Kamis, 13 Agustus 2020

Short Getaway to Bandung

 Rencana awal:

"Banyuwangi, Yuk!"

"Eh tapi kan zona merah tuh Jawa Timur"

Satu bulan kemudian...

"Ke Semarang, Malang, atau Bandung enaknya ya"

Lalu semua sepakat ke Bandung. Eh, lalu keluar aturan baru ini itu. Tapi tetap saja berangkat.


Hello again, Bandung!

Tujuan ke Bandung memang hanya untuk staycation dan menikmati kuliner sana. Itinerari sudah dibuat dengan aturan *bisa berubah sewaktu-waktu*

Mantap sekali!

Kami tiba di Bandung Jumat pagi. Hari itu dimulai dengan sarapan di Warung Kopi Purnama. Karena kalap, segala hal rasanya ingin dibeli haha. Yang sempat kami coba adalah nasi goreng, kwetiau, aroma cheese, cireng, roti srikaya, pisang goreng, dan tentu saja kopi.



Suasana di Warung Kopi Purnama ini pun sangat nyaman untuk tempat sarapan dan ngobrol di pagi hari. Khas warung kopi melayu gitudeh. Setelah kenyang dan hilang segala lelah, kami lanjut ke Kopi Aroma. Di sana kami hanya membeli beberapa bungkus kopi untuk dibawa pulang. Sempat mampir ke Calla The Labels juga dan di sana akhirnya tergoda juga beli salah satu koleksi hadeh hadeh efek lama tidak ketemu barang-barang lucu selama masa berdiam diri di Puertoriko.

Lanjut, kami memutuskan untuk ke hotel saja. Udah mahal-mahal ya kudu dinikmatin yakan. Hotel kami di Swissbell Resort Dago. Mayan juga naiknya. Hotelnya segala ada deh dari balkon sampai bathub. Luasnya bisa dipake main futsal. Siang hingga sore hari itu saatnya bobok dan berdiam dan menikmati sejuknya udara.

Jumat malam, saat mulai lapar, kami ke Imah Babaturan. Di sana pesan segala hal juga dong sesuai. Ada nasi goreng ayam kampung, cumi cabe hijau, sate sapi. Selesai makan, kami lanjut ngopi di Yumaju. Hadeeeh, enak kali lah segala pastry yang ada di sana huhu monangis.


Hari kedua, kami memulai hari dengan pergi ke Cici Claypot. Di sana kami beli cireng yang hits di sana, baso aci, dan tentu saja mie kriuknya. Selanjutnya kami ke PVJ hahahaha saatnya berbelanja!


Salah satu itinerari kami adalah ke Sunday Bowl, ituloh tempat makan sereal yang hits sekali. Eh tapi waktu sampai sana ternyata antre panjang sekali. 

Maka beloklah kita ke Yumaju di cabang yang berbeda. Karena sudah bukan di umur dedek-dedek lagi, maka selesai dari Yumaju kami kembali ke hotel. Nah, mumpung di Bandung, kami memesan Nasi Goreng Tiarbah yang lagi ramai di masyarakat.

Di hotel, lanjut dengan kesibukan masing-masing. Kalau aku sendiri malah nyari makanan apa di Grabfood hahaha. Akhirnya belilah sate taichan bengawan.

Hari Ketiga dihabiskan dengan leyeh-leyeh saja sampai check-out. Sebelum kembali, kami mampir di Primarasa dan Marugame Udon. Rasanya sudah lamaaaaa sekali tidak memakan makanan enak huhuhuhu.

Tiga hari di Bandung ini ya cukup lah untuk mengobati kerinduan jalan-jalan atau roadtrip selama masa pandemi. Tentu saja dengan magic words tetap mengikuti aturan dan protokol yang berlaku, ya!

Sabtu, 13 Juni 2020

How I Met My Favorite TV Series

You can have Manhattan
'cause I can't have you...

Hari ini hari Sabtu yang cerah. Setelah tiga bulan lamanya, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan siang hari di kafe terfavorit di kota ini. Sendirian, dengan es latte dan roti naan keju, yang pertama kalinya aku coba. Pasang headphone dengan playlist random yang dimulai dari lagu Lingering Still-nya She & Him, dilanjutkan dengan lagu Manhattan dari Sara Bareilles, dan lagu santai lainnya.

Sebelum pergi, aku menyelesaikan menonton ulang How I Met Your Mother untuk kedua kalinya. Serial yang banyak dibilang sebagai imitasi dari Friends dan keduanya sering dibandingkan. Menurutku sendiri, aku suka kedua serial ini dengan cara yang berbeda.

Menurutku, di Friends, tiap tokoh punya porsi yang setara. Nggak ada satu tokoh yang terlalu mendominasi. Nah, sedangkan di How I Met Your Mother, kisah Ted Mosby bertemu The Mother menjadi fokus utama. Karakter beserta story line tiap tokoh di kedua serial ini pun sungguh beraneka ragam. 

Rasanya beruntung bisa tumbuh dewasa bersama dua serial TV yang mengangkat tema serupa ini. Persahabatan dan kehidupan di kota besar. So silly, aku pernah bermimpi suatu saat di umur sekarang ini bisa hidup di kota besar, di sebuah apartemen, bersama sahabat menikmati segala masalah hidup. Relationship, pekerjaan, keluarga, dan hal-hal kecil lainnya. Realitanya? I don't have those things.

More than that, kedua serial ini mengajarkanku bahwa hidup itu simpel kok. Coba satu hal, kalau gagal ya coba lagi. Nikmati prosesnya. It's okay if you don't know what to do. It's okay if you failed. It's never too late to do something new.


Selasa, 26 Mei 2020

Lebaran a la The New Normal

Sama dengan istilah "Millennials", The new normal sekarang udah kayak jajan kacang di terminal, laris di mana-mana. The new normal ini berlaku di segala aktivitas di pekerjaan, pendidikan, sosial, dan sekaligus ekonomi. Yang biasanya bertatap muka, sekarang semua dilakukan dari jarak jauh. Kepercayaan, komunikasi, dan perangkat yang dipakai jelas menjadi kendala baru.

Yang biasanya belanja harus melihat, memegang, bahkan mencoba produk secara langsung, harus belanja secara daring.
Yang biasanya kalau bertemu orang ada physical touch, sekarang harus menjaga jarak, bahkan hanya bertatap secara dua dimensi.
Yang terakhir ini yang menurutku sangat susah dan tidak bisa disubtitusi. Sebagai seorang sagitarius sejati yang tidak bisa diam, jelas kondisi ini bikin kesal sendiri. Yang biasanya kalau sedang stres atau banyak pikiran larinya dengan jalan-jalan, sekarang nggak bisa. Parahnya, masih belum ketemu alternatif healing yang satu ini.

Oya, selamat Hari Raya Idul Fitri!

Puasa Ramadhan tahun ini bahasa kerennya tidak terasa Ramadhan's vibe nya gitu. Sahur dan buka puasa yasudah tidak ada hal yang istimewa. Tidak ada suara orang tadarus dari masjid, tidak ada pula sholat tarawih berjamaah. Sejak kecil, bisa dibilang lebaran adalah satu-satunya momen yang paling aku tunggu di tiap tahunnya. Melebihi aku menunggu liburan sekolah. Bukan karena uang salam tempel yang akan aku terima, bukan. Bukan karena baju barunya, bukan. Bukan juga karena makanan yang pasti melimpah. Lebaran adalah momen hari yang entah kenapa menyenangkan dan harus dibuat berbeda dengan hari yang lain. Tahun ini, bisa dibilang adalah lebaran terunik. Cuma bisa bertahan di tempat perantauan dengan teman-teman yang bernasib sama. Menyiapkan makanan sebisanya. Bertegur sapa dengan keluarga hanya dari jarak jauh.

Tiga bulan sudah berlalu. Now I'm feeling empty.

Senin, 04 Mei 2020

Is This an April Fools' Joke?

April should be the month of rewakening.

Seharusnya yang aku tulis di sini adalah pengalamanku ikut event lari pertama kalinya.
Atau cerita tentang roadtrip dan staycation di Dialoog Banyuwangi.
Atau ungkapan betapa senangnya mendapatkan lisensi menyelam.

Berbagai list-to-do bisa dicoret di bulan April.

Kalimat "Manusia bisa berencana namun Tuhan-lah yang menentukan" itu benar adanya. Mungkin memang harus bersabar lebih lama. Mungkin memang ada rencana lebih baik.

Lalu apa yang terjadi selama bulan April sehingga bisa lupa menulis di sini dan baru sempat menulis di awal bulan Mei?

My bad, sorry.

Sejak minggu kedua bulan Maret hingga tulisan ini dibuat, sebagian besar kegiatanku monoton di dua lokasi, kantor dan kosan. Basically, rutinitas pekerjaan sama saja, tidak ada yang berubah. It's not something fun to tell here. Namun, mari kita lihat dari pendekatan secara sosial. Purwokerto bukanlah kota metropolitan. Hanya ada satu mall di sini (lainnya aku sebut sebagai swalayan saja), dan sejak Covid-19 merebak, berbagai toko tutup. Bioskop sebagai satu-satunya hiburanku di sini juga tutup. Ngobrol sampai pagi di Level Up tanggal 14 Maret adalah terakhir kali aku nongkrong tanpa harus menjaga jarak atau memakai masker atau tangan yang selalu wangi karena sabun dan handsanitizer. Yak, hampir dua bulan sudah.

Kangen naik kendaraan umum ojek online, kereta, pesawat.
Kangen narik-narik koper dan membuat itinerary.
Kangen makan di luar atau ngopi berjam-jam di kedai kopi favorit.
Kangen nonton di bioskop sambil mendengarkan aaal around youuuh dan sijivi ai si yu tudey.
Kangen bersosialisasi dengan manusia tanpa rasa takut.
Kangen berjabat tangan, takutnya ntar dikira ukhti-ukhti gitu kalau terlalu sering menolak salaman.
Kangen rumah.
Kangen dia.
Gak ding, yang terakhir ngarang.

It's getting worse ketika memasuki bulan Ramadhan. Seharusnya bisa buka bersama dengan teman dari berbagai circle sambil update kehidupan atau sambil gendongin anak-anak mereka hahaha yaampun sudah tua teman-temanku ini. Seharusnya bisa pulang dan memakan masakan rumah. Seharusnya bisa kena marah karena disuruh i'tikaf tetapi malah tidur di lantai masjid. Sudah empat tahun Ramadhan nggak di rumah tetapi kali ini jadi suka nangis kalau buka atau sahur sendiri. Hadeh pokoknya kalau dibiarkan sendirian ngelamun nanti pasti jadi nangis tanpa sebab. Hello kitty banget sih ah malu kali sama badan *ngomong sama kaca*

Yang lebih menyebalkan dari semua ini adalah, rencana tahun 2020 yang sudah kubuat dengan cukup ambisius. Roadmap-nya jelas. Eh tapi nggak ada manajemen risikonya gitudeh~

Nah, yang paling menyebalkan lagi nih, nggak ada yang tahu kapan ini semua berakhir. Kata orang-orang yang pinter di luar sana sih nggak perlu menunggu kapan selesai. Kita harus beradaptasi dengan perubahan dan kebiasaan baru ini. This is the new normal

Lha, emangnya hidup kita sebelum ini sudah normal?

Aku cukupkan mengeluh dan sarkasnya. Sebagai orang yang nggak mau tahu pokoknya harus ada suatu pencapaian seremeh apapun, aku tidak tinggal diam dan meratapi nasib, dong. Sebagian kecil sisi optimisku bilang bahwa rencana-rencana di tahun ini nggak semuanya gagal begitu saja. Banyak yang bisa dilakukan atau minimal dicicil deh. Membuat dalgona dengan sukses nggak termasuk lho ya. Itu mah piece of cake, nggak perlu ditulis di buku keramat. Yah, semoga sisi optimis ini nggak ikut-ikutan kelakuan sisi pesimis yang nyuruh buat diem mulu meratapi nasib, ya. Give me aamiin!

Semoga segera membaik semuanya! Cukuplah Liverpool dan piala Liga Inggris saja yang menerapkan social distancing.



Sambil mengetik tulisan ini, dua helai bulu mata jatuh. Siapa yang kangen coba?

Sabtu, 14 Maret 2020

Kuy ke Bromo!

Ke Bromo ini sudah diniatkan sejak awal tahun. Sempat tertunda karena adanya car free month selama pertengahan Januari-Februari. Maka jadilah kami pergi di awal bulan Maret.

Let me tell you cerita perjalanan ke Bromo yang penuh drama ini hahahaha.

Kami berangkat hari Jumat sore naik kereta dari Puertoriko tercinta tujuan ke Surabaya. Di awal sudah ada drama hampir ketinggalan kereta. Udah kek film India yang ngejar kereta demi cinta #halah. Sampai di Surabaya dini hari, kami menunggu kereta lokal ke arah Malang. Nah, ada drama lagi nih. Karena keretanya ini pas subuh, jadi beberapa teman ada yang sholat subuh dulu. Eh ternyata ngantre. Sampai satu menit kereta mau berangkat, ada yang masih sholat. Akhirnya masuk kereta sambil lari tanpa pakai sepatu. Kocak kalau diinget tuh.

Di Malang kami bebersih dan beristirahat di kantor PLN UP3 Malang. The perks of being pegawai PLN yang kantornya ada di mana-mana adalah bisa numpang kalau sedang transit atau budget mepet untuk sewa hotel dan penginapan lainnya. Cukup sebutkan passwordnya dari PLN mana dan kalau ada sebutkan nama teman yang kantornya di sana. Untuk berkeliling Malang juga kami sewa mobil dari langganan orang PLN Malang.


Sekitar jam 10 pagi, kami bergerak pergi sarapan di Pecel Kawi 1975. Berkali-kali ke Malang, ini pertama kalinya aku ke warung pecel ini. Cukup sih untuk obat kangen makanan Jawa Timur. Setelahnya, ada drama lagi di mana salah satu teman cuma bawa sandal jepit padahal mau ke Bromo. Prinsipnya, don't be difficult people, jangan kek orang susah. Akhirnya, mampir mall dulu dan beli sepatu. Semacam sultan memang.

Tujuan pertama kami adalah Jatim Park 3. Dengan tiket masuk seratus ribu, kami masuk ke wahana Dino Park. Ala Jurassic Park gitu deh tetapi isinya boneka semua, bukan hasil kloning dan bukan buatan Steven Spielberg. Sayangnya cuaca sedang tidak menentu kayak mood cewek kalau lagi PMS. Cerah dikit, lalu mendung, hujan dikit, hujan deras, jadi satu. Drama lagi karena saling menunggu teman yang baru datang.







Sekitar jam 3 sore, kami keluar dari wahana lalu cari makan dan menuju destinasi selanjutnya yaitu Museum Angkut. Terakhir kali ke museum ini pas masih awal dibuka banget. Sekarang, koleksinya semakin banyak tentunya. Setelah puas foto sana-sini dan terlihat muka-muka yang mulai lelah dan kelaparan, kami keluar dari Museum Angkut sekitar jam 7 malam. Kami lanjut untuk makan bakso bakar dan pos ketan legenda yang memang enaknya melegenda itu.




Kurang lebih jam 9 malam kami sampai lagi di PLN UP3 Malang. Di sana kami bebersih lagi dan istirahat sambil menunggu dijemput untuk menuju Bromo tengah malam. Yang nggak tidur? tentu saja aku. Jam 12an malam kami dijemput dua jeep dan menuju Bromo. Akhirnyaaaaa! Perjalanan ditempuh selama sekitar 30 menit sampai di titik awal pintu masuk wisata Bromo. Sekali lagi, nggak tidur dan malah ngobrol sama mamang sopirnya.

Jam 3 pagi hari Minggu kami sampai di lokasi untuk melihat sunrise. Masih harus menunggu sekitar 2 jam sampai matahari muncul. Beberapa menunggu di warung sambil makan popmie, pisang goreng, kopi, dan teh panas yang dalam sekejap jadi es teh. Yang lain? Lanjut tidur di jeep. Saat matahari seharusnya mulai muncul, eh kabutnya ikutan muncul dong.


Setelah puas dengan sesi foto, kami lanjut turun ke lokasi lembah Widodaren untuk sesi foto selanjutnya. Udah semacam sesi foto buku angkatan aja inituh hahaha. Lokasi selanjutnya adalah Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies, yang menurutku lokasi paling magic dari yang lain. Kenapa? Karena bagusnya pakai banget. Walaupun di bukit untuk melihat sunrise penuh kabut, di bawah cerah sekali dan indaaaaah. Rasanya nggak mau pulang. Tentu saja sesi foto dilanjutkan di sana.





Dalam perjalanan ke Bromo ini kami memakai jasa group tour dari @kambinggunung yang sudah include dengan dokumentasinya. Lumayan, jadi enggak perlu bawa tripod atau gantian fotonya. Sekaligus nggak perlu pake preset buat edit foto.

Karena kereta kami jam 1 siang, maka sekitar jam 11 kami sudah perjalanan ke arah Malang lagi. Sebelum naik kereta, kami sempat makan di Nasi Bug Bu Matirah di sebelah stasiun. Alhamdulillah, di perjalanan pulang selama naik kereta nggak ada drama.

Tapiii, setelah sampai di Purwokerto, masih lanjut dramanya. Mobil yang diparkir di stasiun ternyata lampunya nggak dimatikan. Alhasil, aki drop dan harus dipancing dulu. Jam 2 pagi hari Senin baru bisa tidur tenang di kosan.

Dua hari tiga malam yang sungguh banyak cerita. Tapi sangat senang bisa kembali ke Bromo setelah lima tahun yang lalu. Pertanyaan buat kalian, ada berapa kali drama di ceritaku di atas?


Minggu, 09 Februari 2020

Food Galore di Makassar

Natal tahun 2019, ada sebuah pesan Whatsapp dari nomor yang tidak kukenal. Ternyata Diza, teman satu asrama di pembidangan PLN mengirim undangan nikahan. Dan lokasinya adalah di Makassar.

Langsung terpikir, wah kebetulan nih belum pernah ke Makassar, atau ke kota manapun di Sulawesi juga belum. Kurang jauh memang mainku.

Yang terjadi selanjutnya adalah bikin grup yang isinya siapa saja yang akan datang, janjian berangkat dan pulangnya, reservasi hotel, diskusi kado, dan rencana tempat yang didatangi di Makassar sambil sedikit-sedikit sambat perkara pekerjaan.

Karena baru pertama ke sini, cuma kepikiran untuk wisata kuliner di sekitar kota Makassar. I did some research and made a list from it. Yang menyenangkan adalah, teman-teman yang lain nggak rempong. Dari list yang kubuat, diskusi sebentar, keputusan diambil, cus berangkat. Inilah beberapa tempat yang aku dan teman-teman datangi.

monmaap fotonya miring-miring

1. Nasi Kuning Ribura'ne
Kami sampai di Makassar sekitar jam 08.00 pagi, jadi yang dicari pertama kali pastinya sarapan khas di sini. Agak aneh awalnya ketika lagi nyari, yang direkomendasikan adalah nasi kuning, sarapan yang sangat umum di Jawa. Tetapi karena penasaran dan semua setuju, kami pergi ke nasi kuning Ribura'ne, tak jauh dari pantai Losari. 


Menurutku yang sangat suka nasi dengan rasa (red: nasi kuning, nasi uduk, dan teman-temannya), jika dibandingkan dengan nasi kuning di Jawa, nasi kuning di sini tidak terlalu berbau pandan dan lebih kuat rempahnya. Untuk lauk pendampingnya juga lebih berkolesterol. Ada semur daging, ada paru, abon daging, telur pindang, sayur lodeh labu siam, dan kering kentang. Ada dua porsi yang ditawarkan, porsi biasa dan porsi jumbo. Dari rombongan kami, cuma satu yang pesan porsi jumbo, ya taulah siapa orangnya.

2. Mama Toko Roti, Kue, dan Eskrim
Snack time! Tahu tempat ini dari rekomendasi Kenny Kartupos. Toko mama ini semacam Toko Oen kalau di Semarang. Ada banyaaak sekali macam kue dan makanan khas yang dijual. Yang sempat aku coba adalah es pisang ijo dan sanggara balanda. Sanggara balanda adalah pisang goreng isi kacang. Enak, enaaak sekali!


3. Aroma Coto Gagak
Walaupun tidak makan daging, aku tetap menuliskan berbagai makanan berbahan dasar daging dalam itinerary kami. Coto Gagak ini bukan pakai daging burung gagak ya, namun lokasinya ada di Jalan Gagak. Aku sih enggak nyoba, tapi kata-teman-teman yang makan, ini cotonya enak!


4. Pangsit Goreng Kruris
Tahu jajanan ini juga karena postingan dari Kenny Kartupos hahaha. Beli dua bungkus via Go-Food dan ludes dalam sekejap. Jadi Kruris ini singkatan dari Kerupuk Riska, yaitu pangsit yang isinya olahan daging dan disajikan bersama sambal. Seenak itu memang. Akhirnya kami beli lagi dan masih kepikiran enaknya sampai sekarang.


5. Pisang Epe dan Jagung Serut
Awalnya pengen makan pisang epe dan jagung serut langsung di pinggiran pantai Losari. Namun hari itu gerimis tak kunjung berhenti. Akhirnya mengandalkan Go-Food untuk pesan. Pisang epe adalah pisang yang dipenyet atau digeprek kemudian dipanggang dan diberi tambahan seperti gula aren, parutan kelapa kering, coklat, keju, sampai durian juga ada. Another olahan pisang yang kusuka.


6. Toko Kopi Ujung
Pernah menonton Filosofi Kopi 2? Nah, lokasi kafe di pembuka filmnya adalah Toko Kopi Ujung ini. Pada mulanya toko ini adalah toko kelontong yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga dan dia juga memproduksi kopi sendiri. Sekarang mereka menjual berbagai macam oleh-oleh makanan khas Makassar dan juga berbagai macam kopi. Untuk kafenya sendiri cuma terdiri dari beberapa kursi dan meja. Pas datang ke sana sempat takut salah tempat juga karena bingung mau duduk di mana.


7. Mie Titi Jl Sulawesi
Perjalanan kuliner kami belum berhenti. Mie Titi itu sendiri adalah mie yang digoreng kemudian disiram kuah kental berisi sayuran dan daging. Yaaa mirip seperti ifumie gitu tapi dengan mie yang lebih kecil dan kuah yang lebih enak. Selain olahan mie, di sini juga terkenal dengan nasi goreng merah.


8. Konro Karebosi
Hari kedua di Makassar dimulai dengan makan siang di Konro Karebosi. Tentu saja saya tidak ikut makan. Namun dari tampilan masakannya sungguh menggoda selera. Kalau kata teman-teman ini mantap juga. Wajib coba pokoknya kalau sedang di Makassar.


9. Kampoeng Popsa
Kata teman yang asli Makassar, ini tempat anak Makassar nongkrong. Tempatnya sih lucu karena menghadap langsung ke laut. Cocok untuk yang suka kumpul ramai-ramai sambil mendengarkan live music gitudeh. Di sini ada berbagai macam food stall dengan menu yang berbeda pula. Ke sini karena butuh makan setelah skip Konro karebosi haha.


10. Mark Trees Cafe
Setiap pergi ke tempat baru, yang kucari adalah makanan dan jajanan khas, kafe dengan kearifan lokal, dan kafe modernnya. Nah Mar Trees Cafe ini adalah pilihan untuk kategori ketiga. Untuk temanya pakai ala ala tropical dan tentu saja tak seindah yang ada di instagram hehe. Kopinya juga biasa saja, tapi Nutella Croissant-nya enaaaak!


11. Jalangkote Lasinrang
Sempat sedih karena Kruris baru buka jam 12 siang sedangkan kami harus mengejar penerbangan pulang. Namun kami sempat mampir untuk membeli jalangkote. Jalangkote ini jajanan khas Makassar yang bentuk dan isinya sama seperti pastel. Nah bedanya kalau di sini ada saus khusus sebagai teman makan jalangkote. Selain itu juga ada lumpia yang menurutku lebih enak daripada si jalangkote itu sendiri.


Jadi apa yang diingat dari pergi ke Makassar selama tiga hari? Tentu saja makanannya. Dari situ juga aku sadar banyak tempat-tempat bagus yang harus dikunjungi di sekitar Makassar dan Sulawesi. Nex time, aamiin. Sekaligus, satu list-to-do tahun ini yaitu pergi ke tempat baru yang belum pernah kukunjungi tercapai, yeay!

Minggu, 19 Januari 2020

Bilas muka, Gosok Gigi, Evaluasi

Kali ini mau meminjam satu baris lirik lagu Hindia, yang menurutku relatable dengan tulisan ini.

Kalau dipikir-pikir, tahun 2019 berlalu dengan amat cepat. Ada sedih aja, sedih banget, tetapi yang bahagianya juga banyak. Pernah di situasi yang merasa tidak mau berjuang lagi karena tidak tahu apa yang mau dicari, tetapi kemudian bertemu dengan situasi yang menguatkan. Lalu tiba-tiba saja datang tahun 2020. Silver lining-nya, tahun 2019 membuat diri sendiri lebih kuat.

Banyak yang bilang, tak perlulah membuat resolusi awal tahun yang seiring berjalannya waktu akan dilupakan dan menjadi resolusi berulang di tahun selanjutnya. Katanya, toh manusia cuma bisa berencana and let God do the rest. Akupun setuju. Namun, evaluasi akhir tahun dan resolusi awal tahun adalah jeda untuk kita bernapas. Mencoret satu ceklis keinginan kita yang akhirnya terpenuhi itu sensasinya tidak ada duanya.

Kilas balik ke tahun 2019,

  1. Mengunjungi dua negara yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. List to do paling ambisius di tahun 2019. And I did it! Aku berkesempatan pergi ke Malaysia dan Turki di bulan April. Banyak, sangat banyak sekali pelajaran dari kedua perjalanan itu. Sekaligus, bisa mencoret bucketlist nomor dua dalam hidup yaitu naik hot air balloon!
  2. Ke konser musisi internasional. Lagi-lagi di bulan April. Dari sini aku tahu kalau punya skill war tiket yang lumayan bisa diandalkan. Walau banyak drama di sana-sini sampai hampir telat masuk venue konser, aku merasa beruntung bisa hadir di konser pertama John Mayer di Indonesia setelah penantian yang sangat panjang.
  3. Membaca dua belas buku dalam satu tahun. Sesibuk apapun, di manapun, aku harus bisa meluangkan waktu untuk membaca. Bagiku, membaca buku bukan lagi hobi namun sudah menjadi kebutuhan.
  4. Belajar jenis olahraga baru. Dulu, Abi selalu mengarahkan anak-anaknya untuk belajar bela diri, dari Karate, Taekwondo, hingga Judo. Di Purwokerto yang dulunya aku sangat skeptis dengan kota ini, ternyata ada tempat latihan Muaythai yang cukup bagus. Walaupun semacam telat karena olahraga ini sudah hype dari beberapa tahun yang lalu, it is really worth to try. Jadi menambah teman juga!
  5. Menonton musikal. Pertama kali menonton musikal di tahun 2018, Lion King di Sands Theater, Singapore. Dan nagih euy! Akhirnya memutuskan bahwa nonton musikal harus jadi rutinitas tahunan. Di tahun 2019 berkesempatan menonton Aladdin. Rasa terpukaunya ketika menonton musikal masih sama, sungguh ajaib. Semoga suatu hari bisa nonton di Broadway, aamiin.
  6. Less waste dan decluttering barang-barang. Bebersih adalah passionku hahaha. Namun seringkali merasa sayang jika harus membuang barang yang sebenarnya masih bisa dipakai atau sangat optimis bisa kurus kembali dan memakai baju-baju yang sudah kekecilan. Belum lagi masih sering merasa tidak-punya-baju-yang-bagus-untuk-dipakai-ketika-akan-pergi-ke-suatu-acara. Akhirnya beli baju lagi, beli barang lagi, beli jajanan lagi, yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Di tahun 2019, aku bertekad untuk lebih bijak ketika membeli atau membuang sesuatu, and I'm still on the right track. Will talk about this in different post!
Selain yang bisa dicapai, banyak juga resolusi yang hanya menjadi wacana,
  1. Menulis satu post di blog setiap bulan. Menurutku, menulis bisa melatih kemampuan komunikasi dan kerangka berpikir kita. Setidaknya tidak hanya menjadi pembaca, tetapi harus bisa menjadi penulis yang baik walau sekadar menulis kegiatan keseharian. Meningkatkan kemampuan literasi juga, lho. Dari target 12 tulisan, di tahun 2019 hanya menghasilkan 2 postingan di blog.
  2. Menyetir mobil. Ugh, hal sepele namun menurutku sangat susah.
  3. Berat badan ideal. Aku berolahraga cukup di setiap minggunya, membuat makanan sendiri, banyak minum, namun badan ini masih bebal kelebihan berat badan. Mencapai berat badan kembali ideal bukan hal yang tidak mungkin, jadi hanya butuh konsistensi dan program yang benar. Namun sejauh ini, aku merasa sudah sangat jarang sakit dan bahkan dalam tiga tahun ini belum pernah sakit sampai harus ke dokter. Menurutku, tujuan utama adalah hidup sehat, berat ideal adalah bonus. Hahaha pembenaran macam apa ini.
  4. Belajar hal baru. Maknanya sangat luas memang. Maksudku di sini adalah belajar bahasa asing baru, belajar skill baru, apapun. Di tahun 2019 ini belum tercapai.
  5. Lanjut kuliah S2. Ini seperti wacana tidak berkesudahan, ya. Bismillah semoga bisa di tahun 2020.
Nah, agar semangat di tahun 2020 ini, seperti biasa, ada list panjang yang ingin dicapai:
  • Mengunjungi satu negara baru
  • Mengunjungi satu kota atau tempat baru di Indonesia
  • Ke event atau konser internasional
  • Go to a local concert
  • Read 12 books in the year
  • Improve my fitness, achieving ideal weight
  • Menyetir mobil dengan baik dan benar
  • Menulis 12 postingan di blog
  • Get my diving license
  • Learn a new language
  • Do DIY project
  • Learn a new skill
  • Master degree!
  • Live simply
Namun, dari semua keinginan ambisius itu, yang paling penting adalah hidup bahagia dan seimbang semuanya.
Melanjutkan lirik lagu Hindia,
Bilas muka, gosok gigi, evaluasi. Tidur sejenak menemui esok pagi.