Sabtu, 27 Juli 2013

Happiness Is a Chemical

On the glass that wraps the telephone box
An impatient bystander knocks
The receiver, put it back back down in it's place,
In the some things should be said to the face,
I'm a believer.

You're stripped of all your worldly powers
And staring at the opposite apartment block for hours,
You say that each window is just a TV channel,
And you'd surrender all your so-called friends for flowers

And you'd rather be sleeping in the paddocks with the horses
While the stars cross the sky’s on their prescribed courses
Can you take me with you when you go?

Because love is just a lazy generalisation that we use for 100 different feelings and as many situations.
Going through each others pockets is not like us and flattery should get you somewhere and your happiness is just a chemical.

A constant feeling you're being watched,
All your good intentions so clumsily botched.
A kiss sent down the telephone line can come out sounding like a bug getting squashed.

And grasshoppers fling erratic parabolas
While you're drowning ants with your can of cola.
Can you take me with you when you go?

Because love is just a lazy generalisation that we use for 100 different feelings and as many situations.
Going through each others pockets is not like us and flattery should get you somewhere and your happiness is just a chemical,
it's just a chemical.


Lirik di atas adalah lagu dari Darren Hanlon, seorang singer dan songwriter spesialis urban folk music dari Australia, judulnya Happiness Is a Chemical. Chris (Native speaker sekaligus guru IALF kelasku) muter lagu ini di kelas Rabu lalu. Awalnya sih buat listening practice, tapi berakhir dengan diskusi panjang tentang happiness. Inilah yang aku suka dari belajar bahasa inggris di sana. Kita tidak melulu dicekoki dengan grammar, listening, reading, writing, dan lain-lain, tetapi juga sering diajak diskusi tentang film, musik, artikel, buku, politik, budaya, dan isu-isu dari negara-negara yang menggunakan British English, seperti Inggris atau Australia.

Nah, pada pertemuan tersebut, kami membahas tentang happiness, topik yang jika kita diskusikan dalam bahasa indonesia saja sudah berat. Pada dasarnya, ada empat level kebahagiaan. Level 1 adalah kebahagiaan secara fisik, level 2 adalah kebahagiaan karena achievement, level 3 adalah kebahagiaan karena bisa membantu orang lain, dan level 4 adalah ultimate happiness, level dimana seseorang memperoleh kebahagiaan secara spiritual, yah mungkin contohnya seorang pendakwah yang bisa menyatukan umat.

Kami pun satu per satu ditanya tentang sesuatu yang membuatmu bahagia. Ada yang menjawab, I choose to be happy, so what makes me happy, is me. Ada yang jawab nonton film, shopping, cokelat, liburan, membeli sesuatu yang baru, berkumpul dengan keluarga, exercises, dan aku pun menjawab, ngobrol dengan teman-teman dengan chatting di social media saja sudah cukup membuatku bahagia.

Nah, lagu ini seakan mengingatkan kita, happiness is just a chemical.
Bahwa sebuah kebahagiaan itu berasal dari hormon dalam tubuh. Jika kita memposisikan diri sendiri untuk bahagia, maka "hormon kebahagiaan" akan diproduksi dan kita pun akan menjadi bahagia. Semudah kita tersenyum ketika menghadapi kekalahan. Sesimpel kita bersyukur telah membawa payung ketika tiba-tiba hujan deras. Lagu di atas seakan menggambarkan bahwa kebahagian itu tidak melulu kita harus memiliki sesuatu yang berharga. Kebahagiaan tidak selalu diperoleh dengan mencapai suatu keberhasilan. Bahwa kebahagiaan bisa berasal dari hal-hal kecil yang terkadang luput dari mata dan kita terlalu sombong untuk menyadarinya.

Tidak ada komentar: