Minggu, 17 Juni 2018

Antologi Rasa

Never a fan of metropop-kind-of-book, tetapi selalu berpegang teguh dengan prinsip "read the book before the movie, if any".



Jadi ketika mbak Ika Natassa membuat banyak teaser film Antologi Rasa di akun Instagramnya, secara impulsif memutuskan untuk nyebrang ke Gramedia depan kantor buat nyari bukunya, sambil ngabuburit juga. Ehe. Termasuk telat sih ya, teman-teman sudah heboh buku ini sudah bertahun-tahun yang lalu, yang katanya bikin baper dan ceritanya relatable sekali.

Antologi Rasa diawali (ngga di awal aja ding, di sepanjang buku juga) dengan begitu banyak trivia, yang mohon maaf nih, seakan ingin membuktikan penulis risetnya banyak. Tentang F1, barang-barang branded, referensi buku dan film, John Coltrane, bahkan ada setengah halaman berisi lagu-lagu mas ganteng John Mayer. Kalau sekali dua kali engga apa-apa ya, lah ini repetitif. Antologi Rasa adalah buku pertama Ika Natassa yang aku baca. Dulu pas Critical Eleven langsung nonton filmnya dan ketika rampung dengan Antologi Rasa, jadi kepikiran kok tokoh dan karakternya setipe begini ya. Tingkat ekonomi kelas atas, penggambaran tokoh yang cantik dan ganteng tak bercela kek model majalah, namun sayangnya dengan karakter yang terlalu self-centered. Kayak bingung gitu, ini film, buku, musik, makanan kesukaan tokohnya atau malah penulisnya (?)

Sedikit petunjuk, buku ini bercerita tentang persahabatan bagai kepompong yang dibumbui dengan kisah cinta banyak segi. Keara, cewek dengan karakter hedon suka party, pinter, lulusan Stern GPA 3,5 (mbak-mbak sempurna bukan?), barangnya mahal semua, suka sama temannya yang namanya Rully, cowok penyuka sepakbola yang kalem tapi sukanya sama Denisse, another girl from the group yang cantik kalem sudah bersuami dan sedang berjuang untuk keutuhan rumah tangganya (hahaha bahasaku). Satu lagi, Harris, badboy playboy yang paling dekat dan sudah dianggap sahabat banget sama Keara padahal Harris cinta mati sama Keara. Mereka semua kerja di tempat yang sama, sebuah Bank Internasional dengan gaji selangit. Classic, huh?

Bagian awal sebenarnya oke lho. Rasanya jleb malahan. Serasa ingin bilang "I feel you" ke setiap karakter #malahcurhat. Tetapi, semakin dibaca semakin engga paham mau dibawa kemana hubungan kita cerita ini. Endingnya? Meh. But still, it's an interesting book. Beberapa kalimat bisa jadi caption yang bagus di Instagram #halah dan banyak dari referensi yang dipakai adalah kesukaanku juga. Apalagi aku beli yang versi ilustrated edition yang dilengkapi banyak sketch cantik untuk menggambarkan cerita. A good choice for beach read, sih.



Tapi ini preferensi pribadi sih ya. Mungkin karena engga biasa baca metropop jadi tidak terlalu ngena dengan model cerita begini, despite all the good reviews from my friends. One thing for sure, just because you don't like the story, doesn't mean you don't like the author too. Maybe the story is just not my cup of tea. Tetap akan penasaran dengan tulisan mbak Ika lainnya dan tetap secara diam-diam mengagumi si Harris!

Oya, tetap akan menunggu filmnya juga walaupun ada satu hal yang kutakutkan. Takut pada latah pengen nonton night race F1 dan konser John Mayer. Tolong lah ya jangan dinodai dua bucketlist saya yang belum tersampaikan itu :")

Tidak ada komentar: