Rabu, 15 Mei 2019

Finally I Made It To Turkey! (Part 2)

Hello again,
Izinkan saya melanjutkan cerita perjalanan ke Turki ini sebelum kelupaan.


Di hari keempat dan selanjutnya ini, akhirnya sudah mulai menuju ke kota. (Bukannya apa-apa ya, tetapi sudah sangat rindu makanan cepat saji saya tuh)

Hari 4 - Antalya - Pamukkale
Destinasi pertama kami hari itu adalah Duden WaterfallsNothing's special, sih. Duden Waterfalls ini adalah sekumpulan air terjun di tengah kota Antalya yang akan berakhir langsung ke Laut Mediterania.


Selanjutnya kami mengunjungi Old City Marina, sebuah kota tua yang masih dijaga dan ditata sedemikian rupa sehingga setiap sudutnya menjadi spot yang indah untuk berfoto. Rasanya akan sangat nyaman menghabiskan sore hari di deretan restoran dan kafe yang ada di sana kemudian berjalan kaki di sepanjang pelabuhan, with the right person. #eaaa #lhakokhalu.



Kota selanjutnya adalah Pamukkale, yang terkenal dengan Cotton Castle, yaitu situs alam berupa hamparan kolam bebatuan putih seperti kapas yang berasal dari endapan kalsium karbonat. Di dalam kolam tersebut mengalir air panas yang dipercaya baik untuk kesehatan.


Sayang sekali, ketika kami datang ke sana, Cotton Castle berubah menjadi hamparan cendol, alias banyak sekali pengunjung yang datang haha. Jadi setelah incip rasanya air panas di kolam, aku dan beberapa peserta menuju ke reruntuhan kota kuno Hierapolis yang masih dalam satu lokasi. Hierapolis termasuk situs yang sangat luas, yang paling menarik adalah teater Hierapolis dan kuil Apollo.


Kolam pemandian Cleopatra, katanya

Dari Hierapolis, beberapa peserta termasuk aku tentunya, menonton tari Sufi secara langsung dengan durasi total 45 menit, bayarnya 60 USD. Walau termasuk mahal, tetapi worth to watch untuk menyaksikan di sana langsung. Such a magic experience for me. Setelah tahu sejarah dan situs peninggalan ajaran Sufi, rasanya merinding ketika menyaksikannya secara langsung.

Hari 5 - Pamukkale - Kusadasi
Pagi itu Pamukkale cerah dan dari hotel aku melihat beberapa balon terbang. I'm so excited, I can't stop smiling that day! Kalau ditanya rasanya gimana? Panas euy haha. Untunglah aku ada di pinggir keranjang jadi tidak terlalu merasakan panasnya gas yang membuat balon tetap mengembang. Sungguh 45 menit yang... I can't even describe how gratefull I am on that day. Untuk naik hot air balloon, per orang membayar 230 USD. (nyesek sih, pake banget, tapi enggak nyesel)

Still can't stop smiling :"
Sekali lagi, itu berry juice, ya. Aku masih anak baik-baik, kok.

Tujuan berikutnya adalah Ephesus, another old city from Roman empire tetapi menurutku yang paling indah dari semua kota kuno yang kami kunjungi sebelumnya. You know, I really love Greek and Roman mitology, so it's kind of heaven for me. Ephesus sangat luas dan orang-orang mengibaratkannya sebagai Pompeii-nya Turki. Peninggalan yang masih bisa dikunjungi hingga saat ini adalah perpustakaan Celcus, Grand Theatre tempat para gladiator bertarung, Agora yang berupa jalanan dari batu marmer yang merupakan bekas pasar, Heracles Gate, House of Virgin Maria, Kuil Hadrian, Kuil Artemis, dan The Cave of Seven Sleepers, goa tempat cerita tujuh orang Ashabul Kahfi yang tertidur selama 300 tahun. Ya, walaupun kebenarannya masih menjadi perdebatan, sih.


Banyak gaya amat sih, Mil

Hari 6 - Kusadasi - Bursa - Istanbul
Hari itu kami lebih banyak berada di perjalanan. Siangnya, kami sampai di Bursa untuk mampir membeli beberapa oleh-oleh. Yang terkenal tentu saja Turkish delight. Sesampainya di Istanbul, senang rasanya setelah satu minggu terasa seperti di pedalaman, akhirnya melihat kota lagi! And of course, craving for fastfood! Ngeliat KFC dan McD setelah satu minggu makan nasi-sup-kebab itu surga sekali rasanya.

Hari 7 - Istanbul
It was Constantinopel~
Ada satu kesamaan Istanbul dengan Jakarta, yaitu sama-sama dalam daftar kota termacet di dunia. Belum lagi ditambah dengan kondisi Turki yang sedang high season. Tujuan pertama kami hari itu adalah Topkapi Palace, yang merupakan tempat tinggal resmi Sultan Ustmaniyah.



Di dalam komplek istana yang sedang mengalami renovasi di beberapa titik tersebut, tersimpan banyak peninggalan bersejarah bagi umat Islam seperti pedang dan jubah Rasulullah. Dari Topkapi, kami menuju ke Hagia Sophia. Bangunan ini awalnya merupakan sebuah gereja, kemudian menjadi masjid pada masa Utsmaniyah, dan sekarang menjadi museum yang terbuka untuk semua orang. Jika harus membuat list tempat terindah yang pernah kukunjungi, Hagia Sophia pastilah ada dalam daftar itu.



Ketika Dhuhur, kami mengunjungi Blue Mosque atau disebut juga dengan Masjid Sultan Ahmed dan menyempatkan sholat di sana. 

Sore harinya, kami menuju ke Grand Bazaar. Pasar ini terdiri dari 3000 toko yang menjual berbagai macam barang mulai dari makanan, pernak-pernik, karpet, perhiasan, baju, dan banyak lagi. Grand Bazaar memiliki sekitar 61 jalan yang berbeda jadi harus hati-hati sekali kalau enggak mau nyasar di tengah pasar.



Selain itu, berdasarkan pengalaman, kalau ketemu barang yang disuka langsung saja beli. Kalau mau jalan-jalan lagi untuk lihat harga di toko yang lain, biasanya sih enggak akan ketemu lagi tuh toko yang pertama didatangi. Satu hal lagi, harus pinter dan berani nawar. Indonesia sih ini ahlinya.

Hari 8 - (still) Istanbul
Akhirnya tibalah hari untuk menyaksikan tulip-tulip bermekaran yang sekaligus menjadi judul dari trip kali ini. Kami tiba di Emirgan Park pagi hari dan sudah ramai dong. Bunga tulip itu sendiri memang pada sejarahnya pertama kali dibudidayakan pada masa Kekaisaran Ottoman. Pada abad keenam belas, barulah bunga tulip masuk ke Belanda dan menjadi ikon negara itu. Someday nampaknya harus bisa Keukenhoft, biar bisa membandingkan, ya. Give me Aamiin, please.



Dari Emirgan Park kami menuju ke selat Bosporus untuk Bosphorus Cruise! Dari private boat, terlihat kota Istanbul di sisi Asia dan Eropa, beserta bangunan-bangunan megah yang menjadi daya tarik kota Istanbul.


Setelah itu barulah kami medapatkan free time dan dilepas di Taksim Square selama beberapa jam. Taksim Square berisi deretan pertokoan yang panjang dan sangat padat manusia dengan jalur tram di tengahnya. Tram merah yang terkenal itu, sesekali melintas dengan pelan dan memecah kepadatan pengunjung Taksim Square. Galata Minaret juga wajib didatangi ketika berada di area Taksim Square.



Perjalanan delapan hari melintasi berbagai kota dan provinsi di Turki berakhir malam itu. Saatnya kembali ke Indonesia dan cari cuan lagi untuk jalan-jalan lagi. Canda ding. Aku penganut ungkapan "pergi yang jauh agar tahu rasanya rindu rumah", so yeah, setelah delapan hari di negara orang, rasanya kangen juga dengan kasur di rumah, atau di kosan.

Merem, duh.
Satu lagi deh foto pas di bus ehehe

Satu hal yang diriku sendiri belum bisa percaya adalah untuk pertama kalinya bisa dan berani pergi ke suatu tempat yang baru sendirian untuk akhirnya bertemu dengan orang-orang baru dan melakukan hal yang baru pula.

Hot air balloon flight adalah impian sejak kecil, selalu kutulis di buku setiap buku catatan, tembok kosan, bahkan wallpaper komputer dari zaman sekolah sampai sudah bekerja dengan harapan semakin sering dilihat, maka kemungkinan untuk bisa dilakukan akan semakin besar. Yah, semacam doa dan semangat jika sedang merasa lelah agar ingat ada mimpi yang harus dicapai, ada tempat yang harus dikunjungi, ada pengalaman baru yang harus dirasakan.

I believe that every person has their own dreams, priorities, and timeline in life. So no need to put our standards to others. This one is mine, and I would never regret it.

One more thing crossed off my bucketlist! Looking forward for another!

Tesekkur Ederim!

Senin, 13 Mei 2019

Finally I Made It To Turkey! (Part I)

Apa yang terlintas di kepala ketika mendengar tentang Turki? Istanbul atau Konstantinopel? Hagia Sophia? Kekaisaran Ottoman? Mas-mas ganteng, tinggi, nan gagah a la serial TV "Cinta di Musim Cherry" dan "Elif"? Atau hot air ballon flight? Atau malah unggas khas Thanksgiving?

Ya kalau yang terakhir mah kebangetan.

Ternyata, yang ditawarkan negara Turki jauh lebih banyak dari sekadar destinasi yang kusebutkan di atas ataupun sereceh ingin melihat mas-mas Turki yang konon perawakannya seperti karakter pria di cerita-cerita romantis Wattpad. If you know what I mean hehe.


Sebagai pegawai kantoran yang menjalankan hak dan kewajiban dengan baik, maka sudah saatnya untuk mengambil hak cuti tahunan yang belum terpakai dalam enam bulan ini. Waktunya pas bulan April yang artinya sedang musim semi!. Not too cold, nor too hot. Pilihanku ada di sakura atau tulip, dua bunga kesayangan di mana yang satu adanya di Jepang dan satunya lagi di Turki. Lalu tidak sengaja meihat sebuah postingan di Instagram tentang group tour dari @kartupostrip dengan judul Turkey Tulip Season yang isinya delapan hari tur keliling Turki. Nah, di itinerarinya tercantum Cappadocia. It means... hot air ballon's flight! which is on my list-to-do-before-you-die number two. Yeay! 

Mestakung lah, ya.

Singkat cerita, akupun akhirnya mendaftar dan jujur tanpa pikir panjang. Itu pas daftar beneran deh nggak kepikiran gimana ntar di sana mengingat aku daftarnya sendirian dan nggak tahu apa-apa tentang Turki selain Istanbul dan Cappadocia. Sungguh tipikal Sagitarius.

Tanggal 19 April 2019, dua hari setelah pemilu, tiba saatnya berkemas dan berangkat ke Jakarta.  Setelah menyelesaikan tugas, mendelegasikan kerjaan, dan meminta izin ke berbagai pihak tentunya. Sengaja cuma bawa baju seperlunya karena enggak mau ribet mengingat masih harus naik kereta dulu dari Purwokerto. Berkemas beberapa jam sebelum berangkat dengan minim persiapan bahkan nggak kepikir bawa saus sambal atau food-enhanced lainnya karena percaya diri akan doyan makanan sana dan parahnya nih hanya membawa baju untuk persiapan musim semi saja. Di sepanjang perjalanan di kereta isinya overthinking, because hey it's my first time traveling with a bunch of stranger.

Tiba di bandara, akhirnya bertemu dengan tour leader kami, Mbak Amanda dari SORS Travel Services. Kemudian satu per satu peserta juga datang. Aku yang awalnya gugup, akhirnya merasa all is well. I'm with a bunch of good people. Dan akhirnya nih ketemu sama Kenny Santana, yang punya Kartupos Trip ini. Baik dan ramah banget ternyata seperti keseharian dia di media sosial.

Penerbangan ke Turki ditempuh dalam sekitar 14 jam dengan transit di Doha, Qatar. Perbedaan waktu Turki dan Indonesia hanya empat jam (Indonesia lebih cepat empat jam). Kami mendarat di bandara kecil di kota Adana, perbatasan Turki dengan Suriah dan disambut dengan local guide kami, Cansu. Cansu nih ya, fasih banget bahasa Indonesia formal ataupun bahasa keseharian. Orangnya asik banget. Sometimes I envy her for everything she did in her life. Semacam... kemana aja kamu, Mil. (I'm stuck in here, help!)

Okay, inilah cerita jelajah berbagai kota di Turki. Tidak hanya tentang Istanbul dan Cappadocia, Turki juga memiliki banyak kota di wilayah selatan yang di samping memiliki pemandangan menarik, juga memiliki cerita sejarah yang tidak boleh dilewatkan.

Hari 1 - Adana
Adana adalah kota keempat terbesar di Turki. Di kota pertama ini kami mengunjungi Tas Kopru Bridge yang berada di sungai Seyhan. Jembatan ini dahulu digunakan sebagai rute yang menghubungkan laut Mediterania. Di tengah jembatan, kita bisa meihat Sabanci Central Mosque, sebuah masjid megah yang memiliki enam pilar di bagian eksteriornya, di mana pada umumnya masjid hanya memiliki empat pilar.



Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menuju Cappadocia. Rute Adana-Cappadocia sungguh tak terduga. Dari sejuknya Adana, di tengah perjalanan berubah menjadi salju ringan, salju lebat, dan sesekali hujan es. Dari situ kami juga mendapatkan informasi bahwa balon untuk dua hari ke depan tidak akan bisa terbang. Sontak terdengar keluhan kekecewaan dari hampir semua peserta tur. Rasanya kayak ditinggal pergi sama yang lain pas lagi sayang-sayangnya. Ya ampun Mil, enggak nyambung.

Hari 2 - Cappadocia (Kayseri)
Cappadocia sebenarnya bukan nama kota ataupun provinsi, namun nama Cappadocia lebih dikenal karena merupakan daerah bersejarah. Salah satu provinsi di daerah Cappadocia adalah Kayseri yang menjadi tempat kami menginap.


Sampai di Cappadocia kami disambut hujan salju dan cuaca minus. Dataran unik Cappadocia disebut sebagai daerah pahatan batu terbesar di dunia, terbentuk oleh erosi batu vulkanik dari letusan gunung api purba yang menutupi wilayah tersebut dengan abu tebal dan kemudian mengeras menjadi batuan lembut yang disebut tuff. Batuan lembut inilah yang akhirnya oleh penduduk dipahat hingga menjadi gua untuk tempat tinggal, gereja, ataupun tempat persembunyian pada masanya.


Hamparan pahatan batu yang saat ini dijadikan tempat wisata karena sejarahnya adalah Goreme Open Air Museum. Museum terbuka ini berisi banyak goa-goa kecil yang dulunya adalah gereja maupun tempat tinggal penduduk. Salju di sini semakin tebal dan menurut Cansu, sangat aneh merasakan salju di Turki khususnya di Cappadocia di bulan April. So I can say that we are lucky! (Yha walaupun harus menggigil beberapa kali karena tidak ada persiapan outfit winter. Untung saja ada tangan kamu yang bisa digenggam biar hangat segelas kopi panas yang dalam sekejap jadi es kopi).


Alhasil, Goreme yang kulihat saat itu begitu berbeda dengan yang kubayangkan selama ini, justru lebih mirip Winterfell, minus keluarga Stark tentunya. But cold is not the obstacle to take photos, dong. Karena tidak bisa naik balon, akhirnya kami memilih opsi untuk naik jeep keliling daerah yang tidak bisa diakses bus. Lumayan lah, nyetirnya kek lagi offroad gitu. Bayarnya? 100 USD (agak nyesek).


Jernihkan pikiran agar tidak membayangkan yang tidak-tidak ya di foto ini

Selesai naik jeep, kami diberi segelas minuman. Bukan, ini bukan anggur merah yang selalu memabukkan diriku itu, tetapi ini berry juice yang rasanya lebih mirip Fanta.


Sebelum meninggalkan Cappadocia, kami mampir ke sebuah underground city yang menurutku tidak disarankan untuk pengidap claustrophobia. Alhamdulillah dengan ukuran saya ini, bisa keluar ruang bawah tanah dengan selamat.

Hari 3 - Konya & Antalya
Konya, The City of Rumi, adalah nama provinsi sekaligus nama ibukota yang masih berada di sisi selatan Turki, bukan nama bubuk gilingan kerupuk dan bawang pelengkap soto Cak Har, ya. Sampai di Konya, kami disambut dengan cuaca yang segar dan beberapa tulip terlihat bermekaran di berbagai sudut.



Kotanya tertata rapi, sangat bersih, dan terlihat konservatif. Disebut City of Rumi karena di sinilah jejak penyair Sufi, Maulana Jalaluddin Rumi bisa ditemukan dalam Mevlana Museum. Area museum ini terbagi menjadi beberapa ruangan seperti mesjid, madrasah, makam, dan ruangan tarian sufi. Di kota Konya inilah, Jalaluddin Rumi menyebarkan ajaran sufi sekaligus memperkenalkan tarian sufi.


Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke kota Antalya, kota yang menurutku sangat cantik. Di sana kami sempat mengunjungi Aspendos Theatre, sebuah amphitheatre yang dibangun pada zaman Yunani dan masih terawat hingga sekarang. Sedikit sejarah dari Aspendos adalah pada mulanya dibangun sebagai bentuk sayembara dari raja untuk memilih pria yang akan menjadi pasangan putrinya. Selain Aspendos, terdapat juga Aquaduct yang berfungsi untuk mengalirkan air dari pegunungan langsung ke penduduk.




Satu hal menarik di kota Antalya adalah hotel kami berada di pinggir laut, dengan sekelililngnya adalah pegunungan yang masih menyisakan salju di puncaknya. Seperti sedang melihat Mordor dari kejauhan, indaaaaah sekali. Antalya adalah pilihan lokasi orang-orang Turki untuk menghabiskan musim panas.


To be continued...

Rabu, 11 Juli 2018

What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions

Baru kali ini bisa ketawa-ketawa enggak jelas pas baca buku. Apalagi dari buku science begini. Randall Munroe is one smart dude that answers all your weird and wacky questions with real math and drawings of stick figures. Awesome as it sounds, right?



Randall Munroe sendiri dulunya bekerja di NASA, lalu banting setir dan menjadi seorang penulis sekaligus kartunis. Nih orang CV nya luwar biyasa sekali pasti. NASA coy ditinggalin gitu...
Jadi buku ini sebenarnya berisi dengan berbagai pertanyaan nyeleneh yang kadang nggak terpikir di kepala, tapi kalau ditanya juga bingung jawabnya. Contoh salah satu pertanyaannya begini nih:

"What would happen if everyone on Earth stood as close to each other as they could and jumped, everyone landing on the ground at the same instant?"

Atau pertanyaan macam ini...



Jawabannya bisa receh banget atau scientific banget. Dan Munroe menjelaskan jawabannya dengan simple, receh, tapi berdasarkan teori yang bisa dipertanggungjawabkan gitu.

Jadi, untuk yang sedang mencari bacaan ilmiah dengan kemasan yang ringan, this book is the answer.

Selasa, 19 Juni 2018

The End of The F***ing World, another Netflix Series to Binge Watch

"Netflix and chill" adalah definisi hiburan baru. Series atau film buatan Netflix sejauh ini belum ada yang mengecawakan untuk saya yang terkadang butuh hiburan berfaedah ini.



The End of The F***ing World adalah another original TV series Netlix yang sayang eh tayang pada 24 Oktober 2017. A budding teen psycopath and a rebel hungry for adventure embark on a star-crossed road trip in this darkly comic series based on a graphic novel. Sinopsis singkat yang cukup menjual hingga akhirnya aku memutuskan untuk nonton series ini. Cerita tentang James, remaja 17 tahun yang menganggap dirinya psikopat karena suka membunuh hewan dan Alyssa, cewek SMA yang cablak rebel dan selalu pasang muka resting-bitch-face ini dikemas dalam delapan episode dengan durasi tidak sampai 20 menit untuk setiap episode. Psikopat dan sosiopat, kebayang engga?



Mereka berdua ini tipe-tipe yang sudah lelah dengan dunia. James harus menyaksikan ibunya bunuh diri ketika masih kecil dan harus tinggal dengan ayahnya yang.. umm garing. Sedangkan Alyssa tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya yang engga peduli sama dia. Alyssa akhirnya ngajak James kabur sekaligus ingin mencari ayah kandungnya dan James yang ingin membunuh sesuatu yang lebih besar, merasa Alyssa adalah korban yang tepat.



Dalam rebellion trip mereka, masalah datang silih berganti. Seru melihat bagaimana mereka menyelesaikan tiap masalah yang kadang bikin geleng-geleng kepala. Masalah apa itu? And how they solve it? Go watch it, sobatku.



Apa yang kusuka dari series ini? Dasarnya aku memang doyan sekali dengan cerita remaja coming-of-age begini. Karena jujur, masa remaja sendiri yang sudah dilewati dulu terasa so so saja hahaha. Hal lainnya adalah dark comedy yang diselipkan di cerita. Pemeran James dan Alyssa juga oke sekali aktingnya dan lucu melihat interaksi mereka. Mata ini sangat dimanjakan dengan sinematografinya dan telinga juga dimanjakan dengan soundtrack yang sebenarnya akan lebih afdhol kalau dirilis dalam bentuk vinyl. Sebagaimana cerita coming-of-age lainnya, series ini tidak hanya menampilkan cerita lovey dovey dua remaja, namun juga menampilkan bagaimana kedua orang ini menyelesaikan masalah yang ada dalam proses menjelang dewasa. Sekaligus, memberi gambaran baru how people mean for each other sebagaimana James untuk Alyssa dan sebaliknya.

Minggu, 17 Juni 2018

Antologi Rasa

Never a fan of metropop-kind-of-book, tetapi selalu berpegang teguh dengan prinsip "read the book before the movie, if any".



Jadi ketika mbak Ika Natassa membuat banyak teaser film Antologi Rasa di akun Instagramnya, secara impulsif memutuskan untuk nyebrang ke Gramedia depan kantor buat nyari bukunya, sambil ngabuburit juga. Ehe. Termasuk telat sih ya, teman-teman sudah heboh buku ini sudah bertahun-tahun yang lalu, yang katanya bikin baper dan ceritanya relatable sekali.

Antologi Rasa diawali (ngga di awal aja ding, di sepanjang buku juga) dengan begitu banyak trivia, yang mohon maaf nih, seakan ingin membuktikan penulis risetnya banyak. Tentang F1, barang-barang branded, referensi buku dan film, John Coltrane, bahkan ada setengah halaman berisi lagu-lagu mas ganteng John Mayer. Kalau sekali dua kali engga apa-apa ya, lah ini repetitif. Antologi Rasa adalah buku pertama Ika Natassa yang aku baca. Dulu pas Critical Eleven langsung nonton filmnya dan ketika rampung dengan Antologi Rasa, jadi kepikiran kok tokoh dan karakternya setipe begini ya. Tingkat ekonomi kelas atas, penggambaran tokoh yang cantik dan ganteng tak bercela kek model majalah, namun sayangnya dengan karakter yang terlalu self-centered. Kayak bingung gitu, ini film, buku, musik, makanan kesukaan tokohnya atau malah penulisnya (?)

Sedikit petunjuk, buku ini bercerita tentang persahabatan bagai kepompong yang dibumbui dengan kisah cinta banyak segi. Keara, cewek dengan karakter hedon suka party, pinter, lulusan Stern GPA 3,5 (mbak-mbak sempurna bukan?), barangnya mahal semua, suka sama temannya yang namanya Rully, cowok penyuka sepakbola yang kalem tapi sukanya sama Denisse, another girl from the group yang cantik kalem sudah bersuami dan sedang berjuang untuk keutuhan rumah tangganya (hahaha bahasaku). Satu lagi, Harris, badboy playboy yang paling dekat dan sudah dianggap sahabat banget sama Keara padahal Harris cinta mati sama Keara. Mereka semua kerja di tempat yang sama, sebuah Bank Internasional dengan gaji selangit. Classic, huh?

Bagian awal sebenarnya oke lho. Rasanya jleb malahan. Serasa ingin bilang "I feel you" ke setiap karakter #malahcurhat. Tetapi, semakin dibaca semakin engga paham mau dibawa kemana hubungan kita cerita ini. Endingnya? Meh. But still, it's an interesting book. Beberapa kalimat bisa jadi caption yang bagus di Instagram #halah dan banyak dari referensi yang dipakai adalah kesukaanku juga. Apalagi aku beli yang versi ilustrated edition yang dilengkapi banyak sketch cantik untuk menggambarkan cerita. A good choice for beach read, sih.



Tapi ini preferensi pribadi sih ya. Mungkin karena engga biasa baca metropop jadi tidak terlalu ngena dengan model cerita begini, despite all the good reviews from my friends. One thing for sure, just because you don't like the story, doesn't mean you don't like the author too. Maybe the story is just not my cup of tea. Tetap akan penasaran dengan tulisan mbak Ika lainnya dan tetap secara diam-diam mengagumi si Harris!

Oya, tetap akan menunggu filmnya juga walaupun ada satu hal yang kutakutkan. Takut pada latah pengen nonton night race F1 dan konser John Mayer. Tolong lah ya jangan dinodai dua bucketlist saya yang belum tersampaikan itu :")

Sabtu, 31 Maret 2018

Homecoming

Kaget, ternyata terakhir menulis di blog hampir 1,5 tahun yang lalu. Sure, lot of things happened. Kalau dikulik satu per satu nih, dari postingan terakhir kan masih dalam masa prajabatan ya, nah sekarang alhamdulillah sudah jadi pegawai resmi ada SK nya. Ahay~.

Singkat cerita, aku mendapat penempatan di Distribusi Jawa Tengah dan DIY. Dengan gambling penempatan di seluruh Indoneisa, bersyukur banget masih dapet di Jawa. Ekspektasi awal sih, bakal di Semarang, Solo, atau kalo beruntung ya dapet Jogja. Eh, tak disangka-sangka dapetnya Area Purwokerto. Bingung yakan itu di mana. Mau naik apa ke sana, ada bioskop apa enggak, ada Indomaret apa enggak #lebay. Namun singkat cerita lagi, alhamdulillah bertemu dengan orang-orang baik banyak sekali.

Mulai dari anak kosan gang mas cilik yang bikin gamau cari kosan lain,




Orang-orang bidang jaringan yang ketemunya hampir tiap hari,


Seksi Opdis yang diambil satu per satu sekarang dari foto ini tiggal dua....



Lalu ada adek-adek magang juga sampai tiga bulan ke depan,


Sering muncul pertanyaan "Sudah betah di sana, Mil?" akupun bingung mau jawab gimana. Yang jelas betah apa nggak, suka atau nggak, it's part of life. Jika 2017 kemarin benar-benar menjadi tahun adaptasi, maka sekarang 2018 mulai banyak pengennya lagi. Dan salah satu resolusi tahun 2018 adalah rajin nulis. Yuhuuu semoga tak hanya jadi wacana.