Jumat, 30 Mei 2014

I Heart London

Hey, mungkin aku berbakat menjadi cenayang. Tiga tahun yang lalu, aku membuat posting-an berikut ini di blog : I Heart London. Sebuah tulisan yang berisi awal mula ketertarikanku dengan Inggris. Sambil menulis, sambil berharap ada orang yang berbaik hati untuk mewujudkan bucketlist nomor satu ku ini. Dan ternyata, kesempatan itu datang tahun ini. *fingers crossed*
Awalnya aku sudah mempersiapkan banyak tulisan tentang "kenapa aku harus ke Inggris". Namun kemudian aku sadar, betapapun banyaknya aku menulis tentang Inggris, tidak akan cukup untuk menjelaskannya. Pada akhirnya, alasan kenapa aku harus ke Inggris terangkum dalam tulisan berikut.

Big Ben, Buckingham Palace, Westminster Palace, London Tower, Windsor Castle
Awal mula jatuh cinta dengan Inggris dimulai dari bangunan dan arsitekturnya. Istana, kastil, bahkan gedung universitas di sana membuat siapapun yang melihatnya seakan sedang berada di negeri dongeng. A girl can dream, right? Jadi, selama Pangeran Harry belum menikah, jangan pernah berhenti berharap, girls!. Namun, pesona Inggris tidak berhenti di sini. Piccadilly Circus, British Museum, Perpustakaan Britania, dan Trafalgar Square, adalah beberapa tempat yang juga tidak bisa dilewatkan. Naik London Eye, keliling kota dengan Double Decker atau London Black Cab, dan merasakan pengalaman masuk Red Telephone Box sambil berharap bisa menuju ke Kementrian Sihir. Bahkan aku rasa, aku bisa duduk berjam-jam di kursi taman hanya dengan memandangi Big Ben.

Sherlock Holmes
Masih teringat jelas dalam ingatan ketika aku menjawab "Sherlock Holmes" kepada setiap orang yang bertanya siapa sosok idolaku. Masih teringat pula saat-saat aku harus merengek kepada orang tua agar dibelikan buku Sherlock Holmes. Tokoh rekaan Sir Arthur Conan Doyle ini telah menemani masa kecilku hingga sekarang. Maka, bukanlah sesuatu yang berlebihan jika aku berharap suatu hari nanti akan mengunjungi rumah Sherlock. Menginjakkan kaki di Baker Street 221B, merasakan nuansa menengangkan ketika memecahkan sebuah kasus, dan mencium asap cerutu Sherlock. Terkadang aku berharap bahwa Sherlock adalah tokoh nyata dan dia sedang bersembunyi di suatu tempat. Bukan hanya untuk dibaca dalam buku, bukan hanya untuk dikenang dalam museum. Dan aku, adalah salah satu Baker Street Irregulars yang harus ke Inggris untuk membantu Sherlock Holmes menyelesaikan kasus. The game is on!

Arsenal
Sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat. Fans Arsenal pasti sangat paham tentang hal ini. Segalanya berawal sembilan tahun yang lalu, yang sayangnya, tepat ketika puasa gelar Arsenal dimulai. Namun dari sekian banyak klub bola, mengapa Arsenal? Karena love at the first sight. Aku menonton sebuah pertandingan bola dan merasakan ada sesuatu yang berbeda dari tim sepak bola lainnya. Semangat juang para pemain muda ditambah permainan cantik yang ditampilkan, membuatku selalu menantikan setiap pertandingan Arsenal. Meskipun seringkali menjadi sasaran empuk bahan becandaan karena performa yang naik turun dan puasa gelarnya, sang manajer selalu yakin dengan kemampuan anak didiknya. Hingga akhirnya penantian itu berakhir ketika Arsenal memenangkan Piala FA 2014. Maka aku harus ke Inggris, ke Emirates Stadium, tempat yang menjadi saksi perjalanan Arsenal. Untuk melihat secara lagsung stadion kebanggan The Gunners. Untuk mengucapkan terima kasih telah memberikan keyakinan bahwa segalanya butuh proses, butuh komitmen, dan kesabaran untuk hasil yang manis. Dan tentu saja, aku harus ke Inggris untuk membersihkan lemari piala Emirates Stadium yang sudah sembilan tahun tidak terjamah.

Harry Potter
Seri Harry Potter menjadi titik awal minatku pada buku-buku fiksi. Aku (dan beberapa temanku) pernah berada dalam fase menjadi fans garis keras Harry Potter. Membaca bukunya berulang kali, menghafal setiap mantra dan ramuannya, menanti kelanjutan buku dan rilis filmnya dengan tidak sabar, serta selalu harap-harap cemas dengan akhir cerita. Harry Potter dan Inggris adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dan bagiku, Inggris adalah negeri para penyihir. Negeri dengan atmosfer magic di setiap sudut kota. Maka, pergi ke tempat asal sebuah masterpiece yang menemaniku tumbuh dewasa ini adalah suatu keharusan. Hey, siapa tahu Voldemort ternyata masih berkeliaran di luar sana, dan butuh Potterheads dari seluruh dunia untuk melawannya?

Sains dan Sastra
Isaac Newton dan Michael Faraday. Dua nama yang begitu sering tercantum dalam buku SMA bahkan hingga di diktat kuliah beserta teori yang mereka hasilkan. Teori-teori yang begitu berpengaruh untuk kemajuan ilmu pengetahuan, sekaligus menyebalkan karena secara tidak lagsung menentukan kelulusan beberapa SKS kuliah. Kemudian ada William Shakespeare, Charles Dickens, Jane Austen, Bronte, C.S. Lewis, Agatha Christie, J.K. Rowling, dan tentu saja favoritku, J.R.R. Tolkien. Tulisan mereka telah menjadi teman setia di saat-saat yang dibutuhkan. Karena mereka pula, aku mulai memberanikan diri untuk menulis, menuangkan pemikiran tentang segala hal yang tidak bisa diungkapkan dengan lisan. Sebagai penikmat buku, menelusuri toko-toko buku di sepanjang Charing Cross Road atau menghabiskan sore dengan membaca buku di The Goerge Inn adalah kegiatan yang wajib dilakukan di Inggris. Inggris menjadi tanah kelahiran dan kediaman tokoh-tokoh penting dunia dan pergi ke sana adalah sebuah penghormatan untuk karya-karya mereka.

Inggris adalah negara pertama selain Indonesia yang aku tahu ketika kecil dan menjadi tempat yang paling ingin aku datangi. Menginjakkan kaki di Inggris adalah sebuah pembuktian, sebuah langkah untuk keluar dari zona nyaman, merasakan dunia luar, meninggalkan putaran rutinitas. Pergi ke Inggris adalah mimpi, yang aku yakin, tidak mustahil untuk diwujudkan.

Go to England is like coming home to a home I never knew I ever had.


 

Tidak ada komentar: