Selasa, 19 Juni 2018

The End of The F***ing World, another Netflix Series to Binge Watch

"Netflix and chill" adalah definisi hiburan baru. Series atau film buatan Netflix sejauh ini belum ada yang mengecawakan untuk saya yang terkadang butuh hiburan berfaedah ini.



The End of The F***ing World adalah another original TV series Netlix yang sayang eh tayang pada 24 Oktober 2017. A budding teen psycopath and a rebel hungry for adventure embark on a star-crossed road trip in this darkly comic series based on a graphic novel. Sinopsis singkat yang cukup menjual hingga akhirnya aku memutuskan untuk nonton series ini. Cerita tentang James, remaja 17 tahun yang menganggap dirinya psikopat karena suka membunuh hewan dan Alyssa, cewek SMA yang cablak rebel dan selalu pasang muka resting-bitch-face ini dikemas dalam delapan episode dengan durasi tidak sampai 20 menit untuk setiap episode. Psikopat dan sosiopat, kebayang engga?



Mereka berdua ini tipe-tipe yang sudah lelah dengan dunia. James harus menyaksikan ibunya bunuh diri ketika masih kecil dan harus tinggal dengan ayahnya yang.. umm garing. Sedangkan Alyssa tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya yang engga peduli sama dia. Alyssa akhirnya ngajak James kabur sekaligus ingin mencari ayah kandungnya dan James yang ingin membunuh sesuatu yang lebih besar, merasa Alyssa adalah korban yang tepat.



Dalam rebellion trip mereka, masalah datang silih berganti. Seru melihat bagaimana mereka menyelesaikan tiap masalah yang kadang bikin geleng-geleng kepala. Masalah apa itu? And how they solve it? Go watch it, sobatku.



Apa yang kusuka dari series ini? Dasarnya aku memang doyan sekali dengan cerita remaja coming-of-age begini. Karena jujur, masa remaja sendiri yang sudah dilewati dulu terasa so so saja hahaha. Hal lainnya adalah dark comedy yang diselipkan di cerita. Pemeran James dan Alyssa juga oke sekali aktingnya dan lucu melihat interaksi mereka. Mata ini sangat dimanjakan dengan sinematografinya dan telinga juga dimanjakan dengan soundtrack yang sebenarnya akan lebih afdhol kalau dirilis dalam bentuk vinyl. Sebagaimana cerita coming-of-age lainnya, series ini tidak hanya menampilkan cerita lovey dovey dua remaja, namun juga menampilkan bagaimana kedua orang ini menyelesaikan masalah yang ada dalam proses menjelang dewasa. Sekaligus, memberi gambaran baru how people mean for each other sebagaimana James untuk Alyssa dan sebaliknya.

Tidak ada komentar: