Selasa, 24 Desember 2013

I AM SHERLOCKED

Can't wait any longer for new year's eve!
Bukan, bukan karena aku sudah punya agenda pesta, kumpul-kumpul, atau semacamnya tetapi tepat tanggal 1 Januari 2014 nanti, Sherlock season 3 is going to come up!

"Oh, I may be on the side of the angels, but don't think for one second that I'm one of them"
- Sherlock Holmes


I always love detective stories. Di saat teman sebaya bacanya Donald Bebek, aku bacanya Legenda dan Cerita Rakyat Indonesia. Dan di saat teman sebaya bacanya komik Doraemon atau Shinchan, aku bacanya Conan, DDS, dan novel Sherlock Holmes. Sempat heran juga kenapa Abi dan Umi oke-oke saja anaknya baca cerita detektif. Oke, abaikan kita balik ke serial Sherlock.
Sempat nonton salah satu episode serial Sherlock ini setahun yang lalu (bisa dibilang inilah momen love at the first sight ku ke Benedict Cumberbatch sebelum terpesona kembali di Star Trek : Into Darkness) tapi baru menyelesaikan nonton semua episode kemarin, tentunya berkat hardisk teman. Terima kasih, Ira!


Oke, bisa dibilang ini versi modern dari adaptasi Sherlock Holmes. Meskipun dengan beberapa perubahan, cerita yang diusung tetap sama dan dijamin nggak akan membuat gemas para fans setia Sir Arthur Conan Doyle. Serial ini sudah tayang dua season sejak 2010 dan di setiap season-nya, hanya ada 3 episode dengan durasi masing-masing 90 menit. Sherlock masih saja sang consulting detective yang jenius, cool, sombong dan nyebelin ditemani sahabatnya dr. Watson yang setia dan sabarnya minta ampun. Dan Moriarty, si arch-nemesis nya Sherlock, tetap insane seperti biasanya.

In front of 221B Baker Street
Nggak semua film/serial yang aku tonton akan kubahas di blog kecuali yang sangat menarik. Jadi, apa yang membuat Sherlock versi BBC ini berbeda dari adaptasi lainnya?
Ada banyak aspek yang menurutku membuat serial ini wajib ditonton. Pengubahan setting waktu ke abad 21 bukan malah merusak esensi cerita namun justru membuatnya luar biasa. Tempo cerita yang cepat tapi teratur, scoring yang pas, sinematografi yang indah, clues yang disebar di sepanjang cerita, dan kesenangan menebak pelaku kejahatan benar-benar tersaji dengan epic di serial ini.

Scene ini lucu sekali XD 
But, the most brilliant part of this serial is the cast. Benedict Cumberbatch tampil sangat luar biasa sebagai Sherlock Holmes. He's not freakingly handsome, but he has bloody damn charisma. Suaranya dan aksen britishnya secara otomatis membuatku menjadi salah satu Cumberbabes haha. Perawakan Ben yang skinny dan tatapan matanya yang tajam lebih sesuai dengan Sherlock asli. So, Robert Downey Jr, sorry to say but you'd better be Ironman. Dan untuk sang hobbit Bilbo Baggins dr. Watson yang diperankan Martin Freeman juga berhasil dibawakan dengan keren. Chemistry keduanya ngena, sampai-sampai aku harus menangis di akhir episode The Reichenbach Fall. Lucu juga ketika melihat kebersamaan mereka di The Hobbit : Desolation of Smaug :)))

Oh yeah, I'm one of your Cumberbabes!
Overall, serial ini benar-benar brilian. Setiap misteri di sini tidak akan membuat kita mikir terlalu keras, tetap diselingi dengan humor khas british, dan tentunya pesona Benedict Cumberbatch! Ups sorry, I just can't stop talking about him XD. Ah ya satu lagi, setting Sherlock adalah London, tempat yang paling ingin kukunjungi sekarang juga. So, that's all guys. Happy watching and thinking!

*btw, dimana ya bisa beli long-coat kayak punya Sherlock? 

Minggu, 15 Desember 2013

Still Believe in Happy Ending?

Setelah asal ngopi banyak film dari temen, kemarin secara random aku nonton film berjudul 5 Centimeters per Second, sebuah film anime berdurasi satu jam yang indah tapi... kejam. Setelah nonton, film ini meninggalkan kesan yang  melekat di kepala dan akhirnya mau nggak mau aku mencari info tentang film ini. Well, ini film lama guys sekitar tahun 2007 dan memang mendapat banyak tanggapan positif dari berbagai pihak. Oke, mari kita ke plot ceritanya..


Tohno Takaki  dan Akari Shinohara sudah bersahabat sejak kecil. Mereka sekolah di tempat yang sama dan karena memiliki banyak persamaan, mereka akhirnya dekat. Sampai suatu hari Akira harus pindah ke kota lain. Setahun kemudian tiba giliran Takaki yang pindah ke kota lain, yang membuat jarak keduanya semakin jauh. Jadi sebelum Takaki pergi, dia memutuskan untuk sekali lagi bertemu Akari. Dari situ sebenarnya Takaki sadar bahwa keduanya tidak akan bisa bersama karena jarak, ruang, dan waktu.

Kira-kira begitulah cerita untuk Chapter pertama yang berjudul Cherry Blossoms. Chapter kedua, Cosmonaut bercerita tentang bagian kehidupan Takaki setelah pindah dan menginjak bangku SMA. Dia berteman dengan Sumida Akane, cewek yang diam-diam memendam perasaan ke Takaki. Ugh, this chapter made me cry. Chapter terakhir, Byousoke 5 Centimeters, akan memperlihatkan akhir dari kisah Takaki dan Akari yang kejam namun sekaligus realistis.


Jadi, kenapa film ini begitu fenomenal?


Silakan tonton sendiri betapa indahnya visualisasi yang ditampilkan di sini. Setiap detail, mulai dari cahaya matahari, salju yang berjatuhan, dan bunga sakura yang berguguran terasa sangat nyata untuk sebuah film animasi. Oh, dan jangan lupa musik yang menemani sepanjang dan di akhir film juga sangat keren. Narasi yang disampaikan oleh setiap tokoh di setiap chapter membawa kesan yang dalam ehem.
Best scene: di chapter 2 Takaki dan Akane tinggal di kota yang dekat dengan Space Center. Keduanya melihat roket diterbangkan ke antariksa disusul penggambaran langit lengkap dengan bintang dan galaksi yang sangat breathtaking.


Makoto Shinkai, the author, berkata bahwa 5 Centimeters per Second adalah kecepatan jatuhnya kelopak bunga sakura di musim semi yang sekaligus sebagai representasi kehidupan dan bagaimana manusia yang hidup bersama akan berangsur-angsur berpisah dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri karena halangan rutinitas, ruang, jarak, waktu, dan keadaan.


Jadi selama kita hidup, semua akan terus berjalan entah itu hal yang baik atau buruk. Hidup tidak selalu indah seperti yang kita bayangkan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita bersikap optimis dalam menjalaninya. Meski hanya lima centimeter per detik, suatu hari nanti jarak dan waktu yang kita tempuh akan berakhir pada tujuan, dan mungkin takdir kita.

As the time goes by, life has a way of rearranging itself. People enter your life, and inevitably, they leave as well. Things have a tendency to happen that can turn your world upside down. You'll come to realize eventually, that eventhough things are different, you are as well.

Rabu, 11 Desember 2013

Impulsive vs Passive

"...How happy is the blameless Vestal's lot? The world forgetting, by the world forgot.
Eternal sunshine of the spotless mind. Each pray are accepted, and each wish resigned..."
- Alexander Pope

Sekitar seminggu yang lalu, aku nonton film (lumayan) lama yang digadang-gadang banyak orang sebagai film patah hati terbaik. Bukan, bukan aku sedang patah hati atau gimana, tapi lagi pengen nonton film bergenre romance yang nggak mendayu-dayu. Judulnya Eternal Sunshine of The spotless Mind, yang main Jim Carrey as Joel dan Kate Winslet as Clementine. Cukup butuh perjuangan juga buat dapet versi haram film ini karena jarang yang punya.


Oke, ceritanya sendiri seperti ini. Joel adalah tipe pria yang bisa dibilang pasif. Maksudnya, dia ini cuek bebek, grogian, tertutup, tapi setia dan rutinitas hidupnya tipikal pekerja kantoran yang penuh tekanan gitudeh. Semacam surprise karena muka kocak Jim Carrey yang biasa kita lihat sama sekali hilang. He turns into a serious man, and that's good. Dan mbak Kate Winslet yang biasa kita lihat dengan dandanan elegan, jadi tampil nyentrik, cablak, hampir awut-awutan. Ya walaupun tetap cantik sih. Singkat cerita, mereka bertemu, ngobrol, awalnya kaku, tapi akhirnya saling suka. Begitulah awal kisah antara si impulsif dan si pasif ini. 

Masalah datang ketika Clementine, yang memang gampang bosan, merasa ingin pisah dari Joel dan menghapus semua ingatan tentangnya dengan sebuah teknologi canggih. Diceritakan bahwa teknologi ini bisa menghapus ingatan tentang seseorang gitu. Nah, Joel yang tahu kalau Clem ngehapus ingatan tentang dirinya, ikutan juga ngehapus ingatan tentang Clem. Namun dalam prosesnya, Joel sadar bahwa bukan ini solusi untuk masalah mereka. Ia tahu bahwa ingatan tentang Clementine adalah bagian dari hidupnya yang tidak ingin dihilangkannya.


Simpel dan endingnya pasti sudah ketebak bukan? Yep, tapi bukan di sini poinnya. Tonton dan perhatikan cara mereka dalam menyelesaikan masalah. Perbedaan itu ada bukan untuk disamakan. Perbedaan itu harus diterima dan yang terpenting adalah bagaimana kedua individu tersebut berusaha untuk saling melengkapi satu sama lain. Dan ya, di sini kita akan melihat betapa sebuah penerimaan, sebuah kata "Oke" akan sangat berpengaruh dalam suatu hubungan. Yang terakhir, film ini membuat kita merenungkan pentingnya sebuah memori, entah itu menyenangkan atau menyedihkan.

*By the way, film ini pakai alur maju-mundur. Kalau bingung, perhatikan saja warna rambut Clementine. Pastikan urut warna pelangi dari merah ke ungu - masa lalu ke masa depan. Dan ada juga Elijah Wood, Kristen Dunst dan Mark Rufallo sebagai pemeran pendukung yang masing-masing ceritanya tidak bisa dilewatkan begitu saja.