Minggu, 24 Januari 2021

Medical Check Up, Checked~

Bulan lalu, genap sudah berumur 28 tahun. Nah, selama di Puertoriko ini yang sudah jalan empat tahun, belum pernah sekalipun aku sakit yang sampai harus ke dokter. Bukan berarti nggak pernah sakit, ya. Pernah demam, pernah batuk pilek sampai, pernah maag, pernah pusing puyeng banget sampai di kasur nangis doang bisanya sama muntah sampai isi perut kosong banget nget. Tapi... semuanya bisa diatasi dengan obat-obatan warung. Cari Paracetamol kalau sudah mulai demam, cari Procold kalau sudah mulai pilek atau tenggorokan nggak nyaman, cari Promaag kalau perut protes karena telat makan atau awal puasa, dan cari Bodrex kalau kepala mulai senut-senutan. Ditambah nyetok minyak kayu putih, minyak tawon, vicks vaporub, dan tolak angin FTW!! Sakit-sakit yang nggak keren lah pokoknya.

Alergi kayaknya juga nggak punya. Aku bilang kayaknya karena belum pernah ada reaksi abnormal terhadap suatu makanan atau kondisi. Kulit juga udh kayak badak yang kena suhu blizzard winter atau panasnya Wenjen mah aman saja. Sejak lepas behel dan selesai perawatan di tahun 2015, sudah tidak pernah ke dokter gigi karena ada keluhan dan hidup menjadi aman sentosa hingga saat ini. Yuhuuuw! Sariawan juga seingatku pernah sekali saja ketika penyesuaian awal memakai behel. Sebelum dan setelah itu sampai sekarang kagak pernah. Aneh yekan.

Wow intronya panjang yaaa. Nah aku selalu diingatkan oleh orang tua agar sering-sering ngecek kondisi badan. Kenapa? Karena orang tua ada komorbid, badanku gede dan nggak kurus-kurus hih, ditambah sangat picky masalah makanan. Se-picky apa? Jadi sejak TK (kalau tidak salah) aku berhenti memakan daging dan seafood. Bukan karena ada alergi, tetapi karena nggak tega memakan mereka. Yang bisa aku makan hanya ayam itupun selalu pilih yang dada. Telur dan susu doyan banget. Sayur apalagi. Orang tua suka khawatir terjadi ketidakseimbangan gizi ini wkwkwk.

Jadi berdasarkan kondisi-kondisi tersebut, ditambah akupun juga agak khawatir tidak pernah sakit berat selama empat tahunan ini takutnya di-prank gitukan ternyata ada indikasi-indikasi gangguan kesehatan yang tidak terlihat, maka akupun memutuskan untuk melakukan medical check up di laboratorium terdekat.

Singkat ceritaaa, selasa kemarin aku pergi ke Laboratorium Prodia di Purwokerto. Langsung berkonsultasi dengan CS dan ternyata bisa langsung saja tes tanpa perlu pengantar dokter. Setelah dijelaskan panjang lebar tinggi tentang berbagai jenis tes, akhirnya aku memilih tes darah dan urin yang basic, kemudian nambah anti HCV, Vit-D, Rontgen, dan EKG. Total yang aku bayarkan sekitar 2,8 juta.


Karena ketika datang di hari Selasa itu dengan sotoy sekali, maka hari itu hanya Rontgen dan EKG. Ambil darah dan urin dijadwalkan hari Kamis karena harus puasa dulu. Karena ini tes mandiri, bukan tes kesehatan PLN yang bikin aku harus tiga kali ikut rekrutmen, menurunkan berat badan sampai kek Raisa #halah, jadi nothing to lose saja. Sebelum tes juga aku makan dan minum seperti biasa.

Hari Jumat, hasil sudah keluar yeay. Deg-degan? Jelas dooong. BTW, sekarang sudah canggih, hasilnya bisa dilihat di aplikasi Prodia tanpa harus datang ke Lab. Eh tapi hasil foto rontgen dan EKG tetap harus diambil, ya. Di aplikasi itu juga, bisa dilihat yang kurang atau melebihi nilai rujukan. Nah bagaimana hasilnya?

Oke kita bahas satu persatu yang aku paham saja hahaha

  • Hematologi Lengkap. Di tes ini kelihatan jumlah Hb kita. Hasilnya masih dalam nilai normal tetapi belum cukup tinggi untuk bisa donor darah. Ininih masalah dari dahulu kala, karena aku tidak memakan daging merah, seafood, apalagi hati ayam ya kan. Mana tega aku makan hati makhluk hidup. Makanya sampai sekarang selalu gagal kalau mau donor. Oke, PR sih ini.
  • Kimia. Yang biasa kita ketahui secara umum di dalamnya ada kolesterol, glukosa, asam urat. Ini yang paling bikin deg-degan. Alhamdulillah hasilnya aman.
  • Imuno Serologi (anti HCV). Tes tambahan dari yang tes darah basic. Jadi tes ini bertujuan mendeteksi adanya virus hepatitis C dalam tubuh. Hasilnya non-reaktif.
  • Urinalisa. Hasilnya ditulisankan dengan warna biru yang artinya aman. Didukung dengan aku yang sangat doyan air putih sih belakangan ini.
  • Mikronutrisi (Vitamin D 25-OH). Tes tambahan lainnya. Dari nilai rujukan di angka 30-100 ng/mL, hasil tes ku cuma 10,2 ng/mL. Kecil sekali yakaaaaan. Padahal di masa pandemi begini, konsentrasi vitamin D dalam tubuh sangat diperlukan. Oke PR agar lebih sering kena sinar matahari yang bagus dan makan yang sehat, biasanya kena sinar matahari Wenjen dan sekitarnya pas tengah hari hahaha.
  • Rontgen Thorax. Dari penjelasan hasil tes, tidak ada saran yang dituliskan. Tapi ada indikasi terpapar terlalu banyak polusi. It makes sense, karena setahunan ini sering motoran Purwokerto-Wangon hampir sejam sekali jalan setiap harinya. Harus rajin pakai jaket yang baik dan benar nih.
  • EKG. Di tes ini, ada diagnosis Sinus Bradikardi. Jadi, jika detak jantung manusia pada umumnya adalah 60-100 kali per menit, hasilku ketika tes hanya 55 kali per menit. Namun ternyata hasil ini wajar jika dulunya terbiasa olahraga sehingga jantung sudah terlatih. Masa SMP SMA memang lagi rajin-rajinnya olahraga dari beladiri sampai berenang sih.
Overall conclusion adalah, kondisi badan saat ini masih tergolong aman. PR terberat ada di Vitamin D. Nah dengan tahu current position kondisi badan kita, jadi tahu nih gaya hidup yang sekarang sudah bagus atau ada yang perlu di-adjust. Secara BMI aku masih overwight, masih tidak konsisten berolahraga, masih suka makan rakus kalau lagi khilaf. But small things matter, right?

Dan yang terpenting, I've crossed off one of my 2021 bucket list!

Tidak ada komentar: