Minggu, 27 September 2015

Wisuda 112 Teknik Elektro ITS, It's a Brand New Day!

Hari ini tepat seminggu yang lalu adalah salah satu hari bersejarah bagiku, dan mungkin bagi satu angkatan. Akhirnya setelah empat tahun bergerilya kuliah di kampus perjuangan ITS Surabaya kampuse Keputih Sukolilo #maapmalahnyanyi, setelah melewati masa-masa menjadi mahasiswa baru, menjalani suka duka kuliah, tugas, praktikum, asistensi, ujian, dan terakhir yaitu Tugas Akhir, akhirnya nama lahir kami bertambah hurufnya dengan menyandang S.T., Sarjana Teknik. Lumayan rek, nanti nama kalian di undangan nikah jadi lebih keren.

Oke awalnya aku ingin menulis postingan yang lebih serius dan menyentuh gitudeh. Tentang apa makna menjadi seorang wisudawan, bagaimana tanggung jawab moral kita setelah ini, dan lain-lain. Tapi rasanya enggak asik banget di saat kita seharusnya merasa bahagia, malah dibikin galau. So let this post end up the way it is.

It's a new beginning for us. Saatnya memilih jalan hidup yang sebenarnya. Yang sedang dan mau melanjutkan sekolah di dalam atau di luar negeri, semangat rek kalian harapan bangsa. Yang masih kuliah, semuwangato rek, wisuda seru lho. Yang sudah dan sedang bekerja, duitnya ditabung yang bener buat bekal nikah. Yang sedang mencari kerja, semoga cepat dapat (aamiin yang kenceng). Yang sedang bingung menentukan jalan, jangan mudah lelah mencari, karena jalan hidup emang enggak ada di Google Maps. Untuk yang sedang mencari cinta, yaudah sama, jadi aku nggak bisa bilang apa-apa. #maapngomongsampah

Pokoknya ya teman-teman, bangga lho menjadi bagian dari angkatan ini. Terlalu banyak kenangan yang bisa dirangkum dalam satu tulisan.

Dari saat kita disambut setelah resmi menjadi warga Teknik Elektro ITS,


Hingga kita disambut sebagai wisudawan.



Dari jadi panitia SPS 104 dengan seragaman pakai baju-yang-kata-mbak-Vivin-mending-dibakar-aja


Hingga akhirnya sekarang bisa seragaman pakai toga dan foto lengkap ber-24 di SPS 112.


Tidak seperti SPS sebelumnya, kali ini diadakan acara "Wisudawan Party" juga. Isinya ya nggak jauh dari bakar-bakar, akustikan, nonton video yang isinya foto-foto lawas, menerbangkan lampion yang penuh dengan mimpi kita sampe saking beratnya itu mimpi, lampionnya susah terbang, lalu berakhir dengan ngobrol sana sini. Yah, jangan samakan dengan acara jurusan lain lah guys, yang penting kan kebersamaannya.



Lalu saat hari-H, acara yang dimulai sejak jam 8 pagi ini awalnya khidmat. Lalu karena lapar, bosen, atau ngantuk karena ke salon terlalu pagi, yaudah ada yang lanjut tidur, ngobrol, kipas-kipas, dan menghirup udara segar di luar graha sembari nungguin bagi-bagi ijazah kepada lebih dari 1000 wisudawan.


Pas akhirnya keluar graha, eh disambut kalimat seperti ini :(


Buat yang cewek, kami naik becak berdua-dua, sedangkan yang cowok naik truk dan pick-up.



Lalu ketika kami sampai di jurusan,






Dan dimulailah sesi perebutan backdrop untuk foto-foto. Bayangkan saja, satu wisudawan berfoto dengan orang tua, adek, pacar, temen TK, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman satu bidang studi, teman satu lab, teman satu organisasi. Lalu dikali dengan banyaknya jumlah wisudawan mulai dari S1, S2, dan lintas jalur. Bayangkan ramainya. Bayangkan.

Asisten Lab KE 2011-2012-2013. Banyak yang ilang nih tapinya.


Nah inilah foto satu angkatan yang aku sangat sangat di belakang sampe nggak keliatan. Bahkan heels 7 cm pun enggak memberikan efek apapun.


Sukses untuk semuamunya ya, dulur-dulurku!

Foto diambil dari dokumentasi pribadi dan Himatektro. For more photos, visit SPS 112 Himatektro.

Sabtu, 26 September 2015

Sunrise di Gunung Bromo

Ada yang beda dengan serah terima jabatan koordinator asisten kali ini. Kalau biasanya dilakukan di lab, kali ini kami sertijab di Bromo. Anti-mainstream, kan.

Jadi awalnya rencana liburan ini hanyalah sekadar wacana belaka. Pengen ke Bali lah, Lombok, Dieng, Malang, tapi ya enggak jadi-jadi. Kayaknya memang harus tanpa rencana terus langsung berangkat begitu saja sih, ya. Jadi setelah rapat evaluasi dan musyawarah penentuan koordinator asisten yang baru, malamnya kami memutuskan untuk menuju ke Bromo.

Rombongan dibagi dalam tiga mobil dan kami berangkat sekitar jam 10 malam. Karena yang nyetir pake NOS semua, perjalanan malam itu relatif singkat. Jam 2 dinihari kami sampai di lokasi. Sekitar jam 3, kami mulai menuju ke Bukit Penanjakan. Untuk bisa melihat sunrise di Bromo, ada dua tempat yaitu Penanjakan 1 dan Penanjakan 2. Aku juga enggak paham kenapa ini anak-anak pilih Penanjakan 2. Ngikut ajalah saya ini pokoknya. Dari awal sudah banyak yang nawarin jeep, ojek motor, atau kuda. Tapi karena kata para pria jalannya ntar cuma sebentar, maka aku percaya saja dan siap berjalan kaki. Ternyata nggak sedekat yang kupikirkan haha, jadi buat yang gampang capek atau mau ngejar sunrise banget, sebaiknya menggunakan jasa transportasi saja.

Gunung Bromo termasuk gunung yang mudah dan aman untuk ditaklukkan. Ya, karena memang tujuannya untuk wisata sih, jadi akses untuk ke sana sudah diatur. Sampai di atas pun sinyal ponsel tetap kenceng.

Jadi gimana rasanya?

Yang pertama kali kurasakan adalah takjub. Langitnya cerah walaupun si bulan sedang dalam siklus yang cukup penuh. Jadi bintang-bintang keliatan buanyak #terharu. Yang kedua adalah capek karena aku salah kostum pakai jeans dan wakai. Kalau masalah dinginnya, nampaknya lemak di badan cukup bekerja optimal.

Silakan dinikmati foto-foto perjalanan kami berikut. Ceritanya sambil nyobain si mirrorless gitu.

Pas awal sampai di Penanjakan 2. Mataharinya udah ngintip aja.

Kaki langit #ahsek

*no caption*

Inilah tujuh cewek yang walaupun sempat sambat terus, tapi akhirnya sampai juga haha. Ada yang sampe nangis juga sih.

Foto wajib

Foto wajib dalam jarak lebih dekat

Pakai mode sunset di pilihan smart mode-nya Samsung NX3000

Desir pasir di padang tandus~ Segersang pemikiran hati~ *brb pakai cadar*

Kiri - Nanda, Kooras baru, Kanan - Kooras lama-yang-katanya-punya-katalog-cewek-seITS-dan-sekitarnya-yang-siap-disepik-kapan-aja.


Sayang kalian, rek :")

Misty mountains

Udah agak siang. Mulai panas dan kami mulai turun dari Penanjakan

Yuk pulang~

Karena keterbatasan waktu (ngejar sholat Jumat ceritanya), sudah lelah, dan ga ada budget, maka kami tidak pergi ke kawah atau ke pasir berbisik atau ke bukit teletubbies. Jadi sebenarnya kami belum ke Gunung Bromo-nya itu sendiri hahaha. Next time boleh lah ya!