dengan London adalah suasana, musim, dan tempat wisata yang ada di London. Aku selalu bermimpi entah kapan bisa pergi ke Inggris (untuk kuliah, bekerja, ataupun hidup di sana). Aku ingin mengunjungi London Bridge, British Museum, Madam Tussaud’s Museum, Palace of Westminster, Big Ben, Buckingham Palace, naik London Eye, ke Royal Greenwich Observatory, Downing Street No.10 (kalian pasti tau kan tempat ini), Emirates Stadim, Wembley Stadium, dan sejuta tempat memesona lain yang ada di Inggris khususnya London. Selain itu aku menyukai suasana dingin dan bersalju yang sering terjadi di Inggris. Banyak yang berkomentar bahwa London adalah tempat paling murung di dunia karena lembab, kelabu, dan hujan. Nah kebalikannya, aku malah suka yang gloomy begitu.