Jumat, 15 Juli 2011

The Bartimaeus Trilogy


Akhirnya aku selesai melahap tiga buku Bartimaeus setelah sekitar setahun cuma jadi penghuni lemari bukuku. Tema yang diangkat tidak jauh berbeda dengan karya fiksi fantasi pada umumnya, namun ada beberapa hal yang merupakan ciri khas buku ini. Secara umum ceritanya berkisar tentang petualangan seorang penyihir muda berbakat bernama Nathaniel bersama jin budaknya, Bartimaeus serta bantuan seorang commoner yang bernama Kitty untuk mencapai kehidupan harmonis antara manusia dan jin. Perjuangan mereka bukanlah tanpa hambatan. Mereka harus menghadapi pemberontakan para commoner (sebutan untuk manusia nonpenyihir), konspirasi para pejabat pemerintahan, hingga pemberontakan para jin. Kalau cerita tentang penyihir pada umumnya mendapat kekuatan dari tongkat dan mantra, di buku ini diceritakan bahwa seorang penyihir harus menggambar pentacle (semacam lingkaran yang digambar di lantai, diberi lilin, dupa, dll) dan merapalkan mantra untuk memanggil jin yang diinginkan yang akan mematuhi perintahnya (nggak praktis ya). Jadi intinya ditekankan bahwa penyihir itu sebenarnya sangat bergantung oleh keberadaan jin mereka.

Intrik dan masalah dalam buku ini naik dari buku pertama hingga mencapai akhir klimaks yang indah. Buku pertama sangat menarik dan lucu. Kemudian di buku kedua, memang cenderung datar, tapi banyak lubang-lubang cerita di buku pertama yang akhirnya jelas di buku kedua. Dan akhirnya tiba di buku ketiga, benar-benar akhir yang bagus untuk buku fiksi fantasi seperti ini. Dan tentunya melibatkan emosi yang tidak tampak di buku pertama dan kedua. Apalagi ketika menuju bab-bab terakhir. Penokohan juga digambarkan dengan apik. Membuat kita akan membenci seorang tokoh, tapi akan berbalik suka dengan tokoh tersebut pada akhirnya. Cerita dalam buku ini dibagi menjadi dua sudut pandang. Yang pertama sudut pandang orang pertama dan tebak siapa? Yaaa, Bartimaeus. Jadi Bartimaeus bercerita lewat sudut pandangnya. Nah bab-bab inilah yang akan membuat orang seyum-senyum bahkan ketawa sendiri karena gaya bicara Bartimaeus yang kocak, nyebelin, dan cenderung sombong. Sedangkan yang kedua adalah sudut pandang orang ketiga lewat apa yang terjadi pada Nathaniel dan Kitty. Sebenarnya tokoh utama buku ini adalah Bartimaeus (sesuai judulnya). Nah di setiap bab yang pakai sudut pandang Barty, selalu ada footnote yang isinya sejarah, sombongnya Barty, atau kadang malah cuma berisi humor. Hahaha pokoknya lucu deh. Menurutku ini daya tarik paling kuat dari buku ini.

BETWEEN BARTIMAEUS AND HARRY POTTER
Udah gatel banget nih mau nanggepin komen-komen di forum yang membandingkan bagus mana Bartimaeus atau Harry Potter. Menurutku keduanya nggak bisa dibandingkan gitu aja karena sebenarnya sasaran mereka berbeda. Kalau Harry Potter lebih untuk anak-anak dan remaja, Bartimaeus lebih untuk young-adult. Nah kalau di Harry Potter yang baik melawan yang jahat, di Bartimaeus sulit untuk menentukan mana tokoh putih atau hitam. Jin dalam cerita ini juga diceritakan licik dan pembual. Jika Harry Potter adalah tipe orang yang aku-mau-mati-asal-orang-yang-kucintai-hidup, si Nathaniel malah dideskripsikan egois, ambisius, dan segalanya didasari oleh rasa dendam, meskipun pada akhir cerita nantinya dia akan menyadari apa sebenarnya tujuan hidupnya. Well, kalau aku disuruh milih sih, jelas bingung. Dunia Harry Potter itu mengagumkan, tapi Bartimaeus juga sangat menyihirku. I love both of them deh.

Tidak ada komentar: