Rabu, 11 Juli 2018

What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions

Baru kali ini bisa ketawa-ketawa enggak jelas pas baca buku. Apalagi dari buku science begini. Randall Munroe is one smart dude that answers all your weird and wacky questions with real math and drawings of stick figures. Awesome as it sounds, right?



Randall Munroe sendiri dulunya bekerja di NASA, lalu banting setir dan menjadi seorang penulis sekaligus kartunis. Nih orang CV nya luwar biyasa sekali pasti. NASA coy ditinggalin gitu...
Jadi buku ini sebenarnya berisi dengan berbagai pertanyaan nyeleneh yang kadang nggak terpikir di kepala, tapi kalau ditanya juga bingung jawabnya. Contoh salah satu pertanyaannya begini nih:

"What would happen if everyone on Earth stood as close to each other as they could and jumped, everyone landing on the ground at the same instant?"

Atau pertanyaan macam ini...



Jawabannya bisa receh banget atau scientific banget. Dan Munroe menjelaskan jawabannya dengan simple, receh, tapi berdasarkan teori yang bisa dipertanggungjawabkan gitu.

Jadi, untuk yang sedang mencari bacaan ilmiah dengan kemasan yang ringan, this book is the answer.

Selasa, 19 Juni 2018

The End of The F***ing World, another Netflix Series to Binge Watch

"Netflix and chill" adalah definisi hiburan baru. Series atau film buatan Netflix sejauh ini belum ada yang mengecawakan untuk saya yang terkadang butuh hiburan berfaedah ini.



The End of The F***ing World adalah another original TV series Netlix yang sayang eh tayang pada 24 Oktober 2017. A budding teen psycopath and a rebel hungry for adventure embark on a star-crossed road trip in this darkly comic series based on a graphic novel. Sinopsis singkat yang cukup menjual hingga akhirnya aku memutuskan untuk nonton series ini. Cerita tentang James, remaja 17 tahun yang menganggap dirinya psikopat karena suka membunuh hewan dan Alyssa, cewek SMA yang cablak rebel dan selalu pasang muka resting-bitch-face ini dikemas dalam delapan episode dengan durasi tidak sampai 20 menit untuk setiap episode. Psikopat dan sosiopat, kebayang engga?



Mereka berdua ini tipe-tipe yang sudah lelah dengan dunia. James harus menyaksikan ibunya bunuh diri ketika masih kecil dan harus tinggal dengan ayahnya yang.. umm garing. Sedangkan Alyssa tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya yang engga peduli sama dia. Alyssa akhirnya ngajak James kabur sekaligus ingin mencari ayah kandungnya dan James yang ingin membunuh sesuatu yang lebih besar, merasa Alyssa adalah korban yang tepat.



Dalam rebellion trip mereka, masalah datang silih berganti. Seru melihat bagaimana mereka menyelesaikan tiap masalah yang kadang bikin geleng-geleng kepala. Masalah apa itu? And how they solve it? Go watch it, sobatku.



Apa yang kusuka dari series ini? Dasarnya aku memang doyan sekali dengan cerita remaja coming-of-age begini. Karena jujur, masa remaja sendiri yang sudah dilewati dulu terasa so so saja hahaha. Hal lainnya adalah dark comedy yang diselipkan di cerita. Pemeran James dan Alyssa juga oke sekali aktingnya dan lucu melihat interaksi mereka. Mata ini sangat dimanjakan dengan sinematografinya dan telinga juga dimanjakan dengan soundtrack yang sebenarnya akan lebih afdhol kalau dirilis dalam bentuk vinyl. Sebagaimana cerita coming-of-age lainnya, series ini tidak hanya menampilkan cerita lovey dovey dua remaja, namun juga menampilkan bagaimana kedua orang ini menyelesaikan masalah yang ada dalam proses menjelang dewasa. Sekaligus, memberi gambaran baru how people mean for each other sebagaimana James untuk Alyssa dan sebaliknya.

Minggu, 17 Juni 2018

Antologi Rasa

Never a fan of metropop-kind-of-book, tetapi selalu berpegang teguh dengan prinsip "read the book before the movie, if any".



Jadi ketika mbak Ika Natassa membuat banyak teaser film Antologi Rasa di akun Instagramnya, secara impulsif memutuskan untuk nyebrang ke Gramedia depan kantor buat nyari bukunya, sambil ngabuburit juga. Ehe. Termasuk telat sih ya, teman-teman sudah heboh buku ini sudah bertahun-tahun yang lalu, yang katanya bikin baper dan ceritanya relatable sekali.

Antologi Rasa diawali (ngga di awal aja ding, di sepanjang buku juga) dengan begitu banyak trivia, yang mohon maaf nih, seakan ingin membuktikan penulis risetnya banyak. Tentang F1, barang-barang branded, referensi buku dan film, John Coltrane, bahkan ada setengah halaman berisi lagu-lagu mas ganteng John Mayer. Kalau sekali dua kali engga apa-apa ya, lah ini repetitif. Antologi Rasa adalah buku pertama Ika Natassa yang aku baca. Dulu pas Critical Eleven langsung nonton filmnya dan ketika rampung dengan Antologi Rasa, jadi kepikiran kok tokoh dan karakternya setipe begini ya. Tingkat ekonomi kelas atas, penggambaran tokoh yang cantik dan ganteng tak bercela kek model majalah, namun sayangnya dengan karakter yang terlalu self-centered. Kayak bingung gitu, ini film, buku, musik, makanan kesukaan tokohnya atau malah penulisnya (?)

Sedikit petunjuk, buku ini bercerita tentang persahabatan bagai kepompong yang dibumbui dengan kisah cinta banyak segi. Keara, cewek dengan karakter hedon suka party, pinter, lulusan Stern GPA 3,5 (mbak-mbak sempurna bukan?), barangnya mahal semua, suka sama temannya yang namanya Rully, cowok penyuka sepakbola yang kalem tapi sukanya sama Denisse, another girl from the group yang cantik kalem sudah bersuami dan sedang berjuang untuk keutuhan rumah tangganya (hahaha bahasaku). Satu lagi, Harris, badboy playboy yang paling dekat dan sudah dianggap sahabat banget sama Keara padahal Harris cinta mati sama Keara. Mereka semua kerja di tempat yang sama, sebuah Bank Internasional dengan gaji selangit. Classic, huh?

Bagian awal sebenarnya oke lho. Rasanya jleb malahan. Serasa ingin bilang "I feel you" ke setiap karakter #malahcurhat. Tetapi, semakin dibaca semakin engga paham mau dibawa kemana hubungan kita cerita ini. Endingnya? Meh. But still, it's an interesting book. Beberapa kalimat bisa jadi caption yang bagus di Instagram #halah dan banyak dari referensi yang dipakai adalah kesukaanku juga. Apalagi aku beli yang versi ilustrated edition yang dilengkapi banyak sketch cantik untuk menggambarkan cerita. A good choice for beach read, sih.



Tapi ini preferensi pribadi sih ya. Mungkin karena engga biasa baca metropop jadi tidak terlalu ngena dengan model cerita begini, despite all the good reviews from my friends. One thing for sure, just because you don't like the story, doesn't mean you don't like the author too. Maybe the story is just not my cup of tea. Tetap akan penasaran dengan tulisan mbak Ika lainnya dan tetap secara diam-diam mengagumi si Harris!

Oya, tetap akan menunggu filmnya juga walaupun ada satu hal yang kutakutkan. Takut pada latah pengen nonton night race F1 dan konser John Mayer. Tolong lah ya jangan dinodai dua bucketlist saya yang belum tersampaikan itu :")

Sabtu, 31 Maret 2018

Homecoming

Kaget, ternyata terakhir menulis di blog hampir 1,5 tahun yang lalu. Sure, lot of things happened. Kalau dikulik satu per satu nih, dari postingan terakhir kan masih dalam masa prajabatan ya, nah sekarang alhamdulillah sudah jadi pegawai resmi ada SK nya. Ahay~.

Singkat cerita, aku mendapat penempatan di Distribusi Jawa Tengah dan DIY. Dengan gambling penempatan di seluruh Indoneisa, bersyukur banget masih dapet di Jawa. Ekspektasi awal sih, bakal di Semarang, Solo, atau kalo beruntung ya dapet Jogja. Eh, tak disangka-sangka dapetnya Area Purwokerto. Bingung yakan itu di mana. Mau naik apa ke sana, ada bioskop apa enggak, ada Indomaret apa enggak #lebay. Namun singkat cerita lagi, alhamdulillah bertemu dengan orang-orang baik banyak sekali.

Mulai dari anak kosan gang mas cilik yang bikin gamau cari kosan lain,




Orang-orang bidang jaringan yang ketemunya hampir tiap hari,


Seksi Opdis yang diambil satu per satu sekarang dari foto ini tiggal dua....



Lalu ada adek-adek magang juga sampai tiga bulan ke depan,


Sering muncul pertanyaan "Sudah betah di sana, Mil?" akupun bingung mau jawab gimana. Yang jelas betah apa nggak, suka atau nggak, it's part of life. Jika 2017 kemarin benar-benar menjadi tahun adaptasi, maka sekarang 2018 mulai banyak pengennya lagi. Dan salah satu resolusi tahun 2018 adalah rajin nulis. Yuhuuu semoga tak hanya jadi wacana.

Senin, 15 Agustus 2016

August Rush

Hello there! 
Judul postingan ini sama kayak judul film ya. One of my favorites, lho. Tapi kali ini bukan mau nge-review haha. Jadi di sore hari yang nggak ada kerjaan di kosan, tiba-tiba nemu meme yang isi intinya ngingetin tahun 2016 ini sudah tinggal empat bulan. Sudah ngapain aja delapan bulan kemarin? Mau nggak mau jadi ikutan merenung kan.

Dan baru sadar juga terakhir kali nulis di blog empat bulan yang lalu.

So where have I been?
Semuanya berawal dari proses rekrutmen yang mengharuskanku bolak balik Jogja dan Semarang dari Januari-Maret. Nah setelah akhirnya lolos di PLN, mulailah kehidupanku menjadi siswa dari pertengahan April hingga tulisan ini dibuat.

Dimulai dengan mengikuti proses kesamaptaan selama 10 hari di Pusdikpom Cimahi. Di sini isinya jalan sambil nyanyi, baris, makan diitungin, dengerin materi sambil ngantuk, baris lagi, makan lagi, apel, kadang push-up dan merayap, begitu seterusnya hingga hari ke-delapan.

Tebak saya yang mana

Dua hari terakhir barulah ke Cikole. Main outbond, paintball, caraka malam, survival, sampai makan ular. Yang paling seru juga nih, dapat kesempatan ikut tim kolonel senjata untuk tampil di upacara penutupan. Mayan cuy tau rasanya nembak.

Ini ceritanya lagi nyanyi gitu~

Geng vegetarian yang menolak pemakan ular

Lalu dilanjutkan pengenalan perusahaan selama kurang lebih lima hari di Jakarta. Di sini.... penuh dengan pengalaman yang tak terlupakan haha. Mulai dari panasnya barak, komandan yang rewel, sampai ikan piranha legendaris yang menemani menu makan kami beberapa kali.

Barak saksi bisu suka duka di Rindam Jaya

(Abaikan muka kucel sisa samapta saya)

Hingga datanglah sedikit angin segar kebebasan yang sekaligus menjadi saat-saat terbaik menjadi siswa yaitu masa pembidangan di Udiklat Semarang. Gimana nggak enak, lha kerjaan kita sehari-hari adalah apel pagi sebelum ke kelas, belajar sampai jam 5 sore (bisa tidur dan kadang pulang cepet), malam apel lagi. Makan disiapin tiga kali sehari, snack dua kali. Kamar ber-AC, ada TV, galon, kopi, teh, gula disiapin, mess dibersihin tiap pagi, baju dicuciin. Tiap weekend bisa pergi keluar dengan radius tertentu atau delivery order makanan. Enak banget kaaan.

Engineering SCADA kelas C

Di sini baju kami hanya seputar kalo enggak putih hitam ya dua stel baju olahraga ini :")

Untunglah punya teman satu mess yang warbiyasak!

Dan cewek-cewek sekelas yang ngeselin tapi ngangenin

Sekalinya boleh keluar, nggak pulanag sampai tengah malam

Jadinya sedih pas inagurasi :(

Bonus foto liburan kami

Lalu tibalah masa OJT yang sekaligus adalah fase terakhir sebagai siswa. Entah kenapa dapat kota yang tidak pernah ada di bayanganku sebelumnya, Medan. Pertama kalinya ngekos sekaligus pertama kalinya pergi ke luar Jawa. Setelah hidup enak pas pembidangan, sempat kewalahan juga jadi anak kos yang harus nyiapin segalanya sendiri. But hey, what doesn't kill you makes you stronger. Setelah itu akhirnya mulai terbiasa juga.

Anak Medan, horas!
Di perantauan bersama tiga cewek strong ini. Dari kiri : Mbabo, Mohi, Meicita


This is what we do
Kalau kata orang-orang, OJT itu on job traveling. Maka sampailah kami di Danau Toba.

Nah jadi kenapa judul tulisan ini August Rush?

Karena di bulan ini lagi in rush mode sekali. Ada deadline project dan karya inovasi sebagai syarat kelulusan yang harus diselesaikan. Belum lagi kangen sama keluarga di rumah. Belum lagi kangen sama teman-teman lama. Belum lagi kangen sama kamu yang di sana. Belum lagi mulai lelah jadi anak kosan. Belum lagi mikirin mau ditempatin dimana setelah pengangkatan haha.

Dari kronologi di atas, bisa dibilang tahun 2016 sejauh ini selalu berhubungan sama PLN yak. Karena masa OJT tinggal sebulan lagi, lihat saja selanjutnya saya akan ada di mana.

(ditulis dalam keadaan nggak bisa tidur mikirin kok bisa-bisanya Arsenal kalah sama Liverpool di awal musim pas main di kandang pula)

Jumat, 01 April 2016

The Struggles of Being a Jobseeker

Sudah tiga bulan nih nggak sambang ke blog.
Nggak, aku nggak berniat untuk nulis tentang April fool's day, kok. Sesuai dengan judul, aku akan bercerita tentang all the things happened in the last three months.

Jadi ketika membuat tulisan ini, bisa dibilang aku telah menentukan arah hidup ini mau dibawa kemana #apasih. Setelah enam bulan kerjaanku hanya gegoleran di rumah, nontonin tv series dan film atau baca buku, akhirnya sebentar lagi akan menjalani kehidupan manusia dewasa pada umumnya. Sounds boring, huh?

Dan cerita tentang mencari kerja ini panjang sekali. Diawali dengan keraguan antara lanjut sekolah atau mencari kerja, disambut dengan penyebaran berkas lamaran dari berbagai lini, dilanjutkan dengan sederetan tes di tiap perusahaan, dan diwarnai dengan kegagalan. Oiya, kenapa aku memilih bekerja bukan lanjut kuliah? Aku akan lanjut kuliah kok, tapi nanti ya. #asikasik #terusnikahnyakapan. Oke, biarkan saya jelaskan satu per satu mulai dari tes pertama.

1. Schlumberger
Daftar Schlumberger ini murni karena keisengan belaka. Dateng tes tanpa persiapan apapun. Tes pertama (wawancara awal) lolos, namun gagal di tes tulis #yaiyalah.

2. PT. Pupuk Indonesia Holding Company
Inilah rekrutmen dengan durasi yang paling lama. Hingga aku menulis ini pun belum ada pengumuman akhir. Rekrutmen dimulai bulan September. Tes awal adalah TPA, satu bulan kemudian psikotes, satu setengah bulan kemudian tes kesehatan, satu bulan kemudian interview user, dan satu setengah bulan kemudian interview direksi yang baru aku lewati seminggu yang lalu. Jadi, tes terpenting dari Pupuk Indonesia sesungguhnya adalah tes kesabaran menunggu hasil pengumuman haha.

NB: Setelah akhirnya ambil PLN dan selesai ikut kesamaptaan, akhirnya keluar pengumuman akhir rekrutmen PIHC ini. Alhamdulillah lolos. Tapi ya, akhirnya tetap di PLN juga ehehe.

3. PT. Kereta Api Indonesia
PT. KAI laris manis diserbu jobseeker di bursa karir ITS September lalu. Tahapan rekrutmennya dimulai dari tes kesehatan awal yang bersamaan dengan penyerahan berkas. Jika lolos, maka lanjut dengan tes wawancara, psikotes, dan tes kesehatan yang dilakukan tiga hari berturut-turut jika lolos terus. Hasilnya? Alhamdulillah lolos. Tapi yang ada malah rasa galau berkepanjangan. Pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak menandatangani kontrak. Kalau ditanya kenapa, menurutku it wasn't the right time. (lagian kalo aku ambil, aku gabisa nonton Star Wars The Force Awakens di bioskop eheheh).

4. PT. Pupuk Petrokimia Gresik
Awalnya lowongan untuk elektro hanya dibuka untuk cowok, namun menjelang penutupan akhirnya cewek boleh daftar juga. Hidup perempuan! Tes awal yang dilaksanakan bulan Desember kemarin, adalah tes akademik. Kemudian jika lolos dilanjutkan psikotes esok harinya. Psikotes dari petro ini menurutku yang paling beda (((nyari excuse ehehe))) di antara perusahaan lain yang pernah aku coba. Dan akhirnya langkahku terhenti di sini.

5. PT. Pembangkitan Jawa Bali (PJB)
Rekrutmen PT. PJB dilakukan pada pertengahan bulan Januari kemarin. Tes awal akademik, kemudian tes kedua adalah psikotes dan FGD+interview psikolog. Nah tes ketiga adalah tes kesehatan. Sayangnya, bertepatan dengan tes kesehatan PLN. Dan aku lebih memilih tes kesehatan PLN soalnya kan gemes pernah ditolak, jadi bertekad mau nyoba lagi.

6. PT. PLN (Persero)
I tried. I failed. I tried again. I failed again. I tried once again. I passed.
Inilah perusahaan paling mainstream untuk mahasiswa teknik elektro, sekaligus paling banyak memberikan pengalaman asam manisnya menjadi jobseeker. Aku sampai harus mengikuti tiga kali tes sebelum akhirnya lolos lho, haha. Tes pertama ketika rekrutmen direct shopping di Jogja, saat masih jamannya garap tugas akhir. Hasilnya, aku berakhir di tes fisik yang menurutku karena aku overweight. Di sinilah titik balik segala hal. Karena gemes nggak lolos nih, akhirnya aku mulai menurunkan berat badan. Lalu muncul rekrutmen selanjutnya sebelum wisuda. Dan kali ini aku berhasil lolos melewati tes fisik. Bahagia dong ya. Eh ternyata nggak lolos lagi di tes kesehatan lanjutan (laboratorium). Makin gemes sama PLN dong. Akhirnya mencoba untuk hidup sehat layaknya atlet olimpiade. Nah, di rekrutmen yang ketiga inilah akhirnya bisa lolos sampai tes terakhir. Finally.

Jadi apakah ini pilihan yang tepat? Entahlah. Yang jelas menurutku it's the right time. Enam bulan merasakan "me time" rasanya sudah cukup. So wish me tons of luck for everything I'll face ahead.

Kamis, 31 Desember 2015

Thank you, 2015!

Satu jam menuju 2016. And I'm so grateful for everything happened in this year. Sit nicely and let me tell you some stories.

1. US trip and first experience in MUN

Pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya, ke belahan dunia lain dengan penerbangan hampir 24 jam, dan perbedaan waktu 12 jam. #humblebrag #haha
Sejak bertemu di bulan September 2014 lalu, aku dan sembilan orang delegasi lainnya membanting tulang untuk bisa berpartisipasi dalam Harvard National Model United Nations 2015 yang diadakan di Boston USA. Ah ya, ini adalah pertama kalinya aku ikut MUN. Definitely one of the greatest moments in my life that i'll never forget. Bagaimana tidak, jalan kami tak selamanya mulus. Selama lima bulan, kerjaan kami tidak jauh-jauh dari yang namanya proposal sponsor dan latihan, karena kami tahu, hanyalah uang yang bisa membawa pan*at kami berpindah ke Amerika. Jadi ketika kami akhirnya berangkat, rasanya agak-agak ngga percaya. And for my self, it's a special achievement.

Harvard!

Aku bertemu orang-orang hebat yang punya karakter unik masing-masing. Aku akhirnya bisa menginjakkan kaki di London (walaupun cuma transit). Aku akhirnya tahu Harvard dan MIT, kampus yang mendunia itu. Aku akhirnya berada di Times Square, yang entah telah berapa kali digunakan untuk syuting film blockbuster. Aku akhirnya merasakan salju yang tak beda sebenarnya dengan es serut. Dan aku berpapasan dengan Jennifer Lawrence! (She is real!). Dan masih banyak hal lainnya yang bagiku begitu menakjubkan.


2. Got a professional title after my name, Sarjana Teknik.

Dimulai di September 2011 dan berakhir di September 2015. Dengan segala suka duka kehidupan kampus selama empat tahun, akhirnya lulus juga ahay. Yuk ucapkan alhamdulillah. Menjadi mahasiswi di jurusan yang antimainstream buat perempuan bukanlah hal yang mudah. Sering banget merasa nggak paham yang diajarin di kelas maksudnya apaan. Masa kuliah yang katanya adalah ajang pengembangan diri dan berprestasi, mungkin memang tidak kugunakan dengan baik haha. I'm just not into it. Sebagian besar waktu untuk akademis, lainnya untuk main dan fangirling #ehehe. But i never regret it. 

Asisten Lab Konversi Energi Listrik

Dari sanalah aku bertemu satu angkatan berisi hampir 200 orang yang istimewa. Ah ya, terkadang kepikiran, (oke ini nggak penting) berapa ribu kilometer yang aku tempuh setiap pulang-pergi rumah-kampus selama empat tahun. Belum lagi masa-masa semester delapan dengan tugas akhir yang ngeselin tapi ngangenin kayak kamu #eaaaaa. Selama hampir lima bulan, lab serasa rumah sendiri, rumah serasa tempat singgah. But hey, yang penting kan sekarang sudah lulus.

3. Star Wars! Hype, hype, hype!

A long time ago, in a galaxy far, far away... 
Opening ini selalu terngiang di kepala. Aku sudah pernah cerita kan ya bahwa aku sukaaa dunia astronomi sejak di bangku sekolah dasar. Karena belum terjamah internet, segala informasi aku dapatkan dari buku di perpusatakaan sekolah dan dari TV. Tahun 2005, bertepatan dengan rilisnya Star Wars Eps III, sebuah stasiun TV menayangkan episode-episode pendahulu. Itulah saat pertama kalinya aku tahu Star Wars. Lalu mengapa aku suka? Tentu saja karena berhubungan dengan luar angkasa. Aku dibuat takjub dengan kecanggihan yang ditampilkan meski dengan CGI ala kadarnya. Pas udah gede nih, sebenarnya agak kecewa ketika akhirnya aku tahu bahwa di dunia nyata, ternyata manusia belum pernah pergi ke planet lain, bahkan tidak ke mars sekalipun. Penulis science fiction memang terlalu kok (sejak saat itu jadi cinta dengan science-fiction juga). 

Star Wars The Force Awakens casts

Jadi ketika sekitar tiga tahun yang lalu aku tahu akan ada kelanjutan Star Wars, I'm sooo excited. Dan ketika akhirnya 18 Desember kemarin nonton, awww rasanya kayak jadi anak kecil lagi. Guys, if you haven't seen any Star Wars previous movies, it's never too late to join the fandom and feel the force.

Okay, ternyata panjang juga ceritaku di atas. Banyak sekali pengalaman, pelajaran, dan tentunya keluarga baru yang kudapatkan di tahun ini. I'm so blessed. Terima kasih, 2015. Semoga tahun depan menawarkan lebih banyak hal baru dan menyenangkan lainnya. Lebih banyak membaca buku, lebih banyak nonton film dan fangirling (bersama grup Movie Freaks tentunya), dan lebih banyak mendatangi tempat-tempat baru. Satu lagi, tahun ini hingga tahun depan adalah masa transisi dari mahasiswa ke pasca kampus. Semoga segera mendapatkan tempat yang terbaik aamiiin. Hati ini juga tolong didoakan agar segera berlabuh juga dong, hahaha.

Senin, 21 Desember 2015

Review Film Agustus-Desember 2015

2015 hampir berakhir. A lot of things happened. Mulai dari wisuda hingga suka duka menjadi jobseeker. Pas bikin review ini baru sadar, ternyata cuma nonton sedikit film antara Agustus hingga Desember. Di samping harga tiket yang makin mahal dengan budget yang tidak bertambah, pilihan film yang ada juga tidak begitu menggugah selera. Rasanya tahun ini tidak ada lagi film yang paling ingin ku tonton selain Star Wars: The Force Awakens haha. Okelah, biarkan saya menuliskan sedikit review tentang film yang aku tonton.

1. Inside Out 8,5/10


Pixar berulah lagi dan selalu dibuat takjub dengan karya studio animasi ini. Diawali dengan short film berjudul Lava yang bagus banget, Inside Out adalah sebuah film yang menurutku lebih cocok ditujukan untuk dewasa. Bukan karena konten, namun karena pesan yang diselipkan di cerita. Cerita secara umum berkisar pada macam-macam emosi di dalam tubuh seorang anak yang mulai menuju remaja. Emosi di dalam kepala ini dihidupkan sebagai karakter Joy, Sadness, Anger, Disgust, dan Fear. Nah di sini diceritakan bagaimana proses pendewasaan berpengaruh pada emosi dan memori masa kecil kita. Jadi adil nih, yang anak-anak bisa ketawa karena cerita lucunya, yang dewasa bisa nangis deh karena jleb banget langsung kena hati.

2. Paper Towns 6,0/10


Paper Towns adalah tulisan John Green favoritku. Mendengar kabar bahwa akan diadaptasi menjadi film dengan Cara Delevigne sebagai pemeran utama dan melihat film The Fault in Our Stars hasilnya cukup memuaskan, tentu saja aku berharap banyak pada Paper Towns. Namun nyatanya malah dibikin sebel sama film ini. Nggak ada nyawa, seakan asal dibuat, dan mbak Cara keliatan masih kaku banget aktingnya. (ampuuun, apalah aku ini komen jelek tentang mbak Cara).

3. Maze Runner: The Scorch Trial 7,0/10


Lagi-lagi dikecewakan oleh sekuel young-adult-dystopian-adaptation. The Maze Runner yang pertama aku suka lho. Tapi entah kenapa yang kedua kok jadi tidak makin bagus begini. Entahlah, karena aku juga tidak baca bukunya, tapi cerita di sekuel ini seperti menghilangkan identitas tentang misteri "the maze" yang sudah dibangun apik di film pendahulunya. Semoga ada perbaikan di film ketiganya, deh.

4. Little Prince 8,0/10


Setelah Inside Out, ini film animasi kedua yang kutonton. Dan keduanya sama-sama nyebelin (in a good way). Little Prince adalah cerita klasik yang telah dikenal luas dan termasuk salah satu buku terlaris di dunia. Adaptasi filmnya itu sendiri telah dibuat beberapa kali. Nah, yang terbaru ini, menawarkan animasi yang begitu indah di mata. Sekali lagi, film animasi yang selalu identik dengan anak-anak, berhasil membuat orang dewasa (red: saya) merenungkan hidupnya haha.

5. Spectre 7,2/10


Beware, pembahasan Spectre akan banyak nih.
Selama hampir 15 menit pertama sebelum video klip Sam Smith yang kinky dengan falseto yang ganggu itu, aku begitu takjub dengan Spectre. Penonton langsung dihantam dengan James Bond yang sedang berada di sebuah parade diiringi musik menggelegar. Lalu ketika cerita mulai terbangun dengan pengenalan tokoh villain, aku masih wah sekali. Selanjutnya? Flop banget. Sayang sekali penampilan (yang katanya) terakhir Daniel Craig di James Bond, malah si om ini keliatan ogah-ogahan aktingnya. Christoph Waltz adalah aktor yang pas untuk jadi villain. Tapi sayang sekali malah nggak digunakan dengan baik nih. Belum lagi motif jahatnya cemen banget gitu. Untuk Bond girl-nya, okelah tante Monica Belluci dan mbak Lea Seydoux memang mempesona. Namun seorang Monica Belluci cuma diberi durasi yang begitu singkat is such a waste. Dan mbak Lea sebagai Madeleine Swann masih kurang nih kalau memang diproyeksikan sebagai pengganti Vesper Lynd (di hati Om Bond). Stealer malah aku dapatkan dari Mr. Hinx yang badass banget jadi pemburu James Bond. Udah lah, Casino Royale tetap James Bond terbaik versi Daniel Craig!

6. Star Wars: The Force Awakens 9,2/10
Do I really need to give a comment to a movie that I've been waiting for years?


Dari opening crawl aja sudah merinding sangat. Karena menampilkan banyak karakter baru nih, seperempat jam pertama digunakan untuk mengenalkan mereka dan bagaimana mereka bisa bertemu. Selanjutnya, silakan nikmati sendiri aksi perang bintang yang digarap dengan begitu epic sama J.J. Abrams. Silakan mengagumi perkembangan karakter Finn yang kocak, Rey yang fearless, Poe yang cool, dan Kylo Ren sang baby Darth Vader yang masih labil emosian. Silakan juga bernostalgia dengan Chewbacca, Han Solo, dan Leia. Terima kasih J.J. Abrams, we need more people like him to make sequels, reboot, or re-make old-but-good movies.

Kamis, 05 November 2015

Review : Mr. Robot (2015)

It's good to be back. Kali ini aku akan sedikit membahas tentang serial yang selesai kutonton sekitar sebulan yang lalu, sebelum wisuda. Nah, sebenarnya bukan sibuk sih -karena in fact, sampai sekarang aku masih nganggur aja di rumah- tetapi memang baru sempat nulisnya sekarang.


Welcome to the fsociety, bitches!

Mungkin memang benar adanya bahwa tv series di Amerika sana sedang ada di puncaknya. Dalam beberapa tahun ini menurutku film-film Hollywood hanya menawarkan visual yang enak dipandang tanpa cerita yang memorable. Berkebalikan dengan itu, tv series justru mampu memberikan cerita yang kuat dan kesan yang dalam, salah satunya yang aku bahas ini.

Konsep cerita dalam Mr. Robot bukanlah sesuatu yang baru. Setelah nonton pasti kalian akan teringat dengan beberapa film sekaligus. Jadi apa yang disajikan dalam serial ini? Mr. Robot membawa konsep kehidupan seorang hacker bernama Elliot Alderson (diperankan oleh Rami Malek) yang ketika siang hari bekerja sebagai di perusahaan keamanan cyber lalu malamnya menjelma sebagai vigilante dengan ilmu hacking-nya. Elliot memiliki kepribadian yang aneh, anti sosial, nerd, tapi jenius banget, sehingga dia harus rutin ke psikiater.

Problematika yang dihadirkan di serial ini beragam, setiap karakter punya andil penting, dan cerita berkembang dengan baik adalah sisi positif dari Mr. Robot. Penyampaian cerita sebagian besar dilakukan dengan bentuk narasi yang disampaikan Elliot untuk dirinya sendiri dan dengan menggunakan kata "you" yang ditujukan kepada penonton. Setiap proses hacking yang dilakukan nggak terkesan ajaib dan memungkinkan untuk dilakukan. Kalau nggak ngerti dengan istilah-istilah di sini (seperti aku), googling dikit juga ketemu kok. Meskipun ceritanya cukup kompleks dan depresif, namun twist yang ada bisa ditebak sejak awal episode. Yah, tapi tetap saja aku yang nonton selalu penasaran bagaimana Elliot akan menyelesaikan segalanya episode demi episode. Ada dua aktor lain yang menurutku stealing sekali, yaitu Christian Slater yang cuocok banget jadi Mr. Robot, dan Martin Wallstrom sebagai Tyler Wellick sang sociopath yang logat swedish-nya haduh banget. Oh satu lagi, ada mbak-mbak hacker berjilbab juga lho di sini.

(Enggak berani cerita banyak takutnya malah bikin spoiler kan nggak asyik ntar)

Terlepas dari itu semua, yang membuat aku jatuh cinta dengan serial ini adalah dialog-dialog yang dengan sarkasnya menggambarkan kehidupan kita saat ini.


Kepribadian Elliot digambarkan sebagai orang yang nggak peduli dengan society dan nggak tau how to fit inHe doesn't do Facebook, Instagram, or anything of the sort and he exposes the lies people tell every day by discovering the worst in them. Berkebalikan dengan kita yang cenderung nggak bisa lepas dari media sosial. Nge-share video-video lucu, mengaharukan, dan inspirasional di Facebook; berkicau tentang segala hal, kultwit, atau twit-war di Twitter; posting foto-foto makanan dan quotes motivasi nan menggelegar di Path; atau upload foto-foto kafe hits terbaru, foto traveling, dan plesiran di Instagram. I'm a social media(s) user too. Makanya ya jleb juga setelah nonton ini.

Dan scene yang menurutku sangat epic adalah saat Mr. Robot speech di area Times Square, yang tentunya bikin kangen New York City.


Is any of it real? I mean, look at this. Look at it! A world built on fantasy. Synthetic emotions in the form of pills. Psychological warfare in the form of advertising. Mind-altering chemicals in the form of... food! Brainwashing seminars in the form of media. Controlled isolated bubbles in the form of social networks. Real? You want to talk about reality? We haven't lived in anything remotely close to it since the turn of the century. We turned it off, took out the batteries, snacked on a bag of GMOs while we tossed the remnants in the ever-expanding Dumpster of the human condition. We live in branded houses trademarked by corporations built on bipolar numbers jumping up and down on digital displays, hypnotizing us into the biggest slumber mankind has ever seen. You have to dig pretty deep, kiddo, before you can find anything real. We live in a kingdom of bullshit. A kingdom you've lived in for far too long. So don't tell me about not being real. I'm no less real than the fucking beef patty in your Big Mac.
--Mr. Robot
Pedih tapi bener banget kan kata-kata si Mr. Robot di atas.

Oh, I really can't wait for the season two!

Minggu, 27 September 2015

Wisuda 112 Teknik Elektro ITS, It's a Brand New Day!

Hari ini tepat seminggu yang lalu adalah salah satu hari bersejarah bagiku, dan mungkin bagi satu angkatan. Akhirnya setelah empat tahun bergerilya kuliah di kampus perjuangan ITS Surabaya kampuse Keputih Sukolilo #maapmalahnyanyi, setelah melewati masa-masa menjadi mahasiswa baru, menjalani suka duka kuliah, tugas, praktikum, asistensi, ujian, dan terakhir yaitu Tugas Akhir, akhirnya nama lahir kami bertambah hurufnya dengan menyandang S.T., Sarjana Teknik. Lumayan rek, nanti nama kalian di undangan nikah jadi lebih keren.

Oke awalnya aku ingin menulis postingan yang lebih serius dan menyentuh gitudeh. Tentang apa makna menjadi seorang wisudawan, bagaimana tanggung jawab moral kita setelah ini, dan lain-lain. Tapi rasanya enggak asik banget di saat kita seharusnya merasa bahagia, malah dibikin galau. So let this post end up the way it is.

It's a new beginning for us. Saatnya memilih jalan hidup yang sebenarnya. Yang sedang dan mau melanjutkan sekolah di dalam atau di luar negeri, semangat rek kalian harapan bangsa. Yang masih kuliah, semuwangato rek, wisuda seru lho. Yang sudah dan sedang bekerja, duitnya ditabung yang bener buat bekal nikah. Yang sedang mencari kerja, semoga cepat dapat (aamiin yang kenceng). Yang sedang bingung menentukan jalan, jangan mudah lelah mencari, karena jalan hidup emang enggak ada di Google Maps. Untuk yang sedang mencari cinta, yaudah sama, jadi aku nggak bisa bilang apa-apa. #maapngomongsampah

Pokoknya ya teman-teman, bangga lho menjadi bagian dari angkatan ini. Terlalu banyak kenangan yang bisa dirangkum dalam satu tulisan.

Dari saat kita disambut setelah resmi menjadi warga Teknik Elektro ITS,


Hingga kita disambut sebagai wisudawan.



Dari jadi panitia SPS 104 dengan seragaman pakai baju-yang-kata-mbak-Vivin-mending-dibakar-aja


Hingga akhirnya sekarang bisa seragaman pakai toga dan foto lengkap ber-24 di SPS 112.


Tidak seperti SPS sebelumnya, kali ini diadakan acara "Wisudawan Party" juga. Isinya ya nggak jauh dari bakar-bakar, akustikan, nonton video yang isinya foto-foto lawas, menerbangkan lampion yang penuh dengan mimpi kita sampe saking beratnya itu mimpi, lampionnya susah terbang, lalu berakhir dengan ngobrol sana sini. Yah, jangan samakan dengan acara jurusan lain lah guys, yang penting kan kebersamaannya.



Lalu saat hari-H, acara yang dimulai sejak jam 8 pagi ini awalnya khidmat. Lalu karena lapar, bosen, atau ngantuk karena ke salon terlalu pagi, yaudah ada yang lanjut tidur, ngobrol, kipas-kipas, dan menghirup udara segar di luar graha sembari nungguin bagi-bagi ijazah kepada lebih dari 1000 wisudawan.


Pas akhirnya keluar graha, eh disambut kalimat seperti ini :(


Buat yang cewek, kami naik becak berdua-dua, sedangkan yang cowok naik truk dan pick-up.



Lalu ketika kami sampai di jurusan,






Dan dimulailah sesi perebutan backdrop untuk foto-foto. Bayangkan saja, satu wisudawan berfoto dengan orang tua, adek, pacar, temen TK, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman satu bidang studi, teman satu lab, teman satu organisasi. Lalu dikali dengan banyaknya jumlah wisudawan mulai dari S1, S2, dan lintas jalur. Bayangkan ramainya. Bayangkan.

Asisten Lab KE 2011-2012-2013. Banyak yang ilang nih tapinya.


Nah inilah foto satu angkatan yang aku sangat sangat di belakang sampe nggak keliatan. Bahkan heels 7 cm pun enggak memberikan efek apapun.


Sukses untuk semuamunya ya, dulur-dulurku!

Foto diambil dari dokumentasi pribadi dan Himatektro. For more photos, visit SPS 112 Himatektro.