Senin, 13 Mei 2019

Finally I Made It To Turkey! (Part I)

Apa yang terlintas di kepala ketika mendengar tentang Turki? Istanbul atau Konstantinopel? Hagia Sophia? Kekaisaran Ottoman? Mas-mas ganteng, tinggi, nan gagah a la serial TV "Cinta di Musim Cherry" dan "Elif"? Atau hot air ballon flight? Atau malah unggas khas Thanksgiving?

Ya kalau yang terakhir mah kebangetan.

Ternyata, yang ditawarkan negara Turki jauh lebih banyak dari sekadar destinasi yang kusebutkan di atas ataupun sereceh ingin melihat mas-mas Turki yang konon perawakannya seperti karakter pria di cerita-cerita romantis Wattpad. If you know what I mean hehe.


Sebagai pegawai kantoran yang menjalankan hak dan kewajiban dengan baik, maka sudah saatnya untuk mengambil hak cuti tahunan yang belum terpakai dalam enam bulan ini. Waktunya pas bulan April yang artinya sedang musim semi!. Not too cold, nor too hot. Pilihanku ada di sakura atau tulip, dua bunga kesayangan di mana yang satu adanya di Jepang dan satunya lagi di Turki. Lalu tidak sengaja meihat sebuah postingan di Instagram tentang group tour dari @kartupostrip dengan judul Turkey Tulip Season yang isinya delapan hari tur keliling Turki. Nah, di itinerarinya tercantum Cappadocia. It means... hot air ballon's flight! which is on my list-to-do-before-you-die number two. Yeay! 

Mestakung lah, ya.

Singkat cerita, akupun akhirnya mendaftar dan jujur tanpa pikir panjang. Itu pas daftar beneran deh nggak kepikiran gimana ntar di sana mengingat aku daftarnya sendirian dan nggak tahu apa-apa tentang Turki selain Istanbul dan Cappadocia. Sungguh tipikal Sagitarius.

Tanggal 19 April 2019, dua hari setelah pemilu, tiba saatnya berkemas dan berangkat ke Jakarta.  Setelah menyelesaikan tugas, mendelegasikan kerjaan, dan meminta izin ke berbagai pihak tentunya. Sengaja cuma bawa baju seperlunya karena enggak mau ribet mengingat masih harus naik kereta dulu dari Purwokerto. Berkemas beberapa jam sebelum berangkat dengan minim persiapan bahkan nggak kepikir bawa saus sambal atau food-enhanced lainnya karena percaya diri akan doyan makanan sana dan parahnya nih hanya membawa baju untuk persiapan musim semi saja. Di sepanjang perjalanan di kereta isinya overthinking, because hey it's my first time traveling with a bunch of stranger.

Tiba di bandara, akhirnya bertemu dengan tour leader kami, Mbak Amanda dari SORS Travel Services. Kemudian satu per satu peserta juga datang. Aku yang awalnya gugup, akhirnya merasa all is well. I'm with a bunch of good people. Dan akhirnya nih ketemu sama Kenny Santana, yang punya Kartupos Trip ini. Baik dan ramah banget ternyata seperti keseharian dia di media sosial.

Penerbangan ke Turki ditempuh dalam sekitar 14 jam dengan transit di Doha, Qatar. Perbedaan waktu Turki dan Indonesia hanya empat jam (Indonesia lebih cepat empat jam). Kami mendarat di bandara kecil di kota Adana, perbatasan Turki dengan Suriah dan disambut dengan local guide kami, Cansu. Cansu nih ya, fasih banget bahasa Indonesia formal ataupun bahasa keseharian. Orangnya asik banget. Sometimes I envy her for everything she did in her life. Semacam... kemana aja kamu, Mil. (I'm stuck in here, help!)

Okay, inilah cerita jelajah berbagai kota di Turki. Tidak hanya tentang Istanbul dan Cappadocia, Turki juga memiliki banyak kota di wilayah selatan yang di samping memiliki pemandangan menarik, juga memiliki cerita sejarah yang tidak boleh dilewatkan.

Hari 1 - Adana
Adana adalah kota keempat terbesar di Turki. Di kota pertama ini kami mengunjungi Tas Kopru Bridge yang berada di sungai Seyhan. Jembatan ini dahulu digunakan sebagai rute yang menghubungkan laut Mediterania. Di tengah jembatan, kita bisa meihat Sabanci Central Mosque, sebuah masjid megah yang memiliki enam pilar di bagian eksteriornya, di mana pada umumnya masjid hanya memiliki empat pilar.



Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menuju Cappadocia. Rute Adana-Cappadocia sungguh tak terduga. Dari sejuknya Adana, di tengah perjalanan berubah menjadi salju ringan, salju lebat, dan sesekali hujan es. Dari situ kami juga mendapatkan informasi bahwa balon untuk dua hari ke depan tidak akan bisa terbang. Sontak terdengar keluhan kekecewaan dari hampir semua peserta tur. Rasanya kayak ditinggal pergi sama yang lain pas lagi sayang-sayangnya. Ya ampun Mil, enggak nyambung.

