Rabu, 15 Mei 2019

Finally I Made It To Turkey! (Part 2)

Hello again,
Izinkan saya melanjutkan cerita perjalanan ke Turki ini sebelum kelupaan.


Di hari keempat dan selanjutnya ini, akhirnya sudah mulai menuju ke kota. (Bukannya apa-apa ya, tetapi sudah sangat rindu makanan cepat saji saya tuh)

Hari 4 - Antalya - Pamukkale
Destinasi pertama kami hari itu adalah Duden WaterfallsNothing's special, sih. Duden Waterfalls ini adalah sekumpulan air terjun di tengah kota Antalya yang akan berakhir langsung ke Laut Mediterania.


Selanjutnya kami mengunjungi Old City Marina, sebuah kota tua yang masih dijaga dan ditata sedemikian rupa sehingga setiap sudutnya menjadi spot yang indah untuk berfoto. Rasanya akan sangat nyaman menghabiskan sore hari di deretan restoran dan kafe yang ada di sana kemudian berjalan kaki di sepanjang pelabuhan, with the right person. #eaaa #lhakokhalu.



Kota selanjutnya adalah Pamukkale, yang terkenal dengan Cotton Castle, yaitu situs alam berupa hamparan kolam bebatuan putih seperti kapas yang berasal dari endapan kalsium karbonat. Di dalam kolam tersebut mengalir air panas yang dipercaya baik untuk kesehatan.


Sayang sekali, ketika kami datang ke sana, Cotton Castle berubah menjadi hamparan cendol, alias banyak sekali pengunjung yang datang haha. Jadi setelah incip rasanya air panas di kolam, aku dan beberapa peserta menuju ke reruntuhan kota kuno Hierapolis yang masih dalam satu lokasi. Hierapolis termasuk situs yang sangat luas, yang paling menarik adalah teater Hierapolis dan kuil Apollo.


Kolam pemandian Cleopatra, katanya

Dari Hierapolis, beberapa peserta termasuk aku tentunya, menonton tari Sufi secara langsung dengan durasi total 45 menit, bayarnya 60 USD. Walau termasuk mahal, tetapi worth to watch untuk menyaksikan di sana langsung. Such a magic experience for me. Setelah tahu sejarah dan situs peninggalan ajaran Sufi, rasanya merinding ketika menyaksikannya secara langsung.

Hari 5 - Pamukkale - Kusadasi
Pagi itu Pamukkale cerah dan dari hotel aku melihat beberapa balon terbang. I'm so excited, I can't stop smiling that day! Kalau ditanya rasanya gimana? Panas euy haha. Untunglah aku ada di pinggir keranjang jadi tidak terlalu merasakan panasnya gas yang membuat balon tetap mengembang. Sungguh 45 menit yang... I can't even describe how gratefull I am on that day. Untuk naik hot air balloon, per orang membayar 230 USD. (nyesek sih, pake banget, tapi enggak nyesel)

Still can't stop smiling :"
Sekali lagi, itu berry juice, ya. Aku masih anak baik-baik, kok.

Tujuan berikutnya adalah Ephesus, another old city from Roman empire tetapi menurutku yang paling indah dari semua kota kuno yang kami kunjungi sebelumnya. You know, I really love Greek and Roman mitology, so it's kind of heaven for me. Ephesus sangat luas dan orang-orang mengibaratkannya sebagai Pompeii-nya Turki. Peninggalan yang masih bisa dikunjungi hingga saat ini adalah perpustakaan Celcus, Grand Theatre tempat para gladiator bertarung, Agora yang berupa jalanan dari batu marmer yang merupakan bekas pasar, Heracles Gate, House of Virgin Maria, Kuil Hadrian, Kuil Artemis, dan The Cave of Seven Sleepers, goa tempat cerita tujuh orang Ashabul Kahfi yang tertidur selama 300 tahun. Ya, walaupun kebenarannya masih menjadi perdebatan, sih.


Banyak gaya amat sih, Mil

Hari 6 - Kusadasi - Bursa - Istanbul
Hari itu kami lebih banyak berada di perjalanan. Siangnya, kami sampai di Bursa untuk mampir membeli beberapa oleh-oleh. Yang terkenal tentu saja Turkish delight. Sesampainya di Istanbul, senang rasanya setelah satu minggu terasa seperti di pedalaman, akhirnya melihat kota lagi! And of course, craving for fastfood! Ngeliat KFC dan McD setelah satu minggu makan nasi-sup-kebab itu surga sekali rasanya.

Hari 7 - Istanbul
It was Constantinopel~
Ada satu kesamaan Istanbul dengan Jakarta, yaitu sama-sama dalam daftar kota termacet di dunia. Belum lagi ditambah dengan kondisi Turki yang sedang high season. Tujuan pertama kami hari itu adalah Topkapi Palace, yang merupakan tempat tinggal resmi Sultan Ustmaniyah.



Di dalam komplek istana yang sedang mengalami renovasi di beberapa titik tersebut, tersimpan banyak peninggalan bersejarah bagi umat Islam seperti pedang dan jubah Rasulullah. Dari Topkapi, kami menuju ke Hagia Sophia. Bangunan ini awalnya merupakan sebuah gereja, kemudian menjadi masjid pada masa Utsmaniyah, dan sekarang menjadi museum yang terbuka untuk semua orang. Jika harus membuat list tempat terindah yang pernah kukunjungi, Hagia Sophia pastilah ada dalam daftar itu.



Ketika Dhuhur, kami mengunjungi Blue Mosque atau disebut juga dengan Masjid Sultan Ahmed dan menyempatkan sholat di sana. 

Sore harinya, kami menuju ke Grand Bazaar. Pasar ini terdiri dari 3000 toko yang menjual berbagai macam barang mulai dari makanan, pernak-pernik, karpet, perhiasan, baju, dan banyak lagi. Grand Bazaar memiliki sekitar 61 jalan yang berbeda jadi harus hati-hati sekali kalau enggak mau nyasar di tengah pasar.



Selain itu, berdasarkan pengalaman, kalau ketemu barang yang disuka langsung saja beli. Kalau mau jalan-jalan lagi untuk lihat harga di toko yang lain, biasanya sih enggak akan ketemu lagi tuh toko yang pertama didatangi. Satu hal lagi, harus pinter dan berani nawar. Indonesia sih ini ahlinya.

Hari 8 - (still) Istanbul
Akhirnya tibalah hari untuk menyaksikan tulip-tulip bermekaran yang sekaligus menjadi judul dari trip kali ini. Kami tiba di Emirgan Park pagi hari dan sudah ramai dong. Bunga tulip itu sendiri memang pada sejarahnya pertama kali dibudidayakan pada masa Kekaisaran Ottoman. Pada abad keenam belas, barulah bunga tulip masuk ke Belanda dan menjadi ikon negara itu. Someday nampaknya harus bisa Keukenhoft, biar bisa membandingkan, ya. Give me Aamiin, please.



Dari Emirgan Park kami menuju ke selat Bosporus untuk Bosphorus Cruise! Dari private boat, terlihat kota Istanbul di sisi Asia dan Eropa, beserta bangunan-bangunan megah yang menjadi daya tarik kota Istanbul.


Setelah itu barulah kami medapatkan free time dan dilepas di Taksim Square selama beberapa jam. Taksim Square berisi deretan pertokoan yang panjang dan sangat padat manusia dengan jalur tram di tengahnya. Tram merah yang terkenal itu, sesekali melintas dengan pelan dan memecah kepadatan pengunjung Taksim Square. Galata Minaret juga wajib didatangi ketika berada di area Taksim Square.



Perjalanan delapan hari melintasi berbagai kota dan provinsi di Turki berakhir malam itu. Saatnya kembali ke Indonesia dan cari cuan lagi untuk jalan-jalan lagi. Canda ding. Aku penganut ungkapan "pergi yang jauh agar tahu rasanya rindu rumah", so yeah, setelah delapan hari di negara orang, rasanya kangen juga dengan kasur di rumah, atau di kosan.

Merem, duh.
Satu lagi deh foto pas di bus ehehe

Satu hal yang diriku sendiri belum bisa percaya adalah untuk pertama kalinya bisa dan berani pergi ke suatu tempat yang baru sendirian untuk akhirnya bertemu dengan orang-orang baru dan melakukan hal yang baru pula.

Hot air balloon flight adalah impian sejak kecil, selalu kutulis di buku setiap buku catatan, tembok kosan, bahkan wallpaper komputer dari zaman sekolah sampai sudah bekerja dengan harapan semakin sering dilihat, maka kemungkinan untuk bisa dilakukan akan semakin besar. Yah, semacam doa dan semangat jika sedang merasa lelah agar ingat ada mimpi yang harus dicapai, ada tempat yang harus dikunjungi, ada pengalaman baru yang harus dirasakan.

I believe that every person has their own dreams, priorities, and timeline in life. So no need to put our standards to others. This one is mine, and I would never regret it.

One more thing crossed off my bucketlist! Looking forward for another!

Tesekkur Ederim!

Tidak ada komentar: