Senin, 23 Maret 2015

Washington DC, More Than Just a Capital City

Hingga H-minus beberapa jam keberangkatan dari bandara Soekarno-Hatta, Washington DC tidak ada dalam itinerary kami. Namun perubahan jadwal yang mendadak itu ternyata mengantarkanku ke sebuah kota yang (menurutku, sejauh ini) paling menarik di Amerika Serikat. Washington DC adalah jantung Amerika Serikat. Kota, atau lebih tepatnya kita sebut sebagai distrik ini, menunjukkan sisi lain Amerika Serikat sebagai negara adidaya yang begitu serius mengukuhkan sejarahnya lewat sebuah kota.

Masuk museum keren dengan cuma-cuma.

Sebagian besar museum dan galeri di Washington DC dikelola oleh Smithsonian Institution, sebuah yayasan pendidikan yang sudah berdiri sejak 1846. Ada 19 museum dan galeri yang dapat dikunjungi setiap hari dengan gratis.
Union Station, stasiun kereta dan terminal yang dilengkapi tempat shopping.
Sebuah start point yang pas untuk mengelilingi Washington DC

Gratis? Iya gratis.

Aku sempat begitu heran, bagaimana caranya merawat begitu banyak museum megah  ini jika pengunjung tidak dibebani tiket masuk? Apakah hanya mengandalkan kotak amal di dekat pintu masuk yang ketika kulihat isinya begitu lengang? Ternyata oh ternyata, 70% dana yang dibutuhkan Smithsonian diperoleh dari pemerintah. Sisanya, mereka mendapatkan uang dari penjualan souvenir, makanan, tiket pertunjukan khusus, dan kotak amal yang aku bilang tadi. Nah, dari sini sudah terlihat kan seberapa serius Amerika Serikat menjaga sejarahnya.

Museum yang kerap diidentikkan dengan sesuatu yang kuno, di sana dikemas dengan modern. Wi-fi gratis, bioskop IMAX, media interaktif tentang isi museum, tidak adanya larangan penggunaan kamera, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya, berhasil menarik banyak pengunjung. Untuk berkeliling Washington DC, aku dan teman-teman memanfaatkan jasa bus wisata yang salah satunya bernama Big Bus. Dengan 59$, kami mendapat fasilitas berkeliling Washington DC selama dua hari, ditambah gratis tiket masuk di Crime and Punishment Museum dan Madame Tussauds Wax Museum yang masing-masing berharga 22$. Benar-benar ide yang bagus untuk tidak membunuh eksistensi museum berbayar.

Museum pertama yang kukunjungi adalah National Air and Space Museum. Mau nangis rasanya. Ada pesawat induk Apollo 11, baju luar angkasa yang dipakai David Scott di Apollo 15, berbagai macam rudal dan roket, potongan batu dari bulan, dan lain-lain.





Disana juga dijual makanan kering yang biasa dibawa astronot di luar angkasa dan berbagai perlengkapan astronot untuk anak-anak. Tak lupa berbagai mercandise ala Star Wars dan Star Trek pun ada. Bahkan aku menemukan tas ransel putih khas astronot yang sudah lama kucari. Namun tas itu tidak jadi ada di tangan karena keterbatasan budget. Sedihnya sampai sekarang, lho. Museum lain yang kukunjungi adalah Museum of American History, Museum of Natural History, dan Madam Tussauds Wax Museum.


Azmiley Cyrus (woi dilarang protes)

Arsitektur, simbol, dan filosofinya.

Selain museum, Washington DC juga penuh dengan monumen sejarah dan gedung pemerintahan yang sebagian besar berada di area National Mall, sebuah taman terbuka di tengah kota. Yang terkenal tentu saja Gedung Putih, Monumen Washington, dan US Capitol Building. Ketiganya berdiri pada jantung kota dan membentuk segitiga. Bila Gedung Putih merupakan tempat bagi para eksekutif, US Capitol Building adalah tempat kekuasaan legislatif sebagai wakil rakyat.
US Capitol yang sedang dalam renovasi

Washington Monument

White House

Di dalem Capitol Building
Letak Capitol Building sendiri lebih tinggi daripada Gedung Putih sebagai simbol bahwa rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Sedangkan monumen Washington adalah sebuah obelisk tanda penghormatan kepada George Washington, presiden pertama Amerika Serikat. Jika ditarik garis lurus nih dari US Capitol dan Washington Monumen, kita akan bertemu Lincoln Memorial, sebuah bangunan yang mirip kuil Partenon, Yunani. Di dalamnya, terdapat patung Abraham Lincoln yang sedang memandang US Capitol. Di depan Lincoln Memorial sebenarnya terdapat Reflecting Pool, sebuah kolam yang sempat dipakai syuting film Forrest Gump. Namun karena saat itu winter, kolam beku dan hanya tumpukan salju yang terlihat. Huh.

Nah tuh Reflecting Pool nya beku

Jika dilihat dari atas, National Mall seperti membentuk salib. Dimulai dari Lincoln Memorial sebagai ujung atas, Washington Monumen sebagai pusat, dan US Capitol sebagai ujung bawahnya. Sedangkan sisi kanan adalah Gedung Putih dan sisi kiri adalah Jefferson Memorial. Dari yang pernah kubaca, bentuk salib ini adalah simbol bahwa negara Amerika Serikat dibangun atas dasar ketuhanan. Namun aku tidak bisa tidak berpikir tentang buku The Lost Symbol yang ditulis oleh Dan Brown. Buku yang bercerita tentang misteri Freemason dan hubungannya dengan berbagai bangunan di Washington DC. Meskipun hanya merupakan cerita fiksi yang dibumbui teori konspirasi, perjalanan dua hari itu membuatku merasa seperti Robert Langdon, haha. Ah ya, berkeliling Washington DC juga membuatku seperti berada di film National Treasure!

Lincoln Memorial. Jumlah pilar menunjukkan jumlah negara bagian di AS

Abraham Lincoln Statue. Satu tangan Lincoln menggenggam dan satunya terbuka.
Katanya itu artinya Lincoln adalah orang yang tegas namun tetap fleksibel

Situs dan monumen lainnya hanya dapat kami nikmati dari atas bus karena keterbatasan waktu. Untungnya di dalam bus kita akan diperdengarkan cerita sejarah di balik setiap monumen. Satu cerita lagi, rute bus kami juga melewati Pentagon, gedung Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang berbentuk segi lima.

Georgetown Cupcakes

Amerika Serikat bukanlah negara yang kaya kuliner. Jenis masakan yang ada kebanyakan berbahan dasar gandum, daging, dan kentang yang diolah menjadi berbagai makanan cepat saji namun keberadaannya telah menyebar ke seantero dunia. Kalau tidak burger, hotdog, pizza, ya steak atau grilled chicken.

Nah, di salah satu sudut Washington DC, terdapat toko cupcakes yang sudah begitu terkenal. Toko ini didesain lucu dengan warna utama pink dan menjual cupcakes berrrbagai rasa yang dibanderol dengan harga 3$. Sekali nyoba, rasanya ingin makan terus. Setelah dua kali ke sana dan icip sana sini, kuputuskan bahwa yang terenak adalah rasa Strawberry Cheesecake!

Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Craving for another cupcake, but have no money left
Dua hari, atau bahkan seminggu tidak akan cukup untuk menjelajahi Washington DC. Namun setidaknya membuatku paham bahwa Washington DC bukan hanya pusat pemerintahan sebuah negara yang begitu berkuasa. Washington DC adalah sisi manis Amerika Serikat yang dengan nilai filosofi tinggi, mengabadikan sejarah serta kebanggaan rakyat Amerika Serikat.

Selasa, 10 Maret 2015

Studi Ekskursi E-51

Studi ekskursi adalah kegiatan kunjungan satu angkatan ke perusahaan-perusahaan di Indonesia. Secara gampangnya nih, studi ekskursi dapat dianggap sebagai liburan angkatan yang dilegalkan kampus. Satu angkatan akan mengalaminya sekali dan dilaksanakan di tahun terakhir. Bali, Jakarta, Bandung adalah tujuan favorit. Untuk yang berbudget murah meriah seperti angkatanku, Jogja adalah destinasi yang pas. Meskipun badan masih remuk redam efek terbang selama lebih dari 24 jam, semangat tak kunjung padam.

Ciwi-ciwi sebelum berangkat

Hello again, Jogja!
Sudah setahun lebih dua bulan sejak kunjunganku yang terakhir.

Sesuai kesepakatan, rombongan studi ekskursi akan berangkat selepas dhuhur. Kami ber-165 dibagi dalam tiga bus, dan ciwi-ciwi berada dalam satu bus yang sama. Bayangkan hebohnya bagaimana. Ada tiga perusahaan yang kami datangi, PT. Campina Ice Cream, PT. Pelindo, dan Gameloft Yogyakarta (hari kedua).

Habis masuk cold storage Campina

Sekitar pukul 05.00 keesokan harinya, kami sampai di sekitar Prambanan dan menyempatkan diri ke salah satu masjid untuk sholat Subuh. Ada kejadian menyebalkan tapi lucu nih. Pas datang, kami langsung digiring menuju salah satu rumah warga. Kata bapak itu biar nggak antre wudhunya lah, apalah, pokoknya disuruh ke rumah itu dulu gitu. Sebel dong ya pagi-pagi udah diteriak-teriakin. Sampai yang punya rumah menawarkan tikar untuk sholat di situ. Dalam hati (dengan ngantuk) mikir, apa iya masjid segede ini sampai harus ngantre ke kamar mandinya. Setelah sang ibu empunya rumah "mangkal" di kursi depan rumah, barulah kami sadar bahwa semua ini masalah duit. Jadi kami digiring untuk menggunakan WC umum berbayar. Nggak habis pikir kan ya.

Lanjut deh.

Kami sampai di rumah makan Gabusan untuk mandi dan sarapan. Mandi di tempat umum begini? It's a big fat no. Prinsipku adalah mandi bersih yang memakan waktu lama, atau nggak mandi sama sekali. Di situ banyak yang ngantre, jadi daripada kena marah, maka kuputuskan (dengan sedikit rasa malas juga) untuk tidak mandi. (Tenang saja, aku tetap gosok gigi dan ganti baju, kok)

Oh ya, kami menginap di Hotel Sri Wedari, sebuah hotel yang mendapat review bagus di beberapa situs perjalanan. Beberapa teman sudah membaca cerita tentang hotel ini dan katanya seram. Aku sengaja tidak membaca sebelum pulang dan akhirnya bisa tidur dengan pulas. Sebenarnya fasilitas lengkap, namun bangunannya masih kejawen, tua, dan suasananya memang cukup seram.

Ini nih hotelnya
(Foto nyomot kamera Ruli)

Katanya sih serem, tapi foto tetap lanjut
(Foto nyomot kamera Ruli)

Bahwasanya arogansi lab itu tetap ada...

Bukan ke Jogja namanya kalau belum mampir ke Malioboro

Sebuah jalan berisi pedagang yang menjual barang khas Jogja ini merupakan tujuan wajib setiap kali berkunjung ke Jogja. Kali ini kunjungan kami memiliki suatu misi, mencari kado berharga maksimal 10.000 rupiah, bungkus pakai kertas koran, nanti ditukar pas malam keakraban. Challenge accepted! Selain Malioboro, ngopi dan jajan dia angkringan adalah salah satu kewajiban juga.

Malam keakraban dilakukan di halaman rumah makan gabusan. Diawali dengan sambutan dari panitia, pergantian komting, sambutan dari calon wisudawan yang lulus 3,5 tahun, tukar kado, nonton foto-foto jaman baheula, dan yang terakhir, menerbangkan lampion, main kembang api, sambil sing along lagu-lagu baper. Jika malam itu aku terlihat galau dan sendu, itu bukannya tanpa alasan. Malam itu aku merenung telah sejauh apa waktu, pengalaman, dan pelajaran yang kita lalui. Maaf lagi baper.

Bus ciwi hore!
(Foto nyomot kamera Ruli)

Di hari ketiga, kami menuju wisata goa pindul untuk susur goa dan rafting. Yippie main air! Di sana kita hanya akan bermodalkan satu ban dan akan saling bergandengan satu sama lain melalui tali. Tulisan tentang goa Pindul akan diposting terpisah :p

menuju goa pindul ahsek

Meskipun kesan "Jogja-nya" kurang karena jadwal yang padat, kebersamaan kami sudah mengobatinya. Aku jadi bertemu kembali dengan beberapa anak yang sudah lama nggak kelihatan juga haha.

Ladies~
(Foto nyomot kamera Ruli)

Terima kasih panitia atas kerja keras kalian dalam merencanakan studi ekskursi ini.

Terima kasih E-51 atas kebersamaan kita selama ini. Semoga akan berlanjut hingga tua nanti, ya. Aku menyayangi kalian!

PS: Fotonya dikit ya? Atau bingung kaenapa isinya cewek semua? Karena aku bukan bagian dokumentasi dan nggak punya kamera, foto-foto di atas ala kadarnya dulu yah. Foto bagus akan menyusul!

Minggu, 08 Maret 2015

New Experiences, with New Family, in New York City

New York tidak pernah tertuilis dalam bucket list tempat yang ingin kukunjungi. Jadi ketika sampai di sana, aku tidak memiliki ekspektasi apapun dan keinginan untuk pergi ke spot tertentu, kecuali Barnes & Nobles, toko buku terkenal dari Amerika Serikat.

Love/hate relationship. Mungkin itulah kesanku untuk New York. Ada beberapa bagian kota yang sangat aku suka, namun ada juga bagian yang tidak. Bagiku, New York adalah tempat dimana mimpi bisa diwujudkan, atau justru dilupakan.

Apa yang kusuka? Energi dan keeleganannya. Gedung hiburan, perkantoran, dan makanan yang biasa aku lihat di film, akhirnya dapat kulihat dengan mata kepala sendiri. Aku dapat menemukan beragam hal di sini sehingga cocok disebut surga bagi yang suka berbelanja. Lalu apa yang tidak kusuka? Keramain, kebisingan, hiruk pikuk orang yang seakan dikejar tagihan hutang. Di kota sebesar dan semodern ini pun, masih banyak homeless.

Hanya tiga hari aku mendapat kesempatan berkeliling di kota yang tak pernah tidur ini. Tentu saja tidak cukup. Pulang ke Indonesia, aku justru menemukan banyak artikel tentang kedai kopi, restoran, ataupun toko buku wajib dikunjungi yang luput dari itinerary kami.

Hari pertama di New York,
Di Apple Store
Frozen Central Park
(Photo taken by Ilmi)
Hari kedua di New York,
Di Bus dari Newark (Photo taken by Ilmi)

New York from ferry to Staten Island (Photo taken by Ilmi)

The Liberty! (Photo taken by Ilmi)





Grand Central Station (Photo taken by Adit)

(Photo taken by Adit)

 Hari ketiga di New York,



(Photo taken by Yabes)


(Photo taken by Adit)

See you on next post!

Mampir di London

Ketika mengetahui bahwa maskapai penerbangan yang kami gunakan yaitu Kuwait Airways transit di Kuala Lumpur, Kuwait, dan London, hati ini rasanya begitu gembira. Itu artinya aku akan melintasi tiga benua dan menginjakkan kaki di empat negara berbeda. Dan meskipun hanya berada di bandara selama satu jam, namun itu merupakan awal yang baik untuk mimpiku yang satu ini: pergi ke Inggris!

Awan tebal di atas London

Setelah tiga per empat perjalanan, akhirnya kami sampai di Bandara Heathrow, London. Dan aku mewek, tentu saja dengan tetap jaim. Rasanya masih belum percaya akhirnya bisa menginjakkan kaki di London, menghirup udaranya, dan melihat sendiri gloomy-nya London. Mendengarkan orang british berbicara, melihat souvenir a la Inggris di toko-toko di bandara, dan mengalami security check yang ribet sekali.

Tuh lihat mukanya bahagia sangat.
Bukan, ini bukan mau ngikutin poster Fifty Shades of Grey, kok.


Setelah ini, London terlihat bukan seperti tempat yang mustahil untuk kudatangi. Jika sekarang hanya sampai di bandaranya, next time harus mampir ke 221B Baker Street dan Emirates Stadium, lah ya.

Mengurus Visa Amerika Serikat

Jika paspor adalah tanda pengenal bahwa kita termasuk masyarakat dunia, maka visa adalah ibarat pintu gerbang menuju sebuah negara. Sebagai warga negara Indonesia, ada negara-negara lain yang membebaskan visa bagi WNI. Ada juga yang memperbolehkan VoA (Visa on Arrival, diurus ketika tiba di negara tujuan). Dan yang tersulit, mengurus visa sebelum keberangkatan di kedutaan besar terdekat. Amerika Serikat sendiri termasuk dalam kategori terakhir. Meskipun tidak mengharuskan kita untuk memiliki tiket dan uang akomodasi selama di sana, pengajuan visa AS terkenal sulit dan tidak semua pengajuan dapat diterima.
Oke, sejak saat itu rasanya sudah jiper duluan karena takut pengajuan visa ditolak. Apalagi ini pertama kalinya aku mengurus visa. Aku mulai mencari tips-tips agar lolos wawancara, cara mengisi form yang benar, dan lain-lain. Tulisan dari Ariev Rahman ini sangat membantuku untuk memahami cara pengajuan visa. Mampir saja di link berikut: Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika

Penjelasan di situ sudah sangat lengkap kok. Di bawah ini aku hanya nambahin sedikit ya. Jadi secara umum urutannya adalah begini :
  1. Membayar biaya pengajuan visa. Nah, harganya macem-macem tergantung jenis visa dan nilainya bisa berubah tergantung nilai tukar rupiah. Jika pengajuan visa kita ditolak, kita harus bayar lagi. Sedih kan.
  2. Mengisi form aplikasi pengajuan visa. Saat mengisi form ini, aku mengalami kegalauan yang tidak beralasan. Dari 10 orang yang ikut mengajukan visa, terdapat dua versi form. Takut dong ya kali aja ada yang salah prosedur begitu. Namun usut punya usut, ternyata form untuk pria dan wanita dibedakan. Jadi ga perlu khawatir kalau keterangan yang harus diisi berbeda-beda. Cukup isi yang diperlukan dengan jujur. Oh ya, ketika mengisi, kita diharuskan mengupload foto dengan ketentuan yang cukup ketat sebenarnya. Just follow the rules. Untuk yang berjilbab, asal muka kita terlihat dengan jelas, nggak akan jadi masalah. Jangan lupa pastikan bahwa foto dibuat dalam enam bulan terakhir, karena petugas kedutaan jeli banget. Salah satu teman sampai harus mencari studio foto untuk foto ulang karena yang dia upload adalah foto untuk visa Jepang yang telah berakhir masa berlakunya dua bulan lalu.
  3. Membuat jadwal wawancara. Hmm kalau bagian ini rasanya tidak perlua banyak cingcong. Pilih hari dan jam yang tepat. Hanya saja kalau mengajukan visa sekeluarga, wawancara bisa dilakukan secara berkelompok, lho. Setelah jadwal beres, segera kumpulkan dokumen yang diperlukan untuk datang wawancara seperti paspor, bukti wawancara, bukti form aplikasi, bukti pembayaran, dan surat sponsor atau surat penerimaan yang menyatakan tujuan kita pergi ke Amerika.
  4. Datang wawancara di kedutaan besar Amerika Serikat. Ada dua kedutaan AS di Indonesia yang dapat didatangi untuk melakukan wawancara yaitu Jakarta dan Surabaya. Aku dan teman-teman tentu saja mengurus di Surabaya. Dari luar, meskipun termasuk bangunan baru, namun sudah terlihat seramnya. Ternyata, petugas di sini ramaaaah sekali. Pemeriksaan yang dilakukan juga memang sesuai dengan prosedur dan kita akan diarahkan dengan baik.
    US Consulate General
    Sekadar saran, lebih baik menggunakan kendaraan umum atau diantar untuk datang ke kedutaan. Karena selain nggak ada tempat parkir, yang boleh masuk hanya yang melakukan pengajuan. Kecuali ada yang mau panas-panas di pinggir jalan, sih. Selain itu, pastikan ketika masuk tidak bawa barang banyak. Toh semua barang selain dokumen dititipkan. Agar tidak bosan ketika menunggu di dalam tanpa gadget, ngobrol lah dengan kanan-kiri.
Wawancara yang dilakukan cukup singkat. Aku hanya ditanya nama, apa yang akan dilakukan di sana, dan ditanya juga tentang Model United Nation itu ngapain aja.
Wawancara ditutup dengan ucapan "Your visa has been approved. Have a nice trip!" diselingi senyuman dari mas bule pewawancara. Setelah deg-degan berhari-hari, akhirnya pengajuan visa kami bersepuluh diterima. Memang sejak pagi belum ada yang ditolak sih pengajuannya. Beda sekali rasanya dengan cerita orang-orang di kedutaan AS di Jakarta. Oh ya, selain itu, setelah pengajuan di-approved, kita tidak akan diberi lembaran kertas seperti yang dijelaskan di website kedutaan. Jadi kita akan pulang dengan membawa sisa dokumen yang tidak diminta untuk dikumpulkan beserta perasaan bahagia karena mendapat kunci gerbang memasuki negeri Paman Sam. Sekitar seminggu kemudian, paspor sudah bisa diambil di tempat yang ditentukan.

Dapet bintang dua :"|

Overall, mengurus visa Amerika tidak semenyeramkan yang aku pikir. Asalkan tujuan kita baik dan jelas, niat kita benar, melengkapi semua persyaratan dan prosedur, maka pewawancara akan dengan mudah menerima pengajuan kita. Tidak perlu takut karena memiliki nama muslim, berhijab, paspor masih kosong oblong, dan belum memiliki biaya hidup di sana. Ah ya satu lagi, beberapa visa termasuk milikku mendapatkan dua tanda bintang di bawah foto. Tanda bintang menunjukkan tingkat keamanan orang tersebut. Semakin banyak bintang, maka semakin dianggap bahaya. Hah! Deg-degan ku berlanjut hingga di bagian imigrasi bandara.

Welcome to the city that never sleeps!

Aku tidak tahu apakah semua petugas imigrasi jutek atau tidak. Yang jelas ekspresi mereka seperti tidak ingin melihat muka kita lebih lama lagi. Sempat terjadi kesalahpahaman ketika kita hanya mengisi satu immigration declare form, karena kami menganggap kami satu rombongan. Akhirnya kami satu per satu harus menulis di depan bilik petugas imigrasi yang huh mukanya sangat tidak sabaran (pengen banget moto tapi di sini dilarang mengambil gambar).
Tapi hey, ternyata bintang dua tadi tidak menjadi masalah. Aku keluar dari bagian imigrasi dengan relatif cepat dan mengambil bagasi yang sebenarnya berisi beberapa makanan instan dari Indonesia dengan selamat.