Rabu, 11 Juli 2018

What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions

Baru kali ini bisa ketawa-ketawa enggak jelas pas baca buku. Apalagi dari buku science begini. Randall Munroe is one smart dude that answers all your weird and wacky questions with real math and drawings of stick figures. Awesome as it sounds, right?



Randall Munroe sendiri dulunya bekerja di NASA, lalu banting setir dan menjadi seorang penulis sekaligus kartunis. Nih orang CV nya luwar biyasa sekali pasti. NASA coy ditinggalin gitu...
Jadi buku ini sebenarnya berisi dengan berbagai pertanyaan nyeleneh yang kadang nggak terpikir di kepala, tapi kalau ditanya juga bingung jawabnya. Contoh salah satu pertanyaannya begini nih:

"What would happen if everyone on Earth stood as close to each other as they could and jumped, everyone landing on the ground at the same instant?"

Atau pertanyaan macam ini...



Jawabannya bisa receh banget atau scientific banget. Dan Munroe menjelaskan jawabannya dengan simple, receh, tapi berdasarkan teori yang bisa dipertanggungjawabkan gitu.

Jadi, untuk yang sedang mencari bacaan ilmiah dengan kemasan yang ringan, this book is the answer.

Selasa, 19 Juni 2018

The End of The F***ing World, another Netflix Series to Binge Watch

"Netflix and chill" adalah definisi hiburan baru. Series atau film buatan Netflix sejauh ini belum ada yang mengecawakan untuk saya yang terkadang butuh hiburan berfaedah ini.



The End of The F***ing World adalah another original TV series Netlix yang sayang eh tayang pada 24 Oktober 2017. A budding teen psycopath and a rebel hungry for adventure embark on a star-crossed road trip in this darkly comic series based on a graphic novel. Sinopsis singkat yang cukup menjual hingga akhirnya aku memutuskan untuk nonton series ini. Cerita tentang James, remaja 17 tahun yang menganggap dirinya psikopat karena suka membunuh hewan dan Alyssa, cewek SMA yang cablak rebel dan selalu pasang muka resting-bitch-face ini dikemas dalam delapan episode dengan durasi tidak sampai 20 menit untuk setiap episode. Psikopat dan sosiopat, kebayang engga?



Mereka berdua ini tipe-tipe yang sudah lelah dengan dunia. James harus menyaksikan ibunya bunuh diri ketika masih kecil dan harus tinggal dengan ayahnya yang.. umm garing. Sedangkan Alyssa tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya yang engga peduli sama dia. Alyssa akhirnya ngajak James kabur sekaligus ingin mencari ayah kandungnya dan James yang ingin membunuh sesuatu yang lebih besar, merasa Alyssa adalah korban yang tepat.



Dalam rebellion trip mereka, masalah datang silih berganti. Seru melihat bagaimana mereka menyelesaikan tiap masalah yang kadang bikin geleng-geleng kepala. Masalah apa itu? And how they solve it? Go watch it, sobatku.



Apa yang kusuka dari series ini? Dasarnya aku memang doyan sekali dengan cerita remaja coming-of-age begini. Karena jujur, masa remaja sendiri yang sudah dilewati dulu terasa so so saja hahaha. Hal lainnya adalah dark comedy yang diselipkan di cerita. Pemeran James dan Alyssa juga oke sekali aktingnya dan lucu melihat interaksi mereka. Mata ini sangat dimanjakan dengan sinematografinya dan telinga juga dimanjakan dengan soundtrack yang sebenarnya akan lebih afdhol kalau dirilis dalam bentuk vinyl. Sebagaimana cerita coming-of-age lainnya, series ini tidak hanya menampilkan cerita lovey dovey dua remaja, namun juga menampilkan bagaimana kedua orang ini menyelesaikan masalah yang ada dalam proses menjelang dewasa. Sekaligus, memberi gambaran baru how people mean for each other sebagaimana James untuk Alyssa dan sebaliknya.

Minggu, 17 Juni 2018

Antologi Rasa

Never a fan of metropop-kind-of-book, tetapi selalu berpegang teguh dengan prinsip "read the book before the movie, if any".



Jadi ketika mbak Ika Natassa membuat banyak teaser film Antologi Rasa di akun Instagramnya, secara impulsif memutuskan untuk nyebrang ke Gramedia depan kantor buat nyari bukunya, sambil ngabuburit juga. Ehe. Termasuk telat sih ya, teman-teman sudah heboh buku ini sudah bertahun-tahun yang lalu, yang katanya bikin baper dan ceritanya relatable sekali.

Antologi Rasa diawali (ngga di awal aja ding, di sepanjang buku juga) dengan begitu banyak trivia, yang mohon maaf nih, seakan ingin membuktikan penulis risetnya banyak. Tentang F1, barang-barang branded, referensi buku dan film, John Coltrane, bahkan ada setengah halaman berisi lagu-lagu mas ganteng John Mayer. Kalau sekali dua kali engga apa-apa ya, lah ini repetitif. Antologi Rasa adalah buku pertama Ika Natassa yang aku baca. Dulu pas Critical Eleven langsung nonton filmnya dan ketika rampung dengan Antologi Rasa, jadi kepikiran kok tokoh dan karakternya setipe begini ya. Tingkat ekonomi kelas atas, penggambaran tokoh yang cantik dan ganteng tak bercela kek model majalah, namun sayangnya dengan karakter yang terlalu self-centered. Kayak bingung gitu, ini film, buku, musik, makanan kesukaan tokohnya atau malah penulisnya (?)

Sedikit petunjuk, buku ini bercerita tentang persahabatan bagai kepompong yang dibumbui dengan kisah cinta banyak segi. Keara, cewek dengan karakter hedon suka party, pinter, lulusan Stern GPA 3,5 (mbak-mbak sempurna bukan?), barangnya mahal semua, suka sama temannya yang namanya Rully, cowok penyuka sepakbola yang kalem tapi sukanya sama Denisse, another girl from the group yang cantik kalem sudah bersuami dan sedang berjuang untuk keutuhan rumah tangganya (hahaha bahasaku). Satu lagi, Harris, badboy playboy yang paling dekat dan sudah dianggap sahabat banget sama Keara padahal Harris cinta mati sama Keara. Mereka semua kerja di tempat yang sama, sebuah Bank Internasional dengan gaji selangit. Classic, huh?

Bagian awal sebenarnya oke lho. Rasanya jleb malahan. Serasa ingin bilang "I feel you" ke setiap karakter #malahcurhat. Tetapi, semakin dibaca semakin engga paham mau dibawa kemana hubungan kita cerita ini. Endingnya? Meh. But still, it's an interesting book. Beberapa kalimat bisa jadi caption yang bagus di Instagram #halah dan banyak dari referensi yang dipakai adalah kesukaanku juga. Apalagi aku beli yang versi ilustrated edition yang dilengkapi banyak sketch cantik untuk menggambarkan cerita. A good choice for beach read, sih.



Tapi ini preferensi pribadi sih ya. Mungkin karena engga biasa baca metropop jadi tidak terlalu ngena dengan model cerita begini, despite all the good reviews from my friends. One thing for sure, just because you don't like the story, doesn't mean you don't like the author too. Maybe the story is just not my cup of tea. Tetap akan penasaran dengan tulisan mbak Ika lainnya dan tetap secara diam-diam mengagumi si Harris!

Oya, tetap akan menunggu filmnya juga walaupun ada satu hal yang kutakutkan. Takut pada latah pengen nonton night race F1 dan konser John Mayer. Tolong lah ya jangan dinodai dua bucketlist saya yang belum tersampaikan itu :")

Sabtu, 31 Maret 2018

Homecoming

Kaget, ternyata terakhir menulis di blog hampir 1,5 tahun yang lalu. Sure, lot of things happened. Kalau dikulik satu per satu nih, dari postingan terakhir kan masih dalam masa prajabatan ya, nah sekarang alhamdulillah sudah jadi pegawai resmi ada SK nya. Ahay~.

Singkat cerita, aku mendapat penempatan di Distribusi Jawa Tengah dan DIY. Dengan gambling penempatan di seluruh Indoneisa, bersyukur banget masih dapet di Jawa. Ekspektasi awal sih, bakal di Semarang, Solo, atau kalo beruntung ya dapet Jogja. Eh, tak disangka-sangka dapetnya Area Purwokerto. Bingung yakan itu di mana. Mau naik apa ke sana, ada bioskop apa enggak, ada Indomaret apa enggak #lebay. Namun singkat cerita lagi, alhamdulillah bertemu dengan orang-orang baik banyak sekali.

Mulai dari anak kosan gang mas cilik yang bikin gamau cari kosan lain,




Orang-orang bidang jaringan yang ketemunya hampir tiap hari,


Seksi Opdis yang diambil satu per satu sekarang dari foto ini tiggal dua....



Lalu ada adek-adek magang juga sampai tiga bulan ke depan,


Sering muncul pertanyaan "Sudah betah di sana, Mil?" akupun bingung mau jawab gimana. Yang jelas betah apa nggak, suka atau nggak, it's part of life. Jika 2017 kemarin benar-benar menjadi tahun adaptasi, maka sekarang 2018 mulai banyak pengennya lagi. Dan salah satu resolusi tahun 2018 adalah rajin nulis. Yuhuuu semoga tak hanya jadi wacana.