Hari 2 - Cappadocia (Kayseri)
Cappadocia sebenarnya bukan nama kota ataupun provinsi, namun nama Cappadocia lebih dikenal karena merupakan daerah bersejarah. Salah satu provinsi di daerah Cappadocia adalah Kayseri yang menjadi tempat kami menginap.


Sampai di Cappadocia kami disambut hujan salju dan cuaca minus. Dataran unik Cappadocia disebut sebagai daerah pahatan batu terbesar di dunia, terbentuk oleh erosi batu vulkanik dari letusan gunung api purba yang menutupi wilayah tersebut dengan abu tebal dan kemudian mengeras menjadi batuan lembut yang disebut tuff. Batuan lembut inilah yang akhirnya oleh penduduk dipahat hingga menjadi gua untuk tempat tinggal, gereja, ataupun tempat persembunyian pada masanya.


Hamparan pahatan batu yang saat ini dijadikan tempat wisata karena sejarahnya adalah Goreme Open Air Museum. Museum terbuka ini berisi banyak goa-goa kecil yang dulunya adalah gereja maupun tempat tinggal penduduk. Salju di sini semakin tebal dan menurut Cansu, sangat aneh merasakan salju di Turki khususnya di Cappadocia di bulan April. So I can say that we are lucky! (Yha walaupun harus menggigil beberapa kali karena tidak ada persiapan outfit winter. Untung saja ada tangan kamu yang bisa digenggam biar hangat segelas kopi panas yang dalam sekejap jadi es kopi).


Alhasil, Goreme yang kulihat saat itu begitu berbeda dengan yang kubayangkan selama ini, justru lebih mirip Winterfell, minus keluarga Stark tentunya. But cold is not the obstacle to take photos, dong. Karena tidak bisa naik balon, akhirnya kami memilih opsi untuk naik jeep keliling daerah yang tidak bisa diakses bus. Lumayan lah, nyetirnya kek lagi offroad gitu. Bayarnya? 100 USD (agak nyesek).


Jernihkan pikiran agar tidak membayangkan yang tidak-tidak ya di foto ini

Selesai naik jeep, kami diberi segelas minuman. Bukan, ini bukan anggur merah yang selalu memabukkan diriku itu, tetapi ini berry juice yang rasanya lebih mirip Fanta.


Sebelum meninggalkan Cappadocia, kami mampir ke sebuah underground city yang menurutku tidak disarankan untuk pengidap claustrophobia. Alhamdulillah dengan ukuran saya ini, bisa keluar ruang bawah tanah dengan selamat.

Hari 3 - Konya & Antalya
Konya, The City of Rumi, adalah nama provinsi sekaligus nama ibukota yang masih berada di sisi selatan Turki, bukan nama bubuk gilingan kerupuk dan bawang pelengkap soto Cak Har, ya. Sampai di Konya, kami disambut dengan cuaca yang segar dan beberapa tulip terlihat bermekaran di berbagai sudut.



Kotanya tertata rapi, sangat bersih, dan terlihat konservatif. Disebut City of Rumi karena di sinilah jejak penyair Sufi, Maulana Jalaluddin Rumi bisa ditemukan dalam Mevlana Museum. Area museum ini terbagi menjadi beberapa ruangan seperti mesjid, madrasah, makam, dan ruangan tarian sufi. Di kota Konya inilah, Jalaluddin Rumi menyebarkan ajaran sufi sekaligus memperkenalkan tarian sufi.


Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke kota Antalya, kota yang menurutku sangat cantik. Di sana kami sempat mengunjungi Aspendos Theatre, sebuah amphitheatre yang dibangun pada zaman Yunani dan masih terawat hingga sekarang. Sedikit sejarah dari Aspendos adalah pada mulanya dibangun sebagai bentuk sayembara dari raja untuk memilih pria yang akan menjadi pasangan putrinya. Selain Aspendos, terdapat juga Aquaduct yang berfungsi untuk mengalirkan air dari pegunungan langsung ke penduduk.




Satu hal menarik di kota Antalya adalah hotel kami berada di pinggir laut, dengan sekelililngnya adalah pegunungan yang masih menyisakan salju di puncaknya. Seperti sedang melihat Mordor dari kejauhan, indaaaaah sekali. Antalya adalah pilihan lokasi orang-orang Turki untuk menghabiskan musim panas.


To be continued...

1 komentar:

Osa Angelia Putri mengatakan...

Begini tah ceritanya mba azmil liburan kemarin. Oke.. aku ikut merasakan. Ceilah merasakan. Hahaha