Kamis, 31 Desember 2015

Thank you, 2015!

Satu jam menuju 2016. And I'm so grateful for everything happened in this year. Sit nicely and let me tell you some stories.

1. US trip and first experience in MUN

Pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya, ke belahan dunia lain dengan penerbangan hampir 24 jam, dan perbedaan waktu 12 jam. #humblebrag #haha
Sejak bertemu di bulan September 2014 lalu, aku dan sembilan orang delegasi lainnya membanting tulang untuk bisa berpartisipasi dalam Harvard National Model United Nations 2015 yang diadakan di Boston USA. Ah ya, ini adalah pertama kalinya aku ikut MUN. Definitely one of the greatest moments in my life that i'll never forget. Bagaimana tidak, jalan kami tak selamanya mulus. Selama lima bulan, kerjaan kami tidak jauh-jauh dari yang namanya proposal sponsor dan latihan, karena kami tahu, hanyalah uang yang bisa membawa pan*at kami berpindah ke Amerika. Jadi ketika kami akhirnya berangkat, rasanya agak-agak ngga percaya. And for my self, it's a special achievement.

Harvard!

Aku bertemu orang-orang hebat yang punya karakter unik masing-masing. Aku akhirnya bisa menginjakkan kaki di London (walaupun cuma transit). Aku akhirnya tahu Harvard dan MIT, kampus yang mendunia itu. Aku akhirnya berada di Times Square, yang entah telah berapa kali digunakan untuk syuting film blockbuster. Aku akhirnya merasakan salju yang tak beda sebenarnya dengan es serut. Dan aku berpapasan dengan Jennifer Lawrence! (She is real!). Dan masih banyak hal lainnya yang bagiku begitu menakjubkan.


2. Got a professional title after my name, Sarjana Teknik.

Dimulai di September 2011 dan berakhir di September 2015. Dengan segala suka duka kehidupan kampus selama empat tahun, akhirnya lulus juga ahay. Yuk ucapkan alhamdulillah. Menjadi mahasiswi di jurusan yang antimainstream buat perempuan bukanlah hal yang mudah. Sering banget merasa nggak paham yang diajarin di kelas maksudnya apaan. Masa kuliah yang katanya adalah ajang pengembangan diri dan berprestasi, mungkin memang tidak kugunakan dengan baik haha. I'm just not into it. Sebagian besar waktu untuk akademis, lainnya untuk main dan fangirling #ehehe. But i never regret it. 

Asisten Lab Konversi Energi Listrik

Dari sanalah aku bertemu satu angkatan berisi hampir 200 orang yang istimewa. Ah ya, terkadang kepikiran, (oke ini nggak penting) berapa ribu kilometer yang aku tempuh setiap pulang-pergi rumah-kampus selama empat tahun. Belum lagi masa-masa semester delapan dengan tugas akhir yang ngeselin tapi ngangenin kayak kamu #eaaaaa. Selama hampir lima bulan, lab serasa rumah sendiri, rumah serasa tempat singgah. But hey, yang penting kan sekarang sudah lulus.

3. Star Wars! Hype, hype, hype!

A long time ago, in a galaxy far, far away... 
Opening ini selalu terngiang di kepala. Aku sudah pernah cerita kan ya bahwa aku sukaaa dunia astronomi sejak di bangku sekolah dasar. Karena belum terjamah internet, segala informasi aku dapatkan dari buku di perpusatakaan sekolah dan dari TV. Tahun 2005, bertepatan dengan rilisnya Star Wars Eps III, sebuah stasiun TV menayangkan episode-episode pendahulu. Itulah saat pertama kalinya aku tahu Star Wars. Lalu mengapa aku suka? Tentu saja karena berhubungan dengan luar angkasa. Aku dibuat takjub dengan kecanggihan yang ditampilkan meski dengan CGI ala kadarnya. Pas udah gede nih, sebenarnya agak kecewa ketika akhirnya aku tahu bahwa di dunia nyata, ternyata manusia belum pernah pergi ke planet lain, bahkan tidak ke mars sekalipun. Penulis science fiction memang terlalu kok (sejak saat itu jadi cinta dengan science-fiction juga). 

Star Wars The Force Awakens casts

Jadi ketika sekitar tiga tahun yang lalu aku tahu akan ada kelanjutan Star Wars, I'm sooo excited. Dan ketika akhirnya 18 Desember kemarin nonton, awww rasanya kayak jadi anak kecil lagi. Guys, if you haven't seen any Star Wars previous movies, it's never too late to join the fandom and feel the force.

Okay, ternyata panjang juga ceritaku di atas. Banyak sekali pengalaman, pelajaran, dan tentunya keluarga baru yang kudapatkan di tahun ini. I'm so blessed. Terima kasih, 2015. Semoga tahun depan menawarkan lebih banyak hal baru dan menyenangkan lainnya. Lebih banyak membaca buku, lebih banyak nonton film dan fangirling (bersama grup Movie Freaks tentunya), dan lebih banyak mendatangi tempat-tempat baru. Satu lagi, tahun ini hingga tahun depan adalah masa transisi dari mahasiswa ke pasca kampus. Semoga segera mendapatkan tempat yang terbaik aamiiin. Hati ini juga tolong didoakan agar segera berlabuh juga dong, hahaha.

Kamis, 05 November 2015

Review : Mr. Robot (2015)

It's good to be back. Kali ini aku akan sedikit membahas tentang serial yang selesai kutonton sekitar sebulan yang lalu, sebelum wisuda. Nah, sebenarnya bukan sibuk sih -karena in fact, sampai sekarang aku masih nganggur aja di rumah- tetapi memang baru sempat nulisnya sekarang.


Welcome to the fsociety, bitches!

Mungkin memang benar adanya bahwa tv series di Amerika sana sedang ada di puncaknya. Dalam beberapa tahun ini menurutku film-film Hollywood hanya menawarkan visual yang enak dipandang tanpa cerita yang memorable. Berkebalikan dengan itu, tv series justru mampu memberikan cerita yang kuat dan kesan yang dalam, salah satunya yang aku bahas ini.

Konsep cerita dalam Mr. Robot bukanlah sesuatu yang baru. Setelah nonton pasti kalian akan teringat dengan beberapa film sekaligus. Jadi apa yang disajikan dalam serial ini? Mr. Robot membawa konsep kehidupan seorang hacker bernama Elliot Alderson (diperankan oleh Rami Malek) yang ketika siang hari bekerja sebagai di perusahaan keamanan cyber lalu malamnya menjelma sebagai vigilante dengan ilmu hacking-nya. Elliot memiliki kepribadian yang aneh, anti sosial, nerd, tapi jenius banget, sehingga dia harus rutin ke psikiater.

Problematika yang dihadirkan di serial ini beragam, setiap karakter punya andil penting, dan cerita berkembang dengan baik adalah sisi positif dari Mr. Robot. Penyampaian cerita sebagian besar dilakukan dengan bentuk narasi yang disampaikan Elliot untuk dirinya sendiri dan dengan menggunakan kata "you" yang ditujukan kepada penonton. Setiap proses hacking yang dilakukan nggak terkesan ajaib dan memungkinkan untuk dilakukan. Kalau nggak ngerti dengan istilah-istilah di sini (seperti aku), googling dikit juga ketemu kok. Meskipun ceritanya cukup kompleks dan depresif, namun twist yang ada bisa ditebak sejak awal episode. Yah, tapi tetap saja aku yang nonton selalu penasaran bagaimana Elliot akan menyelesaikan segalanya episode demi episode. Ada dua aktor lain yang menurutku stealing sekali, yaitu Christian Slater yang cuocok banget jadi Mr. Robot, dan Martin Wallstrom sebagai Tyler Wellick sang sociopath yang logat swedish-nya haduh banget. Oh satu lagi, ada mbak-mbak hacker berjilbab juga lho di sini.

(Enggak berani cerita banyak takutnya malah bikin spoiler kan nggak asyik ntar)

Terlepas dari itu semua, yang membuat aku jatuh cinta dengan serial ini adalah dialog-dialog yang dengan sarkasnya menggambarkan kehidupan kita saat ini.


Kepribadian Elliot digambarkan sebagai orang yang nggak peduli dengan society dan nggak tau how to fit inHe doesn't do Facebook, Instagram, or anything of the sort and he exposes the lies people tell every day by discovering the worst in them. Berkebalikan dengan kita yang cenderung nggak bisa lepas dari media sosial. Nge-share video-video lucu, mengaharukan, dan inspirasional di Facebook; berkicau tentang segala hal, kultwit, atau twit-war di Twitter; posting foto-foto makanan dan quotes motivasi nan menggelegar di Path; atau upload foto-foto kafe hits terbaru, foto traveling, dan plesiran di Instagram. I'm a social media(s) user too. Makanya ya jleb juga setelah nonton ini.

Dan scene yang menurutku sangat epic adalah saat Mr. Robot speech di area Times Square, yang tentunya bikin kangen New York City.


Is any of it real? I mean, look at this. Look at it! A world built on fantasy. Synthetic emotions in the form of pills. Psychological warfare in the form of advertising. Mind-altering chemicals in the form of... food! Brainwashing seminars in the form of media. Controlled isolated bubbles in the form of social networks. Real? You want to talk about reality? We haven't lived in anything remotely close to it since the turn of the century. We turned it off, took out the batteries, snacked on a bag of GMOs while we tossed the remnants in the ever-expanding Dumpster of the human condition. We live in branded houses trademarked by corporations built on bipolar numbers jumping up and down on digital displays, hypnotizing us into the biggest slumber mankind has ever seen. You have to dig pretty deep, kiddo, before you can find anything real. We live in a kingdom of bullshit. A kingdom you've lived in for far too long. So don't tell me about not being real. I'm no less real than the fucking beef patty in your Big Mac.
--Mr. Robot
Pedih tapi bener banget kan kata-kata si Mr. Robot di atas.

Oh, I really can't wait for the season two!

Minggu, 27 September 2015

Wisuda 112 Teknik Elektro ITS, It's a Brand New Day!

Hari ini tepat seminggu yang lalu adalah salah satu hari bersejarah bagiku, dan mungkin bagi satu angkatan. Akhirnya setelah empat tahun bergerilya kuliah di kampus perjuangan ITS Surabaya kampuse Keputih Sukolilo #maapmalahnyanyi, setelah melewati masa-masa menjadi mahasiswa baru, menjalani suka duka kuliah, tugas, praktikum, asistensi, ujian, dan terakhir yaitu Tugas Akhir, akhirnya nama lahir kami bertambah hurufnya dengan menyandang S.T., Sarjana Teknik. Lumayan rek, nanti nama kalian di undangan nikah jadi lebih keren.

Oke awalnya aku ingin menulis postingan yang lebih serius dan menyentuh gitudeh. Tentang apa makna menjadi seorang wisudawan, bagaimana tanggung jawab moral kita setelah ini, dan lain-lain. Tapi rasanya enggak asik banget di saat kita seharusnya merasa bahagia, malah dibikin galau. So let this post end up the way it is.

It's a new beginning for us. Saatnya memilih jalan hidup yang sebenarnya. Yang sedang dan mau melanjutkan sekolah di dalam atau di luar negeri, semangat rek kalian harapan bangsa. Yang masih kuliah, semuwangato rek, wisuda seru lho. Yang sudah dan sedang bekerja, duitnya ditabung yang bener buat bekal nikah. Yang sedang mencari kerja, semoga cepat dapat (aamiin yang kenceng). Yang sedang bingung menentukan jalan, jangan mudah lelah mencari, karena jalan hidup emang enggak ada di Google Maps. Untuk yang sedang mencari cinta, yaudah sama, jadi aku nggak bisa bilang apa-apa. #maapngomongsampah

Pokoknya ya teman-teman, bangga lho menjadi bagian dari angkatan ini. Terlalu banyak kenangan yang bisa dirangkum dalam satu tulisan.

Dari saat kita disambut setelah resmi menjadi warga Teknik Elektro ITS,


Hingga kita disambut sebagai wisudawan.



Dari jadi panitia SPS 104 dengan seragaman pakai baju-yang-kata-mbak-Vivin-mending-dibakar-aja


Hingga akhirnya sekarang bisa seragaman pakai toga dan foto lengkap ber-24 di SPS 112.


Tidak seperti SPS sebelumnya, kali ini diadakan acara "Wisudawan Party" juga. Isinya ya nggak jauh dari bakar-bakar, akustikan, nonton video yang isinya foto-foto lawas, menerbangkan lampion yang penuh dengan mimpi kita sampe saking beratnya itu mimpi, lampionnya susah terbang, lalu berakhir dengan ngobrol sana sini. Yah, jangan samakan dengan acara jurusan lain lah guys, yang penting kan kebersamaannya.



Lalu saat hari-H, acara yang dimulai sejak jam 8 pagi ini awalnya khidmat. Lalu karena lapar, bosen, atau ngantuk karena ke salon terlalu pagi, yaudah ada yang lanjut tidur, ngobrol, kipas-kipas, dan menghirup udara segar di luar graha sembari nungguin bagi-bagi ijazah kepada lebih dari 1000 wisudawan.


Pas akhirnya keluar graha, eh disambut kalimat seperti ini :(


Buat yang cewek, kami naik becak berdua-dua, sedangkan yang cowok naik truk dan pick-up.



Lalu ketika kami sampai di jurusan,






Dan dimulailah sesi perebutan backdrop untuk foto-foto. Bayangkan saja, satu wisudawan berfoto dengan orang tua, adek, pacar, temen TK, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman satu bidang studi, teman satu lab, teman satu organisasi. Lalu dikali dengan banyaknya jumlah wisudawan mulai dari S1, S2, dan lintas jalur. Bayangkan ramainya. Bayangkan.

Asisten Lab KE 2011-2012-2013. Banyak yang ilang nih tapinya.


Nah inilah foto satu angkatan yang aku sangat sangat di belakang sampe nggak keliatan. Bahkan heels 7 cm pun enggak memberikan efek apapun.


Sukses untuk semuamunya ya, dulur-dulurku!

Foto diambil dari dokumentasi pribadi dan Himatektro. For more photos, visit SPS 112 Himatektro.

Sabtu, 26 September 2015

Sunrise di Gunung Bromo

Ada yang beda dengan serah terima jabatan koordinator asisten kali ini. Kalau biasanya dilakukan di lab, kali ini kami sertijab di Bromo. Anti-mainstream, kan.

Jadi awalnya rencana liburan ini hanyalah sekadar wacana belaka. Pengen ke Bali lah, Lombok, Dieng, Malang, tapi ya enggak jadi-jadi. Kayaknya memang harus tanpa rencana terus langsung berangkat begitu saja sih, ya. Jadi setelah rapat evaluasi dan musyawarah penentuan koordinator asisten yang baru, malamnya kami memutuskan untuk menuju ke Bromo.

Rombongan dibagi dalam tiga mobil dan kami berangkat sekitar jam 10 malam. Karena yang nyetir pake NOS semua, perjalanan malam itu relatif singkat. Jam 2 dinihari kami sampai di lokasi. Sekitar jam 3, kami mulai menuju ke Bukit Penanjakan. Untuk bisa melihat sunrise di Bromo, ada dua tempat yaitu Penanjakan 1 dan Penanjakan 2. Aku juga enggak paham kenapa ini anak-anak pilih Penanjakan 2. Ngikut ajalah saya ini pokoknya. Dari awal sudah banyak yang nawarin jeep, ojek motor, atau kuda. Tapi karena kata para pria jalannya ntar cuma sebentar, maka aku percaya saja dan siap berjalan kaki. Ternyata nggak sedekat yang kupikirkan haha, jadi buat yang gampang capek atau mau ngejar sunrise banget, sebaiknya menggunakan jasa transportasi saja.

Gunung Bromo termasuk gunung yang mudah dan aman untuk ditaklukkan. Ya, karena memang tujuannya untuk wisata sih, jadi akses untuk ke sana sudah diatur. Sampai di atas pun sinyal ponsel tetap kenceng.

Jadi gimana rasanya?

Yang pertama kali kurasakan adalah takjub. Langitnya cerah walaupun si bulan sedang dalam siklus yang cukup penuh. Jadi bintang-bintang keliatan buanyak #terharu. Yang kedua adalah capek karena aku salah kostum pakai jeans dan wakai. Kalau masalah dinginnya, nampaknya lemak di badan cukup bekerja optimal.

Silakan dinikmati foto-foto perjalanan kami berikut. Ceritanya sambil nyobain si mirrorless gitu.

Pas awal sampai di Penanjakan 2. Mataharinya udah ngintip aja.

Kaki langit #ahsek

*no caption*

Inilah tujuh cewek yang walaupun sempat sambat terus, tapi akhirnya sampai juga haha. Ada yang sampe nangis juga sih.

Foto wajib

Foto wajib dalam jarak lebih dekat

Pakai mode sunset di pilihan smart mode-nya Samsung NX3000

Desir pasir di padang tandus~ Segersang pemikiran hati~ *brb pakai cadar*

Kiri - Nanda, Kooras baru, Kanan - Kooras lama-yang-katanya-punya-katalog-cewek-seITS-dan-sekitarnya-yang-siap-disepik-kapan-aja.


Sayang kalian, rek :")

Misty mountains

Udah agak siang. Mulai panas dan kami mulai turun dari Penanjakan

Yuk pulang~

Karena keterbatasan waktu (ngejar sholat Jumat ceritanya), sudah lelah, dan ga ada budget, maka kami tidak pergi ke kawah atau ke pasir berbisik atau ke bukit teletubbies. Jadi sebenarnya kami belum ke Gunung Bromo-nya itu sendiri hahaha. Next time boleh lah ya!

Jumat, 24 Juli 2015

Review Film Januari-Juli 2015

Akhirnya sampai di pertengahan tahun 2015. Hingga bulan Juli ini, film-film yang menghiasi bioskop cukup banyak yang bagus. Namun karena repot ini-itu, ada beberapa film yang terlewati. Paling nyesel tentu saja karena enggak nonton Mad Max: Fury Road. Sedihnya ampe sekarang. So, rapatkan barisan, inilah sedikit pendapat saya tentang film yang aku tonton pada Januari-Juli 2015.

1. Fifty Shades of Grey 4,5/10
Pertama kalinya nonton di luar negeri dong. Nontonnya di New York dong. Mumpung film ini enggak masuk di Indonesia, maka dalam kesempatan berkunjung ke US kemarin, nonton film ada dalam itinerari. Keputusan untuk tidak mengizinkan film ini masuk Indonesia memang sudah benar kok. Bukan karena kontennya dewasa, bukan, namun karena cerita yang tidak penting. Jauh sebelum adanya film ini, Fifty Shades of Grey adalah fanfiction dari Twilight Saga, yang karena banyak penggemarnya, akhirnya dijadikan buku. Akupun membaca salah satu bukunya. Lalu bagaimana dengan filmnya? Kata teman-teman yang nonton juga, filmnya nanggung. Mending sekalian aja nonton film biru.

2. Kingsman: The Secret Service 7,8/10
Selalu senang dengan film tentang mata-mata begini. Film ini bercerita tentang Eggsy yang diperankan oleh Taron Egerton, direkrut oleh Hart (Collin Firth) sebagai agen rahasia untuk sebuah misi penyelamatan dunia. Cerita yang simpel kan? Namun karena yang bikin adalah orang yang sama dengan yang bikin Kick-Ass, maka film ini penuh joke-joke pengocok perut dan nggak garing. Agak kesel juga sama LSI karena ternyata ada satu scene berdurasi yang cukup panjang dipotong tanpa ampun. Tapi tetap bisa ditonton di Youtube kok. Kesimpulannya, Kingsman: The Secret Service adalah anak bawang yang harus diperhitungkan.

3. The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water 7,0/10
Kebetulan nonton yang 3D karena traktiran satu lab. Guyonannya tidak sejayus seri kartun SpongeBob yang di TV sih, tapi ada beberapa joke yang emang bikin ngakak. Dari segi cerita juga lebih suka The SpongeBob SquarePants Movie (2004). Versi seri animasinya sudah yang terbaik lah, ya. 

Who lives in a pineapple under the sea?
"Spongebob Squarepants"
Absorbant and yellow and porous is he!
"Spongebob Squarepants"

4. Run All Night 6,5/10
Liam Neeson kembali beraksi kejar-kejaran. Tapi bukan, ini bukan kelanjutan seri film Taken, kok. Kali ini Om Liam menjadi pembunuh bayaran yang sudah tobat, namun harus berhadapan sekali lagi dengan penjahat karena keamanan keluarganya terancam. Premis khas film om Liam kan ya haha. Dan overall, tidak ada yang istimewa dari film ini. Seru dan cukup tersentuh dengan sisi drama keluarganya, tapi yaudah setelah nonton orang akan lupa. Akhir kata, nasibnya sama saja dengan A Walk Among The Thombstones. Mungkin Om Liam ingin lepas dari imej Taken, tapi jangan gini juga dong Om premis dan eksekusinya.

5.  Insurgent 6.0/10
Sekali lagi, berharap terlalu tinggi itu tidak baik. Sekuel Divergent ini bahkan lebih parah daripada pendahulunya. Enggak ngerti lagi deh. Sayang sekali padahal ada deretan pria cute seperti Theo James, Ansel Elgort, dan Miles Teller. Ah ya, si mas Teller ini stealer banget di Insurgent. Pengen njitak tapi lucu haha bingung kan. Yasudah, mari kita tunggu Allegiant yang ternyata akan dibagi dalam dua part. Sejelek apapun tapi kalau adaptasi buku young-adult emang enggak pernah kapok untuk nonton.

6. Furious 7 8.0/10
Ketawa, tegang, terharu, tegang lagi, ketawa, mbrebes mili, mulai menitikkan air mata, nangis. Kira-kira begitu alur hati ini ketika nonton Furious 7. Aksi balapan yang menggila itu mungkin sudah seringkali kita tonton baik di prekuel atau film aksi lainnya. Namun seri ini beda, jelas sangat beda. Farewell dari Paul Walker tentu saja adalah daya tarik utama bagi penonton. Paul bukanlah aktor favoritku, tapi aku suka dengan pribadi dan karyanya. Dan jelas kepergian Paul adalah kehilangan yang besar khususnya untuk penggemar franchise Fast and Furious. Goodbye, Paul Walker! :")

7. The Avengers: Age of Ultron 8.0/10
Tipikal film Marvel. Haha jujur bingung harus komentar apa. Superheroes dengan berbagai keahlian bersatu menjadi satu menjalankan suatu misi, yasudah dari segi efek visual pasti jaminan bagus. Dari cerita juga oke, ada sisi emosional tiap avenger yang ditunjukkan dengan apik. Selain itu ada dua tokoh baru si kembar Quicksilver dan Scarlet Witch yang penampilannya punya kesan tersendiri. Ah ya, tiap lihat si Stark sama Steve bawaannya pengen Civil War cepat tayang!

8. Jurassic World 8.2/10
Kalau raptor aja nurut sama Chris Pratt, gimana para cewek? Di opening film, terdengar score khas film Jurassic Park, yang bikin pengen balik jadi anak kecil aja. Jurassic Park adalah salah satu film favoritku, dan Jurassic World yang semacam remake (plot cerita sama, hanya lebih modern) ini sanggup mengobati kerinduanku dengan aksi Dr. Alan Grant. Ditambah lagi dengan penampakan taman Jurassic World yang indah serta mas Chris Pratt yang indah juga muka dan badannya. Pas.

9. Ant-Man 8.1/10
Ant-Man adalah pertaruhan lainnya yang dilakukan Marvel setelah Guardians of The Galaxy. Dan seperti juga Guardians of The Galaxy, pertaruhan itu berhasil. Ant-Man, yang merupakan epilog dari fase kedua Marvel Universe jelas tidak seterkenal dan semegah Iron Man atau bahkan The Avengers, namun kisahnya manis dan menyenangkan. Humornya juga pas dengan seiring berjalannya cerita, kadang cerdas, kadang sarkas. Ketiga teman Scott yang tengil itu jelas stealer, terutama si Dave. Namun seperti kekurangan film Marvel lainnya, si tokoh jahat kisahnya kurang epic. Ohya, di sepanjang film banyak easter-eggs untuk film-film Marvel selanjutnya. Dan seperti biasa, jangan beranjak terlalu cepat ketika film berakhir karena ada dua post credit scenes yang salah satunya menunjukkan scene dari Civil War. I really can't wait!

Sampai bertemu di review ala kadar selanjutnya!

Senin, 20 Juli 2015

Barnes & Noble, Toko Buku Idaman di Negeri Paman Sam

Belum banyak tempat yang aku datangi. Namun di setiap tempat baru, aku selalu berupaya meluangkan waktu untuk ke toko buku atau paling tidak ke perpustakaan umum khas daerah tujuan (maklum, masih percaya bahwa tempat yang bagus haruslah punya toko buku yang bagus pula). Dari perjalananku ke USA beberapa bulan yang lalupun, toko buku ada di bucketlist. Barnes & Noble, sebuah toko buku terkenal asal sana, direkomendasikan oleh salah seorang teman untuk dikunjungi.

Barnes & Noble terasa begitu berbeda dengan toko buku lain. Entah karena letaknya di luar negeri sehingga suasananya beda, atau memang pengelolaannya yang bagus. Ada dua cabang Barnes & Noble yang kukunjungi di dua kota, yang pertama di The Shop at Prudential Center, Boston dan yang kedua adalah di Fifth Avenue, NYC. 

Bentukan toko Barnes & Noble dari luar

Di tempat pertama, Barnes & Noble menjadi tempat pelarian jika committee session sudah terasa tidak kondusif. Kasarannya, ini tempat untuk kabur haha. Letaknya semacam di dalam sebuah mall. Di sebelahnya ada Starbucks yang memiliki akses langsung untuk masuk ke toko buku sehingga di sana kita bisa membaca sambil menikmati kopi. Selain itu, di depannya ada outlet Cheesecake Factory yang enak tak terkira. Kebetulan juga saat itu Valentine, jadi Cheesecake Factory sedang banyak pengunjung dan mall penuh dengan pasangan yang saling menghangatkan diri di kala badai salju. Kan bikin iri. 

Sempat ditegur petugas toko dengan "Sorry miss, you're not allowed to take a picture inside the store", ketika mengeluarkan kamera, maka gambar-gambar berikut diambil dari Google yah.

Penataan rak bukunya rapi sekali kan 
Nah, ini Starbucks di sebelahnya.
Di dalem banyak poster bergambar cover buku-buku klasik :3
Kalau ini Cheesecake Factory di depan Barnes & Noble

Yang paling menarik tentu keberadaan Starbucks, Cheesecake Factory, atau outlet coklat Godiva di dalam toko. Bukan berarti di Indonesia tidak ada. Di Books and Beyond, Tangerang ada Starbucks juga di dalamnya dan di toko buku Uranus, Surabaya juga ada Libreria Eatery di samping tokonya. Bedanya nih, kafe dan outlet lain di Barnes & Noble tersebut memang ditujukan untuk pengunjung yang ingin membaca atau mengerjakan sesuatu sambil sekadar minum kopi atau makan kue, bukan untuk gegayaan foto dan do nothing but haha-hihi-selfie or check-in di sana.

Satu lagi, di Barnes & Noble tidak ada suara Sabrina dengan lagu-lagu hasil cover-annya yang memenuhi seisi toko layaknya di Indonesia. (c'mon guys, nggak hanya aku aja kan yang bosan dengan suara Sabrina di mall-mall?)

Barnes & Noble kedua yang kukunjungi letaknya di pinggiran Fifth Avenue, bukan lagi di dalam mall. Dan kali ini tokonya lebih besar dan lebih lengkap. Rasanya enggak mau pulang, mama. Di sana ketemu dengan buku klasik yang sedang diskonan pula. Lalu kalap sejadi-jadinya.

Barnes & Noble di Fifth Avenue kalau dilihat dari luar

Mainan ada, kopi ada, coklat ada

Tidak berlebihan rasanya jika aku bilang ini adalah toko buku terbaik yang pernah kukunjungi sejauh ini. Fasilitas lengkap, suasana nyaman, dan yang terpenting harganya ramah. Sampai berjumpa dengan tulisanku tentang toko buku lainnya ya, kawan.

Senin, 23 Maret 2015

Washington DC, More Than Just a Capital City

Hingga H-minus beberapa jam keberangkatan dari bandara Soekarno-Hatta, Washington DC tidak ada dalam itinerary kami. Namun perubahan jadwal yang mendadak itu ternyata mengantarkanku ke sebuah kota yang (menurutku, sejauh ini) paling menarik di Amerika Serikat. Washington DC adalah jantung Amerika Serikat. Kota, atau lebih tepatnya kita sebut sebagai distrik ini, menunjukkan sisi lain Amerika Serikat sebagai negara adidaya yang begitu serius mengukuhkan sejarahnya lewat sebuah kota.

Masuk museum keren dengan cuma-cuma.

Sebagian besar museum dan galeri di Washington DC dikelola oleh Smithsonian Institution, sebuah yayasan pendidikan yang sudah berdiri sejak 1846. Ada 19 museum dan galeri yang dapat dikunjungi setiap hari dengan gratis.
Union Station, stasiun kereta dan terminal yang dilengkapi tempat shopping.
Sebuah start point yang pas untuk mengelilingi Washington DC

Gratis? Iya gratis.

Aku sempat begitu heran, bagaimana caranya merawat begitu banyak museum megah  ini jika pengunjung tidak dibebani tiket masuk? Apakah hanya mengandalkan kotak amal di dekat pintu masuk yang ketika kulihat isinya begitu lengang? Ternyata oh ternyata, 70% dana yang dibutuhkan Smithsonian diperoleh dari pemerintah. Sisanya, mereka mendapatkan uang dari penjualan souvenir, makanan, tiket pertunjukan khusus, dan kotak amal yang aku bilang tadi. Nah, dari sini sudah terlihat kan seberapa serius Amerika Serikat menjaga sejarahnya.

Museum yang kerap diidentikkan dengan sesuatu yang kuno, di sana dikemas dengan modern. Wi-fi gratis, bioskop IMAX, media interaktif tentang isi museum, tidak adanya larangan penggunaan kamera, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya, berhasil menarik banyak pengunjung. Untuk berkeliling Washington DC, aku dan teman-teman memanfaatkan jasa bus wisata yang salah satunya bernama Big Bus. Dengan 59$, kami mendapat fasilitas berkeliling Washington DC selama dua hari, ditambah gratis tiket masuk di Crime and Punishment Museum dan Madame Tussauds Wax Museum yang masing-masing berharga 22$. Benar-benar ide yang bagus untuk tidak membunuh eksistensi museum berbayar.

Museum pertama yang kukunjungi adalah National Air and Space Museum. Mau nangis rasanya. Ada pesawat induk Apollo 11, baju luar angkasa yang dipakai David Scott di Apollo 15, berbagai macam rudal dan roket, potongan batu dari bulan, dan lain-lain.





Disana juga dijual makanan kering yang biasa dibawa astronot di luar angkasa dan berbagai perlengkapan astronot untuk anak-anak. Tak lupa berbagai mercandise ala Star Wars dan Star Trek pun ada. Bahkan aku menemukan tas ransel putih khas astronot yang sudah lama kucari. Namun tas itu tidak jadi ada di tangan karena keterbatasan budget. Sedihnya sampai sekarang, lho. Museum lain yang kukunjungi adalah Museum of American History, Museum of Natural History, dan Madam Tussauds Wax Museum.


Azmiley Cyrus (woi dilarang protes)

Arsitektur, simbol, dan filosofinya.

Selain museum, Washington DC juga penuh dengan monumen sejarah dan gedung pemerintahan yang sebagian besar berada di area National Mall, sebuah taman terbuka di tengah kota. Yang terkenal tentu saja Gedung Putih, Monumen Washington, dan US Capitol Building. Ketiganya berdiri pada jantung kota dan membentuk segitiga. Bila Gedung Putih merupakan tempat bagi para eksekutif, US Capitol Building adalah tempat kekuasaan legislatif sebagai wakil rakyat.
US Capitol yang sedang dalam renovasi

Washington Monument

White House

Di dalem Capitol Building
Letak Capitol Building sendiri lebih tinggi daripada Gedung Putih sebagai simbol bahwa rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Sedangkan monumen Washington adalah sebuah obelisk tanda penghormatan kepada George Washington, presiden pertama Amerika Serikat. Jika ditarik garis lurus nih dari US Capitol dan Washington Monumen, kita akan bertemu Lincoln Memorial, sebuah bangunan yang mirip kuil Partenon, Yunani. Di dalamnya, terdapat patung Abraham Lincoln yang sedang memandang US Capitol. Di depan Lincoln Memorial sebenarnya terdapat Reflecting Pool, sebuah kolam yang sempat dipakai syuting film Forrest Gump. Namun karena saat itu winter, kolam beku dan hanya tumpukan salju yang terlihat. Huh.

Nah tuh Reflecting Pool nya beku

Jika dilihat dari atas, National Mall seperti membentuk salib. Dimulai dari Lincoln Memorial sebagai ujung atas, Washington Monumen sebagai pusat, dan US Capitol sebagai ujung bawahnya. Sedangkan sisi kanan adalah Gedung Putih dan sisi kiri adalah Jefferson Memorial. Dari yang pernah kubaca, bentuk salib ini adalah simbol bahwa negara Amerika Serikat dibangun atas dasar ketuhanan. Namun aku tidak bisa tidak berpikir tentang buku The Lost Symbol yang ditulis oleh Dan Brown. Buku yang bercerita tentang misteri Freemason dan hubungannya dengan berbagai bangunan di Washington DC. Meskipun hanya merupakan cerita fiksi yang dibumbui teori konspirasi, perjalanan dua hari itu membuatku merasa seperti Robert Langdon, haha. Ah ya, berkeliling Washington DC juga membuatku seperti berada di film National Treasure!

Lincoln Memorial. Jumlah pilar menunjukkan jumlah negara bagian di AS

Abraham Lincoln Statue. Satu tangan Lincoln menggenggam dan satunya terbuka.
Katanya itu artinya Lincoln adalah orang yang tegas namun tetap fleksibel

Situs dan monumen lainnya hanya dapat kami nikmati dari atas bus karena keterbatasan waktu. Untungnya di dalam bus kita akan diperdengarkan cerita sejarah di balik setiap monumen. Satu cerita lagi, rute bus kami juga melewati Pentagon, gedung Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang berbentuk segi lima.

Georgetown Cupcakes

Amerika Serikat bukanlah negara yang kaya kuliner. Jenis masakan yang ada kebanyakan berbahan dasar gandum, daging, dan kentang yang diolah menjadi berbagai makanan cepat saji namun keberadaannya telah menyebar ke seantero dunia. Kalau tidak burger, hotdog, pizza, ya steak atau grilled chicken.

Nah, di salah satu sudut Washington DC, terdapat toko cupcakes yang sudah begitu terkenal. Toko ini didesain lucu dengan warna utama pink dan menjual cupcakes berrrbagai rasa yang dibanderol dengan harga 3$. Sekali nyoba, rasanya ingin makan terus. Setelah dua kali ke sana dan icip sana sini, kuputuskan bahwa yang terenak adalah rasa Strawberry Cheesecake!

Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Craving for another cupcake, but have no money left
Dua hari, atau bahkan seminggu tidak akan cukup untuk menjelajahi Washington DC. Namun setidaknya membuatku paham bahwa Washington DC bukan hanya pusat pemerintahan sebuah negara yang begitu berkuasa. Washington DC adalah sisi manis Amerika Serikat yang dengan nilai filosofi tinggi, mengabadikan sejarah serta kebanggaan rakyat Amerika Serikat.