Sabtu, 13 Juni 2020

How I Met My Favorite TV Series

You can have Manhattan
'cause I can't have you...

Hari ini hari Sabtu yang cerah. Setelah tiga bulan lamanya, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan siang hari di kafe terfavorit di kota ini. Sendirian, dengan es latte dan roti naan keju, yang pertama kalinya aku coba. Pasang headphone dengan playlist random yang dimulai dari lagu Lingering Still-nya She & Him, dilanjutkan dengan lagu Manhattan dari Sara Bareilles, dan lagu santai lainnya.

Sebelum pergi, aku menyelesaikan menonton ulang How I Met Your Mother untuk kedua kalinya. Serial yang banyak dibilang sebagai imitasi dari Friends dan keduanya sering dibandingkan. Menurutku sendiri, aku suka kedua serial ini dengan cara yang berbeda.

Menurutku, di Friends, tiap tokoh punya porsi yang setara. Nggak ada satu tokoh yang terlalu mendominasi. Nah, sedangkan di How I Met Your Mother, kisah Ted Mosby bertemu The Mother menjadi fokus utama. Karakter beserta story line tiap tokoh di kedua serial ini pun sungguh beraneka ragam. 

Rasanya beruntung bisa tumbuh dewasa bersama dua serial TV yang mengangkat tema serupa ini. Persahabatan dan kehidupan di kota besar. So silly, aku pernah bermimpi suatu saat di umur sekarang ini bisa hidup di kota besar, di sebuah apartemen, bersama sahabat menikmati segala masalah hidup. Relationship, pekerjaan, keluarga, dan hal-hal kecil lainnya. Realitanya? I don't have those things.

More than that, kedua serial ini mengajarkanku bahwa hidup itu simpel kok. Coba satu hal, kalau gagal ya coba lagi. Nikmati prosesnya. It's okay if you don't know what to do. It's okay if you failed. It's never too late to do something new.


Tidak ada komentar: