Sabtu, 14 Maret 2020

Kuy ke Bromo!

Ke Bromo ini sudah diniatkan sejak awal tahun. Sempat tertunda karena adanya car free month selama pertengahan Januari-Februari. Maka jadilah kami pergi di awal bulan Maret.

Let me tell you cerita perjalanan ke Bromo yang penuh drama ini hahahaha.

Kami berangkat hari Jumat sore naik kereta dari Puertoriko tercinta tujuan ke Surabaya. Di awal sudah ada drama hampir ketinggalan kereta. Udah kek film India yang ngejar kereta demi cinta #halah. Sampai di Surabaya dini hari, kami menunggu kereta lokal ke arah Malang. Nah, ada drama lagi nih. Karena keretanya ini pas subuh, jadi beberapa teman ada yang sholat subuh dulu. Eh ternyata ngantre. Sampai satu menit kereta mau berangkat, ada yang masih sholat. Akhirnya masuk kereta sambil lari tanpa pakai sepatu. Kocak kalau diinget tuh.

Di Malang kami bebersih dan beristirahat di kantor PLN UP3 Malang. The perks of being pegawai PLN yang kantornya ada di mana-mana adalah bisa numpang kalau sedang transit atau budget mepet untuk sewa hotel dan penginapan lainnya. Cukup sebutkan passwordnya dari PLN mana dan kalau ada sebutkan nama teman yang kantornya di sana. Untuk berkeliling Malang juga kami sewa mobil dari langganan orang PLN Malang.


Sekitar jam 10 pagi, kami bergerak pergi sarapan di Pecel Kawi 1975. Berkali-kali ke Malang, ini pertama kalinya aku ke warung pecel ini. Cukup sih untuk obat kangen makanan Jawa Timur. Setelahnya, ada drama lagi di mana salah satu teman cuma bawa sandal jepit padahal mau ke Bromo. Prinsipnya, don't be difficult people, jangan kek orang susah. Akhirnya, mampir mall dulu dan beli sepatu. Semacam sultan memang.

Tujuan pertama kami adalah Jatim Park 3. Dengan tiket masuk seratus ribu, kami masuk ke wahana Dino Park. Ala Jurassic Park gitu deh tetapi isinya boneka semua, bukan hasil kloning dan bukan buatan Steven Spielberg. Sayangnya cuaca sedang tidak menentu kayak mood cewek kalau lagi PMS. Cerah dikit, lalu mendung, hujan dikit, hujan deras, jadi satu. Drama lagi karena saling menunggu teman yang baru datang.







Sekitar jam 3 sore, kami keluar dari wahana lalu cari makan dan menuju destinasi selanjutnya yaitu Museum Angkut. Terakhir kali ke museum ini pas masih awal dibuka banget. Sekarang, koleksinya semakin banyak tentunya. Setelah puas foto sana-sini dan terlihat muka-muka yang mulai lelah dan kelaparan, kami keluar dari Museum Angkut sekitar jam 7 malam. Kami lanjut untuk makan bakso bakar dan pos ketan legenda yang memang enaknya melegenda itu.




Kurang lebih jam 9 malam kami sampai lagi di PLN UP3 Malang. Di sana kami bebersih lagi dan istirahat sambil menunggu dijemput untuk menuju Bromo tengah malam. Yang nggak tidur? tentu saja aku. Jam 12an malam kami dijemput dua jeep dan menuju Bromo. Akhirnyaaaaa! Perjalanan ditempuh selama sekitar 30 menit sampai di titik awal pintu masuk wisata Bromo. Sekali lagi, nggak tidur dan malah ngobrol sama mamang sopirnya.

Jam 3 pagi hari Minggu kami sampai di lokasi untuk melihat sunrise. Masih harus menunggu sekitar 2 jam sampai matahari muncul. Beberapa menunggu di warung sambil makan popmie, pisang goreng, kopi, dan teh panas yang dalam sekejap jadi es teh. Yang lain? Lanjut tidur di jeep. Saat matahari seharusnya mulai muncul, eh kabutnya ikutan muncul dong.


Setelah puas dengan sesi foto, kami lanjut turun ke lokasi lembah Widodaren untuk sesi foto selanjutnya. Udah semacam sesi foto buku angkatan aja inituh hahaha. Lokasi selanjutnya adalah Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies, yang menurutku lokasi paling magic dari yang lain. Kenapa? Karena bagusnya pakai banget. Walaupun di bukit untuk melihat sunrise penuh kabut, di bawah cerah sekali dan indaaaaah. Rasanya nggak mau pulang. Tentu saja sesi foto dilanjutkan di sana.





Dalam perjalanan ke Bromo ini kami memakai jasa group tour dari @kambinggunung yang sudah include dengan dokumentasinya. Lumayan, jadi enggak perlu bawa tripod atau gantian fotonya. Sekaligus nggak perlu pake preset buat edit foto.

Karena kereta kami jam 1 siang, maka sekitar jam 11 kami sudah perjalanan ke arah Malang lagi. Sebelum naik kereta, kami sempat makan di Nasi Bug Bu Matirah di sebelah stasiun. Alhamdulillah, di perjalanan pulang selama naik kereta nggak ada drama.

Tapiii, setelah sampai di Purwokerto, masih lanjut dramanya. Mobil yang diparkir di stasiun ternyata lampunya nggak dimatikan. Alhasil, aki drop dan harus dipancing dulu. Jam 2 pagi hari Senin baru bisa tidur tenang di kosan.

Dua hari tiga malam yang sungguh banyak cerita. Tapi sangat senang bisa kembali ke Bromo setelah lima tahun yang lalu. Pertanyaan buat kalian, ada berapa kali drama di ceritaku di atas?


Tidak ada komentar: