Selasa, 26 Mei 2020

Lebaran a la The New Normal

Sama dengan istilah "Millennials", The new normal sekarang udah kayak jajan kacang di terminal, laris di mana-mana. The new normal ini berlaku di segala aktivitas di pekerjaan, pendidikan, sosial, dan sekaligus ekonomi. Yang biasanya bertatap muka, sekarang semua dilakukan dari jarak jauh. Kepercayaan, komunikasi, dan perangkat yang dipakai jelas menjadi kendala baru.

Yang biasanya belanja harus melihat, memegang, bahkan mencoba produk secara langsung, harus belanja secara daring.
Yang biasanya kalau bertemu orang ada physical touch, sekarang harus menjaga jarak, bahkan hanya bertatap secara dua dimensi.
Yang terakhir ini yang menurutku sangat susah dan tidak bisa disubtitusi. Sebagai seorang sagitarius sejati yang tidak bisa diam, jelas kondisi ini bikin kesal sendiri. Yang biasanya kalau sedang stres atau banyak pikiran larinya dengan jalan-jalan, sekarang nggak bisa. Parahnya, masih belum ketemu alternatif healing yang satu ini.

Oya, selamat Hari Raya Idul Fitri!

Puasa Ramadhan tahun ini bahasa kerennya tidak terasa Ramadhan's vibe nya gitu. Sahur dan buka puasa yasudah tidak ada hal yang istimewa. Tidak ada suara orang tadarus dari masjid, tidak ada pula sholat tarawih berjamaah. Sejak kecil, bisa dibilang lebaran adalah satu-satunya momen yang paling aku tunggu di tiap tahunnya. Melebihi aku menunggu liburan sekolah. Bukan karena uang salam tempel yang akan aku terima, bukan. Bukan karena baju barunya, bukan. Bukan juga karena makanan yang pasti melimpah. Lebaran adalah momen hari yang entah kenapa menyenangkan dan harus dibuat berbeda dengan hari yang lain. Tahun ini, bisa dibilang adalah lebaran terunik. Cuma bisa bertahan di tempat perantauan dengan teman-teman yang bernasib sama. Menyiapkan makanan sebisanya. Bertegur sapa dengan keluarga hanya dari jarak jauh.

Tiga bulan sudah berlalu. Now I'm feeling empty.

Senin, 04 Mei 2020

Is This an April Fools' Joke?

April should be the month of rewakening.

Seharusnya yang aku tulis di sini adalah pengalamanku ikut event lari pertama kalinya.
Atau cerita tentang roadtrip dan staycation di Dialoog Banyuwangi.
Atau ungkapan betapa senangnya mendapatkan lisensi menyelam.

Berbagai list-to-do bisa dicoret di bulan April.

Kalimat "Manusia bisa berencana namun Tuhan-lah yang menentukan" itu benar adanya. Mungkin memang harus bersabar lebih lama. Mungkin memang ada rencana lebih baik.

Lalu apa yang terjadi selama bulan April sehingga bisa lupa menulis di sini dan baru sempat menulis di awal bulan Mei?

My bad, sorry.

Sejak minggu kedua bulan Maret hingga tulisan ini dibuat, sebagian besar kegiatanku monoton di dua lokasi, kantor dan kosan. Basically, rutinitas pekerjaan sama saja, tidak ada yang berubah. It's not something fun to tell here. Namun, mari kita lihat dari pendekatan secara sosial. Purwokerto bukanlah kota metropolitan. Hanya ada satu mall di sini (lainnya aku sebut sebagai swalayan saja), dan sejak Covid-19 merebak, berbagai toko tutup. Bioskop sebagai satu-satunya hiburanku di sini juga tutup. Ngobrol sampai pagi di Level Up tanggal 14 Maret adalah terakhir kali aku nongkrong tanpa harus menjaga jarak atau memakai masker atau tangan yang selalu wangi karena sabun dan handsanitizer. Yak, hampir dua bulan sudah.

Kangen naik kendaraan umum ojek online, kereta, pesawat.
Kangen narik-narik koper dan membuat itinerary.
Kangen makan di luar atau ngopi berjam-jam di kedai kopi favorit.
Kangen nonton di bioskop sambil mendengarkan aaal around youuuh dan sijivi ai si yu tudey.
Kangen bersosialisasi dengan manusia tanpa rasa takut.
Kangen berjabat tangan, takutnya ntar dikira ukhti-ukhti gitu kalau terlalu sering menolak salaman.
Kangen rumah.
Kangen dia.
Gak ding, yang terakhir ngarang.

It's getting worse ketika memasuki bulan Ramadhan. Seharusnya bisa buka bersama dengan teman dari berbagai circle sambil update kehidupan atau sambil gendongin anak-anak mereka hahaha yaampun sudah tua teman-temanku ini. Seharusnya bisa pulang dan memakan masakan rumah. Seharusnya bisa kena marah karena disuruh i'tikaf tetapi malah tidur di lantai masjid. Sudah empat tahun Ramadhan nggak di rumah tetapi kali ini jadi suka nangis kalau buka atau sahur sendiri. Hadeh pokoknya kalau dibiarkan sendirian ngelamun nanti pasti jadi nangis tanpa sebab. Hello kitty banget sih ah malu kali sama badan *ngomong sama kaca*

Yang lebih menyebalkan dari semua ini adalah, rencana tahun 2020 yang sudah kubuat dengan cukup ambisius. Roadmap-nya jelas. Eh tapi nggak ada manajemen risikonya gitudeh~

Nah, yang paling menyebalkan lagi nih, nggak ada yang tahu kapan ini semua berakhir. Kata orang-orang yang pinter di luar sana sih nggak perlu menunggu kapan selesai. Kita harus beradaptasi dengan perubahan dan kebiasaan baru ini. This is the new normal

Lha, emangnya hidup kita sebelum ini sudah normal?

Aku cukupkan mengeluh dan sarkasnya. Sebagai orang yang nggak mau tahu pokoknya harus ada suatu pencapaian seremeh apapun, aku tidak tinggal diam dan meratapi nasib, dong. Sebagian kecil sisi optimisku bilang bahwa rencana-rencana di tahun ini nggak semuanya gagal begitu saja. Banyak yang bisa dilakukan atau minimal dicicil deh. Membuat dalgona dengan sukses nggak termasuk lho ya. Itu mah piece of cake, nggak perlu ditulis di buku keramat. Yah, semoga sisi optimis ini nggak ikut-ikutan kelakuan sisi pesimis yang nyuruh buat diem mulu meratapi nasib, ya. Give me aamiin!

Semoga segera membaik semuanya! Cukuplah Liverpool dan piala Liga Inggris saja yang menerapkan social distancing.



Sambil mengetik tulisan ini, dua helai bulu mata jatuh. Siapa yang kangen coba?