Sabtu, 20 Desember 2014

Seperti Kupu-Kupu yang Berenang

Sang kupu-kupu melakukan rutinitas sehari-harinya. Biasa saja, tanpa kejutan. Tepi jendela rumah adalah tempat favoritnya. Memandangi langit senja yang akan segera menggelap. Cerah, meleset dari ramalan cuaca televisi nasional. Gugusan bintang menyapa, membentang bagai peta menuju alam semesta tak terjamah. 

Tiba-tiba angin bertiup lembut, sedikit menyentuh sayap sang kupu-kupu, sepasang sayap indah yang tak berguna. Menyadarkannya dari lamunan, mengingatkan keberadaanya dalam belenggu rumah yang dicintainya.

Rumah sang kupu-kupu telah menjadi tempat ternyaman dan teraman baginya. Dia diajarkan untuk mengenal dunia dengan melihatnya dari kejauhan. Dibujuk melakukan hal-hal yang semua pihak berkata itu baik untuknya. Bahkan ketika sang kupu-kupu diminta untuk berenang mengarungi lautan dengan gagah, dia hanya patuh begitu saja. Namun, sang kupu-kupu hanya bisa mencapai permukaan. Dia tak pernah mampu menyelami dalamnya lautan. Dia tahu, dia tidak pernah lagi baik-baik saja.

Namun itu dulu. Suatu hari, di tepi jendela yang sama, sang kupu-kupu bertemu kupu-kupu lain. Tidak seindah dirinya, namun terlihat begitu bahagia. Sang kupu-kupu tak sempat bertanya bagaimana caranya terbang. Dia hanya tahu bahwa dia bisa terbang, jauh ke tempat yang tak pernah diketahuinya. Sang kupu-kupu tahu bahwa sayap indahnya bukan hiasan, bukan pula untuk mengarungi lautan. 

Lalu, sekarang sang kupu-kupu bisa apa?

Jika mampu memutar waktu, sang kupu-kupu ingin membatalkan metamorfosisnya. Menjadi kepompong yang tak memiliki kekuatan, tanpa kewajiban, tanpa mimpi, dan tanpa rasa, nampaknya adalah skenario terbaik baginya.

Tidak ada komentar: